Gelombang Penjualan Besar-Besaran oleh Investor Asing Goyang BEI: Apa Artinya bagi BBCA, BUMI, dan Sektor-Sektor Lain?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 13 February 2026

1. Ringkasan Kejadian Utama

Item Nilai / Persentase Keterangan
Net sell asing seluruh pasar (13 Feb 2026) Rp 2,02 triliun Penjualan bersih terbesar dalam satu hari pada 2026.
Akumulasi net sell tahun 2026 Rp 16,4 triliun Menandakan tekanan jual yang terus berlanjut sejak awal tahun.
Saham paling terjual BBCA – Rp 1,3 triliun Sekitar 65 % dari total net sell hari itu.
Saham kedua paling terjual BUMI – Rp 233,2 miliar Konsentrasi pada sektor keuangan & pertambangan.
Net buy asing terbesar UNTR – Rp 68,4 miliar Terlihat marginal dibandingkan penjualan.
IHSG (penutupan) 8 212,2 (‑0,64 % / ‑53,08 poin) 282 saham menguat, 429 turun, 247 stagnan.
Volume transaksi Rp 23,6 triliun Masih tinggi meski indeks turun.
Sektor terkuat Transportasi +1,6 % Diikuti energi (+1,3 %), konsumen primer (+0,9 %).
Sektor terlemah Infrastruktur ‑1,2 %, Bahan baku ‑1,0 %, Kesehatan ‑0,9 %, Keuangan ‑0,6 % Menunjukkan sensitivitas terhadap aliran modal luar.
5 saham “Top Cuan” +24 % – 25 % dalam satu hari BELL, ROCK, TRUK, INDS, BAIK.
5 saham “Terpuruk” ‑10 % – 15 % dalam satu hari IFSH, SOTS, HILL, LAPD, YPAS.

2. Analisis Penyebab Penjualan Besar‑Besaran

Faktor Penjelasan
Kondisi Pasar Global - Risiko geopolitik di Eropa & Asia (ketegangan Ukraina‑Rusia, ketidakpastian zona Indo‑Pasifik).
- Kebijakan moneter AS yang masih hawkish (suku bunga Fed >5 % dan sinyal pengetatan lebih lanjut).
- Pergerakan nilai tukar: Rupiah melemah terhadap USD sehingga aset berbasis rupiah menjadi lebih mahal bagi investor asing.
Kebijakan Domestik - Perpanjangan program stimulus yang belum jelas dampaknya, menurunkan kepercayaan akan pertumbuhan jangka pendek.
- Regulasi sektor keuangan (misalnya persyaratan likuiditas tambahan bagi bank) dapat memicu rebalancing portofolio.
Fundamental Perusahaan - BBCA: Meskipun fundamental kuat, valuasi sudah premium dan margin yang diproyeksikan menurun akibat penurunan kredit mikro di tengah inflasi.
- BUMI: Harga komoditas tembaga & batu bara berada di level rendah, di samping tekanan biaya energi yang tinggi, membuat prospek jangka pendek kurang menarik bagi foreign fund.
Technical Trigger - Level support kritis pada BBCA (Rp 8.700) dan BUMI (Rp 1.800) terobos, memicu stop‑loss otomatis pada akun algoritmis.
Rotasi Aset - Investor asing mengalihkan dana ke aset safe‑haven (emas, obligasi pemerintah AS) dan pasar berkembang lain (Vietnam, Filipina) yang menampilkan pertumbuhan PDB lebih cepat dan kebijakan moneter yang lebih longgar.

3. Dampak terhadap Sektor‑Sektor BEI

Sektor Dampak Hari ini Outlook 3‑6 Bulan
Keuangan - Penurunan 0,6 % (net sell BBCA) menurunkan sentimen.
- Likuiditas pasar dapat terganggu jika penjualan berlanjut.
- Stabil selama suku bunga tetap tinggi dan NPL masih terkendali.
- Peluang: Bank yang memiliki eksposur rendah ke sektor properti dan memiliki digitalisasi layanan.
Pertambangan & Energi - BUMI turun 1,0 %; sektor energi turun 1,3 % meski harga komoditas stabil. - Positif bila harga tembaga & batubara rebound (permintaan China & India).
- Negatif bila kebijakan transisi energi global mempercepat penurunan permintaan batu bara.
Infrastruktur - Terendah –1,2 % (pengaruh penjualan obligasi infrastruktur oleh luar negeri). - Jangka menengah masih mengandalkan belanja pemerintah; tetapi ketergantungan pada dana luar negeri harus dipantau.
Transportasi +1,6 % (saham UNTR net buy). - Optimis karena permintaan logistik domestik masih kuat dan ribuan proyek infrastruktur pemerintah.
Konsumen Primer +0,9 %; relatif tahan terhadap arus modal asing. - Stabil selama inflasi dapat dikendalikan dan daya beli konsumen tidak menurun drastis.
Teknologi & Properti Kedua sektor turun 0,6 % dan 0,2 % masing‑masing. - Teknologi: Masih tertekan karena valuasi tinggi & kebutuhan cash‑flow.
- Properti: Dukung oleh kebijakan REIT dan sumber pembiayaan domestik, namun sensitif pada pergerakan suku bunga.

