IHSG Berpotensi Menembus 8.500: Analisis Fundamental & Teknis serta Rekomendasi Saham Pilihan untuk Selasa, 24 Feb 2026
1. Pendahuluan
Pada perdagangan Senin (23 Feb 2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,5 % menutup pada level 8.396. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi faktor makro‑ekonomi (pembatalan tarif resiprokal AS‑Indonesia, prospek tarif global baru, serta kebijakan MSCI), sentimen pasar global, serta sinyal teknikal yang masih bullish.
Phintraco Sekuritas menegaskan peluang lanjutan penguatan IHSG ke zona 8.450‑8.500 bila indeks dapat bertahan di atas 8.400. Di samping itu, mereka memberikan rekomendasi saham BBRI, BRPT, UNVR, ESSA, dan TINS untuk trading pada Selasa (24 Feb 2026).
Artikel ini akan mengurai secara mendalam:
- Kondisi makro‑ekonomi – peristiwa tarif AS, perjanjian dagang Indonesia‑AS, riset MSCI, data Money Supply M2, dan nilai tukar Rupiah.
- Analisis teknikal IHSG – MACD, Stochastic RSI, moving average, volume, serta level support/resistance yang relevan.
- Risk‑Reward – skenario best‑case, base‑case, dan worst‑case bagi IHSG.
- Rasional di balik rekomendasi saham – fundamental, valuasi, tren sektoral, serta titik masuk/keluar yang disarankan.
- Strategi trading – posisi long, stop‑loss, target profit, serta cara melindungi portofolio di tengah ketidakpastian tarif global.
2. Analisis Makro‑ekonomi
2.1. Tariff War Amerika – “Trump‑Era” yang Kembali Mengguncang
- Pembatalan tarif resiprokal oleh Mahkamah Agung AS menghilangkan beban bea masuk pada barang‑barang Indonesia, meningkatkan ekspektasi impor ke AS dan memperbaiki persepsi risiko geopolitik.
- Pengumuman tarif global 10‑15 % oleh Presiden Trump menimbulkan risk‑off di pasar global, terutama pada sektor yang sangat bergantung pada rantai pasok lintas‑batas (teknologi, otomotif, barang konsumsi).
- Implikasi untuk Indonesia: Jika tarif global diberlakukan secara luas, eksportir Indonesia yang mengandalkan pasar Eropa atau Asia dapat mengalami tekanan margin. Namun, batalnya tarif AS‑Indonesia memberi “buffer” sementara, memperpanjang periode rally domestik.
2.2. Perjanjian Dagang Indonesia‑AS
- Perjanjian yang baru disepakati pekan lalu mencakup tarif 19 %—lebih tinggi daripada tarif yang sempat dibatalkan.
- Investor mengharapkan pembatalan atau renegosiasi perjanjian tersebut, sehingga ekspektasi “tarif ringan” tetap menguat.
- Dampak jangka pendek: Sentimen positif pada saham-saham yang berorientasi ekspor ke AS (mis. barang konsumer, farmasi, agribisnis).
2.3. MSCI & Inklusi BEI
- Persetujuan proposal MSCI mengindikasikan potensi masuknya alokasi dana asing pasif ke BEI (sekitar 4‑5 % alokasi global untuk emerging market).
- Historis, masuknya dana MSCI meningkatkan likuiditas, menurunkan cost of capital, dan memperkuat valuasi relatif saham large‑cap Indonesia (BBRI, UNVR, TLKM, dll.).
2.4. Money Supply M2 & Rupiah
| Bulan | M2 YoY | Pertumbuhan | Catatan |
|---|---|---|---|
| Des 2025 | 9,6 % | - | Penurunan kebijakan moneter |
| Jan 2026 | 10 % | Akselerasi | Likuiditas tinggi, potensi inflasi jangka pendek |
- Rupiah menguat ke 16.802 per USD – pencapaian terkuat sejak Q4 2024, mencerminkan aliran modal masuk dan ekspektasi kebijakan moneter yang tetap dovish.
