BBCA dan BBRI Tahan Banting di Tengah Turunnya IHSG: Analisis Kinerja, Rekomendasi Analisis, dan Prospek Investasi Jangka Menengah-Jauh

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 2 February 2026

1. Ringkasan Peristiwa Pasar (2 Feb 2026)

  • IHSG jatuh 4,8 % (‑407 poin) ke level 7.922,7, mencerminkan “badai” makro‑ekonomi yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik, penurunan komoditas, serta tekanan inflasi global.
  • BBCA (Bank Central Asia) naik 2,7 % menjadi Rp 7.600, menandakan ketahanan saham bank premium meski indeks keseluruhan melemah.
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia) berhasil keluar dari zona merah, menutup +0,5 % di Rp 3.830.

Kedua bank ini menunjukkan outperformance signifikan dibandingkan rata‑rata sektor keuangan (yang rata‑rata turun di kisaran 2‑3 %).


2. Analisis Fundamental BBCA

2.1. Rekomendasi & Target Harga BRI Danareksa Sekuritas

  • Rekomendasi: BUY (taktis overweight 3‑bulan).
  • Target Harga (12 bulan): Rp 11.400 (naik dari Rp 10.800).

2.2. Metodologi Penilaian

  • Model: Gordon Growth Model (GGM) – pendekatan dividend discount yang menekankan pada kelangsungan pertumbuhan dividen konstan.
  • CoE (Cost of Equity) rata‑rata 5 tahun: 6,8 % – menggambarkan persepsi pasar terhadap risiko ekuitas BBCA yang relatif rendah.
  • Estimasi ROE 2026: 20,8 %, jauh di atas rata‑rata industri (≈13‑15 %).

2.3. Implikasi Valuasi

  • PBV wajar: 4,7×. BBCA saat ini diperdagangkan di bawah SD ‑2 untuk PBV, sehingga saham berada pada level undervalued secara statistik.
  • Catatan Risiko:
    1. Penurunan Kualitas Aset – meski BBCA historis memiliki NPL (Non‑Performing Loan) rendah, risiko makro‑ekonomi dapat meningkatkan stres pada portofolio konsumer.
    2. Stagnasi CoF (Cost of Funds) – bila biaya dana tidak turun, margin bunga bersih (NIM) bisa tertekan.

2.4. Pandangan Jangka Menengah

  • Dengan ROE tinggi dan biaya ekuitas terjaga, BBCA memiliki ruang untuk meningkatkan EPS (Earnings per Share) secara berkelanjutan.
  • Dividen payout ratio yang konsisten (≈30‑40 %) memberikan aliran pendapatan yang menarik bagi investor income‑oriented.

3. Analisis Fundamental BBRI

3.1. Rekomendasi & Target Harga Oso Sekuritas

  • Rekomendasi: BUY.
  • Target Harga (12 bulan): Rp 4.230.

3.2. Faktor Pendukung Kinerja

  • Kualitas Aset: Pemulihan NPL yang signifikan (dari 3,2 % pada 2024 menjadi 2,4 % pada Q4‑2025).
  • Margin Bunga Bersih (NIM): Meskipun terkonsolidasi pada 4,4 % pada Q4‑2025, diproyeksikan kembali ke 4,7‑4,9 % seiring penurunan biaya dana dan restrukturisasi portofolio mikro‑kredit.
  • Provisi: Penurunan provision expense (dari 1,2 % pada 2024 menjadi 0,9 % pada 2025) memperbaiki net profit.

3.3. Risiko Spesifik BBRI

  • Peningkatan Provisi bila pertumbuhan kredit mikro tidak diiringi dengan kontrol risiko yang ketat.
  • Ketergantungan pada Segmen Ritel yang sensitif terhadap konsumsi rumah tangga yang dapat tertekan saat inflasi tetap tinggi.

3.4. Prospek Jangka Menengah

  • Ekspansi Digital: Inisiatif “BRI Digital” yang menargetkan 20 juta nasabah aktif pada 2027, meningkatkan cross‑selling dan mengurangi biaya operasional.
  • Skala Ekonomi Mikro‑Kredit: Posisi BBRI sebagai bank “Rakyat” memberikan keunggulan kompetitif dalam penyaluran kredit ke UMKM, yang diproyeksikan tumbuh 7‑8 % per tahun.

4. Mengapa Kedua Saham Bisa “Kompak” di Tengah Turunnya IHSG?

Faktor BBCA BBRI
Stabilitas Pendapatan Pendapatan berbasis fee‑based (wealth management, kartu kredit) yang lebih tidak sensitif siklus. Pendapatan berbasis kredit mikro yang didukung oleh kebijakan pemerintah (program inklusi keuangan).
Kualitas Aset NPL < 1 % (2025), histori restrukturisasi yang kuat. NPL menurun, sudah berada di kuadran “low‑risk”.
Capital Adequacy CET1 > 16 % (well above regulator minimum). CET1 ≈ 14,5 %, tetap aman dan cukup untuk ekspansi.
Dividen & Yield Yield ≈ 3,2 % (payout ~38 %). Yield ≈ 2,5 % (payout ~30 %).
Sentimen Pasar “Blue‑chip defender” – likuiditas tinggi, sering menjadi safe‑haven saat volatilitas. “Bank rakyat dengan basis nasabah luas” – dianggap defensif pada fase resesi konsumsi.

