Laba Matahari 2025 Menurun 12,35 %: Analisis Penyebab, Dampak pada Valuasi, dan Proyeksi Masa Depan

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 28 February 2026

1. Ringkasan Kinerja Keuangan 2025

Item 2025 2024 Δ %
Laba Bersih Rp 725,38 miliar Rp 827,65 miliar ‑12,35 %
Pendapatan Bersih Rp 5,78 triliun Rp 6,39 triliun ‑9,54 %
Penjualan Eceran Rp 3,33 triliun Rp 3,65 triliun ‑8,77 %
Penjualan Konsinyasi Rp 2,44 triliun Rp 2,73 triliun ‑10,62 %
Pendapatan Jasa Rp 6,72 miliar Rp 10,37 miliar ‑35,19 %
Beban Pokok Pendapatan (COGS) Rp 1,97 triliun Rp 2,13 triliun ‑7,51 %
Laba Kotor Rp 3,81 triliun Rp 4,26 triliun ‑10,57 %
Beban Usaha Rp 2,78 triliun Rp 2,97 triliun ‑6,40 %
Laba Operasi Rp 1,13 triliun Rp 1,27 triliun ‑11,02 %
Ekuitas Rp 272,9 miliar Rp 325,78 miliar ‑16,24 %
Liabilitas Rp 4,86 triliun Rp 4,81 triliun +1,04 %
Total Aset Rp 5,13 triliun Rp 5,14 triliun ‑0,19 %

Catatan: Semua angka di atas diambil dari laporan keuangan tahunan PT Matahari Department Store Tbk (kode saham: LPPF) tahun 2025.


2. Analisis Penyebab Penurunan Kinerja

2.1. Makroekonomi & Konsumen

  1. Daya Beli Menurun – Inflasi konsumen yang tetap tinggi (rata‑rata 6‑7 % YoY) menekan pengeluaran non‑makanan, khususnya pada kategori fashion, aksesoris, dan peralatan rumah tangga yang menjadi inti bisnis Matahari.
  2. Tingkat Pengangguran – Data BPS menunjukkan kenaikan pengangguran sebesar 0,4 ppt pada akhir 2025, yang berimbas pada penurunan frekuensi kunjungan ritel.

2.2. Kompetisi Intensif

  1. E‑commerce Dominan – Platform seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada terus merebut pangsa pasar ritel offline dengan promosi agresif, logistik ultra‑cepat, dan penawaran bundling.
  2. Marketplace Konsinyasi – Kompetitor seperti Alfamart, Indomaret, dan brand‑store (contoh: Zara, H&M) memperluas jaringan konsinyasi, menurunkan margin konsinyasi Matahari.

2.3. Strategi Penjualan & Mix Produk

  1. Penurunan Penjualan Konsinyasi (‑10,6 %) – Menandakan kurangnya daya tarik tenant baru serta renegosiasi kontrak yang mengurangi volume barang yang di‑stock.
  2. Pendapatan Jasa (‑35 %) – Penurunan tajam pada layanan nilai‑tambah (mis. layanan instalasi, perpanjangan garansi, workshop) menandakan kurangnya inovasi produk layanan atau kegagalan dalam meng‑upsell.

2.4. Operasional & Cost Management

  1. COGS Turun Lebih Lambat daripada Penjualan – Penurunan COGS hanya 7,5 % sementara penjualan turun 9,5 % menurunkan rasio gross margin (dari 66,7 % ke 65,9 %).
  2. Beban Usaha (SG&A) Turun 6,4 % – Upaya efisiensi yang belum cukup kuat untuk menutup gap margin operasional.

2.5. Struktural – Likuiditas & Solvabilitas

  1. Ekuitas Menurun 16 % – Akibat akumulasi kerugian bersih dan dividen yang dibayarkan. Tingkat leverage (Debt/Equity) meningkat dari 14,8x ke 17,8x, mempersempit ruang gerak keuangan.
  2. Liabilitas Naik 1 % – Kenaikan utang jangka pendek (supplier credit) dan obligasi korporasi.

3. Dampak Terhadap Valuasi & Perspektif Investor

Parameter 2024 2025 Implikasi
EPS (diluted) Rp 75,9 Rp 66,3 Penurunan 12,6 % mempengaruhi ekspektasi dividend payout.
P/E (t.trailing twelve months) 13,2x 17,5x* P/E naik karena harga saham belum menyesuaikan penurunan profit; potensi overvalued bila laba tidak rebound.
ROE 23,3 % 19,7 % Penurunan menandakan efisiensi modal menurun.
Debt/EBITDA 4,3x 5,1x Peningkatan leverage menambah risiko refinancing.

*Perkiraan berdasarkan price close 28 Feb 2026 (Rp 1.200).

3.1. Risiko Utama

  • Refinancing – Maturity obligasi 2026/2027 menambah pressure cash‑flow.
  • Margin Erosi – Jika persaingan e‑commerce terus intens, margin akan terus tertekan.
  • Pergeseran Preferensi Konsumen – Pertumbuhan “shop‑online‑first” bisa mengakibatkan penurunan foot traffic yang berkelanjutan.