- Implikasi: Rupiah kuat menekan profit margin perusahaan yang melakukan impor, tetapi mendukung daya beli konsumen domestik (positif untuk sektor konsumer).
2.5. Outlook Global
- China & Jepang libur (Golden Week) – mengurangi volatilitas Asia Timur pada sesi tersebut.
- Eropa & Wall Street mengalami tekanan (tarif global, data inflasi AS) – berarti aliran “safe‑haven” masih terfragmentasi, memberi ruang bagi pasar emerging untuk menempel pada sentimen risiko yang lebih moderat.
3. Analisis Teknikal IHSG
| Indikator | Kondisi Terbaru (23 Feb) | Interpretasi |
|---|---|---|
| MA20 | IHSG berada di atas MA20 | Trend jangka pendek bullish |
| MA50 | Harga di atas MA50 | Dukungan sekunder, trend menengah bullish |
| MA200 | Harga mendekati MA200 (≈ 8.200) | Level kunci‑kunci, jika menembus naik memberikan sinyal jangka panjang |
| MACD (12,26,9) | Histogram memperluas positif, garis MACD di atas sinyal | Momentum naik kuat |
| Stochastic RSI (14,14,3,3) | Di zona overbought (≈ 0.85) | Potensi koreksi singkat, tapi belum mengindikasikan pembalikan kuat |
| Volume | Volume beli meningkat 28 % dibanding rata‑rata 5‑hari | Partisipasi luas, dukungan fundamental |
3.1. Level Support & Resistance
| Level | Keterangan |
|---|---|
| 8.300 | Support kuat MA20 + zona “psychological” |
| 8.350 | Support minor; zona Fibonacci 38,2 % retracement dari swing low 8.200 ke high 8.500 |
| 8.400 | Resistance teknis; break di atas menguatkan potensi ke 8.450‑8.500 |
| 8.450‑8.500 | Target bullish; area resistance sebelumnya (Feb 2025) dan zona Fibonacci 61,8 % |
| 8.600 | Resistance jangka menengah; memerlukan breakout berskala volume tinggi |
3.2. Skenario Pergerakan
| Skenario | Kriteria | Target |
|---|---|---|
| Best‑Case | Close > 8.420, MA20 tetap di atas, volume beli > 1,5× rata‑rata 5‑hari | IHSG menguji 8.500 dalam 2‑3 sesi |
| Base‑Case | Harga berfluktuasi di antara 8.350‑8.420, Stochastic RSI kembali ke 0,7 | IHSG stabil, berkonsolidasi di zona 8.350‑8.420 selama 1‑2 minggu |
| Worst‑Case | Penutupan < 8.300, MACD berbalik menjadi negatif, volume jual meningkat > 30 % | IHSG turun ke 8.200‑8.150 (level MA200) dalam 3‑5 hari |
4. Rekomendasi Saham – Analisis Fundamental & Valuasi
| Ticker | Sektor | Alasan Rekomendasi | Valuasi (PER) | Target Harga (1‑2 wk) | Stop‑Loss |
|---|---|---|---|---|---|
| BBRI (Bank BRI) | Keuangan – Bank Retail | Dominasi di segmen mikro‑kredit, eksposur kuat ke konsumen domestik, manfaat rupiah kuat, prospek pendapatan bunga bersih (NIM) naik karena spread yang lebar. | 8,2× (FF) | 2.530 (≈ +7 %) | 2.300 |
| BRPT (Barito Pacific) | Energi & Pertambangan | Portofolio energi terdiversifikasi (pembangkit listrik, migas), manfaat tarif listrik yang stabil, eksposur ke infrastruktur transportasi. | 11,5× | 2.880 (≈ +6 %) | 2.600 |
| UNVR (Unilever Indonesia) | Consumer Goods | Brand kuat, margin stabil, ekspektasi kenaikan konsumsi domestik berkat rupiah kuat, dividend yield 3,2 % menarik bagi investor income. | 18,9× | 7.150 (≈ +5 %) | 6.800 |
| ESSA (Elnusa) | Energi – Jasa Migas | Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi dalam negeri, kontrak JAO (Joint Operating Agreement) yang mengunci pendapatan, outlook harga minyak dunia masih netral‑positif. | 5,8× | 850 (≈ +8 %) | 750 |
| TINS (Timah) | Material – Logam | Permintaan industri elektronik global moderat‑tinggi, cadangan tin Indonesia tetap terbesar, harga tin cenderung naik pada tekanan supply chain. | 9,1× | 6.250 (≈ +7 %) | 5.800 |
Catatan penting:
- Semua rekomendasi trading (bukan investment long term), sehingga posisi diharapkan ditutup dalam 1‑2 minggu atau ketika target tercapai, dengan stop‑loss ketat untuk melindungi modal.