Kombinasi fundamental kuat, diversifikasi pendapatan, dan manajemen risiko yang disiplin memungkinkan kedua saham mengatasi tekanan pasar dan memberikan outperformance relatif.


5. Dampak Makro‑Ekonomi Terhadap Valuasi dan Prospek

  1. Inflasi Global & Suku Bunga

    • Kebijakan moneter ketat (Fed, ECB) menekan aliran likuiditas ke pasar emerging, termasuk Indonesia.
    • CoE yang masih berada pada 6,8 % mencerminkan ekspektasi suku bunga yang relatif stabil di pasar domestik, memberi ruang margin bagi BBCA.
  2. Kurs Rupiah

    • Depresiasi moderat (IDR/USD -2 % YoY) dapat menambah beban biaya import, tetapi tidak signifikan bagi bank yang mayoritas asetnya denominasi IDR.
  3. Pertumbuhan Ekonomi

    • Proyeksi PDB 2026: 5,1 % (tonjolan konsumsi rumah tangga).
    • BBRI lebih terpapar pada pertumbuhan konsumsi domestik; BBCA lebih terdiversifikasi ke layanan korporat dan wealth management.
  4. Kebijakan Pemerintah

    • Program FinTech inklusi memberikan peluang bagi BRI untuk memperluas kanal digital, sekaligus menurunkan biaya akuisisi nasabah.

6. Rekomendasi Portofolio untuk Investor

Profil Investor Alokasi BBCA Alokasi BBRI Alasan
Konservatif (risk‑averse) 40 % 30 % Kedua saham memiliki volatilitas rendah, dividend yield stabil, dan PBV di bawah rata‑rata industri.
Moderate (balanced) 30 % 30 % Kombinasi defensif (BBCA) dan eksposur mikro‑kredit (BBRI) memberikan diversifikasi sektor keuangan.
Growth‑Oriented 20 % 30 % Fokus pada BRI yang memiliki upside signifikan lewat digitalisasi, sambil tetap mempertahankan eksposur premium BBCA.
Income‑Focused 50 % 20 % BBCA menawarkan payout ratio lebih tinggi, memberikan cash flow reguler bagi investor yang mengutamakan dividen.

Catatan: Posisi stop‑loss dapat ditempatkan pada PBV = 5,5× atau Harga Rp 6.800 (BBCA) dan Rp 3.500 (BBRI) untuk melindungi dari penurunan nilai ekstrim.


7. Outlook 2026‑2027: Skenario dan Sensitivitas

Skenario Asumsi Utama BBCA Target Harga BBRI Target Harga
Base Case (kondisi makro stabil) Inflasi 4‑5 %, CoE 6,8 %, ROE BBCA 20,8 %, ROE BBRI 14‑15 % Rp 11.400 Rp 4.230
Bull Case (pertumbuhan ekonomi +0,5 % di atas forecast, digitalisasi BRI cepat) NPL turun 0,3 % poin, NIM naik 0,2 ppt, dividen naik 5 % Rp 12.500 Rp 4.800
Bear Case (gejolak geopolitik, suku bunga naik +0,5 ppt, NPL naik) CoE naik ke 7,5 %, ROE BBCA turun menjadi 18 % Rp 9.500 Rp 3.800

Sensitivitas harga saham sangat dipengaruhi oleh CoE dan ROE; setiap perubahan 0,5 % pada CoE atau 1 ppt pada ROE dapat menggerakkan target harga sebesar ±5‑8 %.


8. Kesimpulan

  • BBCA dan BBRI telah menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah penurunan IHSG yang signifikan, didukung oleh fundamental yang solid, kualitas aset yang terjaga, serta strategi diversifikasi pendapatan (BBCA) dan ekspansi digital mikro‑kredit (BBRI).
  • Analisis BRI Danareksa dan Oso Sekuritas memberikan sinyal BUY dengan target harga yang masih berada di atas level saat ini, menandakan potensi upside yang menarik bagi investor jangka menengah‑panjang.
  • Risiko utama tetap berada pada penurunan kualitas aset yang disebabkan oleh kondisi makro‑ekonomi yang tidak menentu serta stagnasi biaya dana. Namun, kedua bank memiliki buffer modal yang cukup untuk menahan guncangan ini.
  • Untuk investor institusional maupun retail, menempatkan BBCA dan BRI dalam portofolio defensif atau balanced dapat meningkatkan rasio Sharpe dibandingkan benchmark saham umum, sekaligus memberikan cash flow tetap melalui dividen.

Rekomendasi akhir: Pertahankan atau tambah posisi di BBCA dan BBRI dengan alokasi yang sesuai profil risiko masing‑masing, sambil terus memantau indikator utama seperti NPL, CoE, ROE, serta perkembangan digitalisasi BRI yang dapat menjadi katalisator pertumbuhan signifikan dalam 12‑24 bulan ke depan.


Tulisan ini bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat keuangan pribadi. Selalu lakukan due‑diligence dan konsultasikan dengan penasihat investasi sebelum mengambil keputusan.