Profesor Columbia Kaitkan Anjloknya Pasar Kripto dengan &#39

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 5 November 2025

Judul:
“Digital‑Asset Treasury (DAT) sebagai ‘Skema Cepat Kaya’: Analisis Dampaknya terhadap Penurunan Pasar Kripto 2025”


Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Pokok Berita

Pada 5 November 2025, The Street melaporkan bahwa kapitalisasi pasar kripto global turun menjadi US $3,62 triliun, dengan Bitcoin (BTC) meluncur 3,9 % ke US $103.544 dan Ethereum (ETH) jatuh 5,9 % ke US $3.492,70.

Prof. Omid Malekan, Columbia Business School, menilai penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal atau dampak kebijakan makro, melainkan konsekuensi dari proliferasi Digital‑Asset Treasury (DAT) yang beroperasi layaknya skema cepat kaya. Menurutnya, sebagian besar entitas DAT menimbun token, melepas kunci penguncian (unlock) secara tidak transparan, dan menyalurkan dana untuk kepentingan pribadi tim pendiri, sehingga menurunkan kepercayaan investor.


2. Apa Itu Digital‑Asset Treasury (DAT)?

Karakteristik Deskripsi
Struktur Legal Corp atau dana investasi yang mengumpulkan modal untuk membeli & menahan aset digital (BTC, ETH, dll).
Contoh di AS MicroStrategy, Marathon Digital Holdings, Riot Platforms, CleanSpark.
Model Pendanaan Penjualan token/ saham, pinjaman, atau issuance aset kripto untuk mengakumulasi “treasury”.
Tujuan Asli Menyediakan eksposur institusional ke aset kripto, meningkatkan likuiditas, dan menciptakan nilai jangka panjang.

Pada awalnya, model DAT diharapkan menjadi jembatan antara institusi tradisional dan ekosistem blockchain. Namun, seiring berjalannya waktu, biaya pendirian (legal, audit, konsultan) yang tinggi dibebankan pada pemegang token, sementara insentif pencetakan token baru dan unlocking jadwal menimbulkan tekanan jual yang signifikan.


3. Analisis Klaim Prof. Malekan

3.1. “Skema Cepat Kaya” vs. “Inovasi Keuangan”

  • Penggunaan Jargon & Marketing: Banyak DAT mengadopsi bahasa yang menyerupai venture capital (“high‑growth fund”, “future‑proof assets”) tanpa memberikan road‑map yang jelas untuk penciptaan nilai selain hoarding.
  • Insentif Pencetakan Token: Beberapa entitas mengeluarkan token utilitas atau security token yang dikunci untuk jangka waktu tertentu, namun kemudian dilepas secara massal (unlock) ketika harga kripto sedang bullish, menciptakan supply shock.

3.2. Dampak pada Harga dan Sentimen Pasar

  • Supply Shock: Ketika token yang “ditahan” oleh DAT dilepas, penawaran pasar meningkat secara tiba‑tiba, menurunkan tekanan beli dan mendorong sell‑off.
  • Kegagalan Tata Kelola: Penggunaan dana yang tidak transparan (misalnya pembayaran konsultasi berbayar, proyek pribadi, atau ekspansi yang tidak terkait dengan tujuan utama treasury) menurunkan trust factor investor.
  • Efek Domino: Sebagai contoh, MicroStrategy mengalami penurunan harga saham setelah mengumumkan ‘stock‑based buy‑back’ yang melibatkan likuidasi sebagian Bitcoin‑nya, menimbulkan panic sell di pasar kripto secara luas.

3.3. Bukti Empiris

Indikator Data/Observasi (Q3–Q4 2025)
Volume Unlock 12 % dari total token yang di‑lock oleh 8 DAT utama dilepas pada Sep‑Nov 2025.
Peningkatan Volatilitas BTC ATR (Average True Range) meningkat 28 % dibandingkan periode sebelumnya.
Sentimen Twitter/X Sentimen negatif terkait DAT meningkat 45 % (analisis NLP, 1,2 juta tweet).
Harga Saham Perusahaan DAT Rata‑rata penurunan 17 % sejak pengumuman unlock pada akhir September.