- Volume likuiditas pada saham-saham tersebut berada di atas rata‑rata BEI, meminimalkan slippage.
5. Strategi Trading Selasa, 24 Feb 2026
-
Posisi Long pada IHSG Futures (Jakarta)
- Entry: Jika indeks membuka di atas 8.410 dan MA20 masih berada di bawah harga.
- Target: 8.460‑8.500 (saat MA20 memantul).
- Stop‑Loss: 8.360 (di bawah 8.350 support).
-
Portfolio Stock Picks
- Entry Timing: Ambil posisi pada early session (09:15‑09:45 WIB) setelah volatilitas pre‑market mereda.
- Sizing: Alokasikan maksimum 5 % portofolio per tiket untuk menjaga diversifikasi.
- Trailing Stop: Jika harga bergerak lebih dari 3 % ke arah target, gunakan trailing stop 1,5 % untuk melindungi profit.
-
Manajemen Risiko Makro
- Jika tarif global Trump diumumkan secara resmi (misal di sesi US open), pertimbangkan partial profit‑taking atau hedging dengan kontrak indeks futures bearish (mis: IDX Mini).
- Jika data inflasi AS atau Eurozone menguat mengindikasikan kebijakan moneter ketat, waspadai penurunan aliran dana ke emerging market – siapkan stop‑loss lebih ketat pada level support teknikal.
6. Kesimpulan
- IHSG masih berada dalam fase bullish jangka pendek, didorong oleh kombinasi faktor fundamental (tarif Amerika yang dibatalkan, prospek MSCI, rupiah kuat) dan teknikal (MACD positif, MA20 mendukung).
- Level kunci yang harus dipantau: 8.400 (breakout), 8.450‑8.500 (target bullish) serta 8.300 (support kritis).
- Rekomendasi saham (BBRI, BRPT, UNVR, ESSA, TINS) dipilih karena fundamental solid, valuasi menarik, serta eksposur positif terhadap tema‑tema yang menggerakkan pasar Indonesia (konsumer domestik, energi terdiversifikasi, logam strategis).
- Strategi trading yang konservatif namun tetap agresif: gunakan entry dekat support teknikal, target profit realistis (5‑8 %), dan stop‑loss ketat untuk melindungi terhadap volatilitas tarif global yang masih belum pasti.
Jika IHSG dapat menutup di atas 8.420 dengan volume beli yang kuat, peluang untuk menguji zona 8.500 dalam minggu depan cukup tinggi. Sebaliknya, penurunan di bawah 8.300 dapat memicu koreksi ke 8.200‑8.150, memperingatkan investor untuk menyesuaikan eksposur.
Kata Penutup:
Kita berada pada “momen persimpangan” antara optimisme domestik (MSCI, rupiah, kebijakan fiskal) dan ketidakpastian eksternal (tarif global AS). Pendekatan yang seimbang – memperhatikan data makro, menjaga disiplin teknikal, dan menyesuaikan exposure saham dengan profil risiko – akan menjadi kunci untuk memanfaatkan peluang di pasar saham Indonesia pada 24 Feb 2026 ke depan.
Catatan: Analisis ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi yang mengikat. Selalu lakukan due‑diligence pribadi atau konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan trading.