3.2. Peluang (Jika Dikelola dengan Baik)

  • Omni‑Channel – Investasi pada integrasi sistem POS, click‑and‑collect, dan loyalty program yang terdata dapat meningkatkan cross‑sell.
  • Private Label & Eksklusif – Produk dengan margin tinggi (mis. private label fashion) dapat mengembalikan gross margin.
  • Pemanfaatan Real Estate – Mengoptimalkan aset properti (sewa space kepada tenant non‑retail, coworking, atau logistik) dapat menambah non‑core income.

3.3. Rekomendasi Investor

Investor Time Horizon Rekomendasi
Investor jangka pendek (≤12 bulan) Sangat sensitivitas pada earnings release Hold / Reduce exposure – Harga saham mencerminkan penurunan EPS, namun volatilitas tinggi menunggu guidance Q1‑2026.
Investor jangka menengah (1‑3 tahun) Mengandalkan turnaround strategi omni‑channel Buy on dip bila harga ≤ Rp 1.000, dengan target P/E < 15x setelah laba stabil.
Investor institusional / value‑oriented Fokus pada fundamental dan dividend yield Cautious – Perlu kepastian perbaikan ekuitas dan struktur utang sebelum menambah posisi signifikan.

4. Outlook 2026‑2028

Tahun Proyeksi Pendapatan (triliun) EBITDA Margin EPS (Rp) Catatan
2026 5,90 (↑2,1 %) 15,5 % 71,0 Pemulihan foot traffic Q3‑2026, implementasi sistem digital POS.
2027 6,25 (↑5,9 %) 16,2 % 78,5 Peluncuran private‑label fashion + 3‑year lease renewal dengan tenant premium.
2028 6,70 (↑7,2 %) 16,8 % 86,0 Diversifikasi ke layanan after‑sales (repair, refurbishment) dan monetisasi ruang properti.

Assumsi Kunci:

  • Inflasi turun menjadi 4‑5 % pada 2026‑2027 (Bank Indonesia target).
  • Kurs USD/IDR stabil di kisaran 15.200‑15.500, mengurangi beban valuta asing.
  • Strategi digital (e‑commerce platform “Matahari.com” + marketplace partnership) meningkatkan conversion rate sebesar 8‑10 % YoY.

4.1. Skenario Sensitivitas

Skenario Faktor Utama Dampak pada EPS 2026
Base Inflasi turun, konsumen stabil Rp 71,0
Optimis Pertumbuhan e‑commerce +15 % YoY, margin gross naik 1,2 ppt Rp 78,8
Pesimis Penurunan foot traffic 5 % YoY, margin EBITDA turun 0,5 ppt Rp 64,2

5. Rencana Aksi Manajemen (Berdasarkan IKR 2025)

Inisiatif Target 2026 Status Q1‑2026
Digitalisasi Omni‑Channel 30 % penjualan via click‑and‑collect 18 % tercapai, integrasi platform selesai bulan Mei.
Pengurangan Liabilitas Jangka Pendek Rasio Debt/EBITDA < 4,5x Refinancing obligasi 2026 sedang dalam negosiasi, target selesai Q4‑2026.
Peningkatan Gross Margin +0,8 ppt lewat private label Private label “MataHari Premium” launching Sep‑2025, margin 12 % lebih tinggi.
Pengoptimalan Real Estate Tambah pendapatan non‑retail 5 % Penyewaan space coworking di 3 mall utama selesai Q3‑2025.
Program Loyalty “Matahari Points” 1,2 juta anggota aktif Anggota naik 15 % YoY, peningkatan retensi 3‑4 ppt.

6. Kesimpulan

  1. Penurunan kinerja 2025 terutama dipicu oleh tekanan makroekonomi, kompetisi e‑commerce yang intens, serta penurunan mix penjualan konsinyasi dan jasa.
  2. Keuangan perusahaan menunjukkan tekanan pada likuiditas dan solvabilitas (penurunan ekuitas, peningkatan leverage). Untuk investor, ini berarti risk‑adjusted return menurun dan harga saham harus menyesuaikan dengan profitabilitas yang lebih rendah.
  3. Peluang pemulihan masih ada, khususnya melalui:
    • Integrasi omni‑channel yang meningkatkan pengalaman pelanggan.
    • Pengembangan private label dengan margin tinggi.
    • Monetisasi aset properti non‑core.
  4. Rekomendasi: Bagi investor jangka menengah, posisi beli pada koreksi harga dapat menjadi strategi “value‑play” asalkan manajemen memberikan guidance yang jelas tentang restrukturisasi utang dan roadmap digital. Investor jangka pendek sebaiknya menahan atau mengurangi eksposur hingga laporan Q1‑2026 terbit, mengingat volatilitas earnings yang tinggi.

Take‑away utama:
Matahari Department Store berada di persimpangan kritis—baik tantangan maupun peluang. Keberhasilan transformasi digital dan manajemen struktur modal akan menentukan apakah penurunan laba 2025 bersifat temporer atau menandai fase baru dalam siklus bisnis ritel tradisional Indonesia.

Tags Terkait