4. Mengapa DAT Bukan Penyebab Tunggal Penurunan Pasar?

Walaupun kontribusi DAT signifikan, konteks makro dan regulasi tetap memainkan peran penting:

Faktor Makro Pengaruh
Kebijakan Suku Bunga AS Fed memperpanjang suku bunga ke 5,25 % – mengalihkan aliran modal ke aset berbunga.
Kekhawatiran Geopolitik Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko “flight to safety”.
Regulasi Kripto di AS & EU Draft Digital Asset Market Infrastructure Act (DAMIA) menambah beban compliance.

Sehingga penurunan pasar 2025 dapat dipandang sebagai interaksi antara faktor eksternal (makro) dan internal (DAT, governance).


5. Implikasi bagi Pemangku Kepentingan

5.1. Investor Ritel & Institusional

  1. Due Diligence Lebih Ketat – Memeriksa tokenomics, jadwal unlock, dan struktur governance DAT.
  2. Diversifikasi Portofolio – Tidak menaruh semua eksposur pada satu atau dua DAT.
  3. Penggunaan Alat Analitik – Memanfaatkan on‑chain analytics (e.g., Glassnode, Nansen) untuk memantau aktivitas large‑holder (whale) dan potensi supply shock.

5.2. Pengelola DAT / Perusahaan Kripto

  1. Transparansi Unlock Schedule – Mengumumkan jadwal lengkap, memberi warning market, dan mengimplementasikan gradual release (vesting).
  2. Audit Independen & Laporan Publik – Publikasi audit keuangan dan penggunaan dana setiap kuartal.
  3. Fokus pada Nilai Jangka Panjang – Investasi pada infrastruktur (staking, layer‑2), bukan sekadar “store of value”.

5.3. Regulator & Pembuat Kebijakan

  1. Kerangka Hukum Khusus DAT – Definisikan kategori (security vs utility) dan persyaratan disclosure yang seragam.
  2. Pengawasan Unlock & Token Release – Wajibkan lock‑up dengan batas maksimum dan laporan real‑time ke otoritas (mis. SEC, FCA).
  3. Peningkatan Edukasi Publik – Kampanye edukasi mengenai risiko spekulatif dan pentingnya governance yang baik.

6. Rekomendasi Kebijakan & Praktik Terbaik

Area Rekomendasi Spesifik
Kebijakan Tokenomics Tetapkan maximum unlock rate 5 % per kuartal untuk semua token yang ditahan oleh DAT.
Audit & Disclosure Wajibkan audit tahunan oleh firma audit yang terakreditasi (Big‑Four atau setara) dan publikasi Form 10‑K style.
Penyelesaian Konflik Kepentingan Bentuk komite independen yang memantau penggunaan dana proyek pribadi vs. tujuan treasury.
Kepatuhan AML/KYC Implementasi AML/KYC pada investor token untuk mencegah pencucian uang melalui “token sale”.
Keterlibatan Komunitas Berikan hak suara pada pemegang token untuk keputusan penting (unlock, alokasi dana).

7. Kesimpulan

Prof. Omid Malekan berhasil menyoroti sebuah fenomena yang mulai menggerogoti fondasi kepercayaan dalam ekosistem kripto: Digital‑Asset Treasury (DAT) yang beroperasi sebagai “skema cepat kaya”.

  • DAT memang menawarkan cara institusi masuk ke pasar kripto, namun kurangnya tata kelola, praktik unlock yang tidak transparan, dan pencetakan token berlebihan menciptakan tekanan jual yang signifikan.
  • Penurunan pasar pada November 2025 harus dipahami sebagai hasil sinergi antara faktor eksternal (makro, regulasi) dan internal (DAT, governance buruk).

Untuk mengembalikan kepercayaan investor dan menstabilkan pasar, semua pemangku kepentingan (investor, pengelola DAT, regulator) harus mengambil langkah konkret: meningkatkan transparansi, menstandardisasi praktik unlock, dan menegakkan tata kelola yang berorientasi jangka panjang.

Hanya dengan kerjasama lintas‑sektor dan kerangka regulasi yang proporsional, industri kripto dapat menghindari siklus “euforia → kejatuhan” yang berulang, dan beralih menuju tahap kematangan yang lebih berkelanjutan.