4. Apa yang Patut Dilakukan Investor Ritel di Indonesia?

Langkah Alasan / Penjelasan
1. Diversifikasi Portofolio Mengurangi eksposur tunggal ke BBCA atau BUMI. Kombinasikan saham sektor defensif (konsumen primer, utilitas) dengan sekuritas yang lebih “growth” (transportasi, energi bersih).
2. Fokus pada Valuasi Pilih perusahaan dengan price‑to‑earnings (P/E) di bawah rata‑rata sektor, cash‑flow stabil, dan rasio debt‑to‑equity yang moderat. Contoh: PT Indofood CBP (ICBP) atau PT Unilever Indonesia (UNVR).
3. Manfaatkan “Top Cuan” dengan Hati‑hati Saham BELL, ROCK, TRUK, INDS, BAIK menunjukkan kenaikan 24‑25 % dalam satu hari – indikasi momentum trading yang rapuh. Jika ingin masuk, lakukan dengan position sizing kecil (≤5 % portofolio) dan stop‑loss ketat (mis. 5‑7 %).
4. Pantau Sentimen Makro Ikuti kalender rilis data penting: inflasi CPI, keputusan Fed, data PMI Indonesia, serta perkembangan kebijakan moneter BI. Lonjakan volatilitas biasanya bertepatan dengan rilis data tersebut.
5. Pertimbangkan Instrumen Alternatif - Obligasi Korporasi dengan rating tinggi (AAA‑AA) untuk menghasilkan yield lebih stabil.
- Reksa Dana yang dikelola aktif dapat menyesuaikan alokasi secara cepat terhadap aliran modal asing.
6. Lindungi Risiko Valuta Bagi yang memiliki eksposur ke aset berdenominasi USD (mis. deposito asing, obligasi luar negeri), gunakan forward contract atau currency‑linked ETF untuk mengurangi dampak depresiasi Rupiah.

5. Prediksi Pergerakan IHSG dalam 1‑3 Bulan ke Depan

Skenario Probabilitas Keterangan
A. Stabil / Slight Recovery 45 % Jika data inflasi menunjukkan penurunan (≤3,5 % YoY) dan Fed mengumumkan “pause” pada tightening, arus masuk kembali, terutama ke sektor keuangan dan konsumen. IHSG dapat bergerak ke kisaran 8 350‑8 500.
B. Penurunan Lanjutan 35 % Bila nilai tukar Rupiah melemah >2 % dalam sebulan, dan harga komoditas tembaga/ batu bara tetap rendah, investor asing dapat memperbesar net sell. IHSG berpotensi turun ke 7 950‑8 100.
C. Volatilitas Tinggi / Sideways 20 % Kombinasi antara aksi jual asing yang sporadis dengan data domestik yang beragam (ekspor yang kuat vs konsumsi domestik yang lemah).

Catatan: Volume perdagangan yang tetap tinggi (≥Rp 20 triliun) memberi sinyal likuiditas yang cukup untuk trading jangka pendek, namun tidak menjamin arah pasar.


6. Kesimpulan Utama

  1. Aksi jual bersih asing pada 13 Feb 2026 menandai penurunan sentimen global terhadap aset berbasis rupiah, dengan BBCA menjadi “korban utama” sebab likuiditasnya tinggi dan posisi market‑cap terbesar.
  2. Sektor transportasi & energi menunjukkan ketahanan relatif, sementara keuangan, infrastruktur, dan bahan baku berisiko lebih tinggi terhadap aliran modal luar.
  3. Peluang jangka pendek terletak pada saham momentum tinggi (BELL, ROCK, dsb.) namun mengharuskan discipline stop‑loss yang ketat.
  4. Investor ritel sebaiknya memperkuat diversifikasi, menitikberatkan pada valuasi fundamental, dan tetap mengikuti indikator makro (inflasi, suku bunga Fed, nilai tukar).
  5. Proyeksi IHSG mengarah pada rentang 8 100‑8 500 dalam tiga bulan ke depan, dengan potensi penurunan lebih lanjut bila tekanan makro‑global tidak mereda.

Langkah paling bijak saat pasar sedang “dipukul” oleh aliran modal asing adalah mengendalikan risiko, memperkuat pondasi portofolio, dan menunggu momen pembalikan yang didukung oleh data fundamental yang solid.


Semoga analisis ini membantu Anda menilai situasi pasar saat ini dan merumuskan strategi investasi yang lebih terinformasi.