Harga Minyak Turun Tajam: Dampak Prospek Pasokan Berlebih, Penurunan Permintaan Global, dan Meredanya Ketegangan Geopolitik

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 13 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Situasi Pasar

Pada perdagangan Kamis 12 Februari 2026, harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing‑masing turun 2,71 % dan 2,77 %, menutup pada US$ 67,52/barel dan US$ 62,84/barel. Penurunan ini dipicu tiga faktor utama:

  1. Proyeksi permintaan yang lebih lemah dari International Energy Agency (IEA).
  2. Ekspektasi surplus pasokan global yang semakin jelas.
  3. Reduksi kekhawatiran geopolitik—terutama setelah sinyal diplomasi antara AS dan Iran serta pernyataan Netanyahu tentang upaya penyelesaian konflik nuklir.

Data tambahan dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan peningkatan persediaan minyak mentah AS sebesar 8,5 juta barel (total 428,8 juta barel), jauh di atas ekspektasi pasar (≈ 0,8 juta barel). Pada saat yang sama, utilisasi kilang turun 1,1 poin persentase menjadi 89,4 %, menandakan penurunan aktivitas pengolahan.

Secara bersamaan, ekspor produk minyak olahan Rusia mengalami kenaikan kecil (0,7 %) pada Januari, menambah tekanan pasokan di pasar internasional.


2. Analisis Faktor‑faktor Penentu Harga

a. Prospek Permintaan Global yang Lebih Lambat

  • IEA memproyeksikan pertumbuhan permintaan minyak 2026 sebesar 1,2 %‑1,4 %, lebih rendah daripada perkiraan sebelumnya (≈ 1,8 %).
  • Faktor utama: pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat, terutama di kawasan Asia (China, India) yang tengah beralih ke energi terbarukan dan mengurangi subsidi bahan bakar fosil.
  • Kebijakan energi hijau (EU Green Deal, “Fit‑for‑55”, dan kebijakan de‑karbonisasi AS) semakin mempersempit ruang konsumsi minyak di sektor transportasi dan industri.

b. Kelebihan Pasokan Global

  • Produksi OPEC+ tetap stabil pada level 31‑32 juta barel per hari, dengan Saudi Arabia dan Rusia mempertahankan kuota yang telah disepakati.
  • Kenaikan produksi non‑OPEC (AS, Kanada, Brazil) yang masih berada pada level tinggi, memicu “oversupply” yang diperkirakan akan berlanjut hingga akhir 2026.
  • Stok minyak mentah AS kini berada pada level tertinggi dalam 7‑8 bulan terakhir, menandakan permintaan domestik yang tidak cukup kuat untuk menyerap penawaran.

c. Reduksi Ketegangan Geopolitik

  • Isu AS‑Iran: Pada awal sesi, spekulasi tentang konflik militer mengangkat harga secara sementara. Namun, pernyataan resmi bahwa Presiden Biden (catatan: artikel menyebut Donald Trump, tetapi konteks 2026 mengasumsikan Biden atau Presiden lain) sedang menengahi kesepakatan nuklir menurunkan “premi risiko” pada minyak.
  • Peran Israel: Pernyataan Netanyahu tentang mediasi menambah kepercayaan pasar bahwa kawasan Timur Tengah tidak akan kembali ke “stres tinggi” dalam waktu dekat.
  • Implikasi: Dengan risiko geopolitik yang berkurang, investor tidak lagi menuntut “risk premium” pada komoditas, sehingga tekanan turun pada harga semakin kuat.

d. Dinamika Pasokan Rusia

  • Ekspor produk olahan (gasolin, solar, diesel) Rusia naik 0,7 % pada Januari, mencerminkan penyesuaian strategi penjualan pasar barat setelah sanksi.
  • Kuantitas ini mungkin tampak kecil, namun menambah volume pasokan global yang sudah ‘berlebih’, dan mengindikasikan ketahanan penawaran Rusia meskipun berada dalam tekanan sanksi.

e. Faktor Teknis dan Sentimen Pasar

  • Penurunan Utilisasi Kilang (89,4 %) menandakan kilang mempunyai “buffer capacity” untuk menampung fluktuasi pasokan. Kilang yang beroperasi di bawah kapasitas biasanya menurunkan kebutuhan crude, memperlemah permintaan spot.
  • Data EIA yang melampaui ekspektasi pasar meningkatkan “supply shock” jangka pendek yang biasanya memicu penurunan harga lebih tajam.

3. Implikasi bagi Berbagai Pihak

Pihak Implikasi Utama Rekomendasi
Investor institusional & hedge fund Volatilitas turun, peluang “short” pada energi fosil, alokasi ke energi terbarukan menjadi lebih menarik. Mengurangi eksposur ke saham upstream minyak, meningkatkan alokasi ke energi bersih atau sektor logistik yang mendapat manfaat dari biaya transportasi lebih rendah.
Negara‑Negara Pengimpor Minyak (India, China, negara-negara ASEAN) Pembiayaan impor menjadi lebih murah, potensi penurunan defisit perdagangan energi. Mempercepat diversifikasi sumber energi, memanfaatkan harga murah untuk menambah stok strategis.
Produsen OPEC+ (Saudi, Rusia, UAE) Tekanan pada profit margin, kemungkinan penyesuaian kuota di pertemuan berikutnya. Mempertahankan disiplin produksi, menyiapkan cadangan kebijakan “cut‑back” bila surplus terus berlanjut.
Perusahaan Refineri US Penurunan margin crack spread karena stok mentah meningkat dan utilisasi turun. Menunda ekspansi kapasitas, mencari peluang hedging lewat kontrak futures, atau mengalihkan fokus ke produk kimia bernilai tambah.
Pemerintah AS Stok minyak strategis (SPR) berada pada level tinggi, memberi ruang kebijakan untuk penurunan tarif atau stimulus energi. Mempertimbangkan pengurangan subsidi bahan bakar, mempercepat program transisi energi (EV, biofuel).
Konsumen Harga BBM turun, daya beli meningkat, namun volatilitas harga energi masih dapat memengaruhi inflasi. Pemerintah dapat menyalurkan tabungan energi ke program kesejahteraan atau investasi infrastruktur.

4. Skenario Harga Minyak ke Depan

Skenario Premis Utama Harga Brent (perkiraan akhir 2026) Catatan
A. Baseline (konsensus) Permintaan melambat 1,3 %/tahun, pasokan surplus 1,5 mn bpd, tidak ada gejolak geopolitik signifikan. US$ 65‑70/barel Harga relatif stabil, volatilitas rendah.
B. Risiko Upside Kebangkitan ekonomi Asia, kegagalan negosiasi nuklir, atau gangguan produksi OPEC+ (mis. cuaca ekstrem di Saudi). US$ 78‑85/barel Harga kembali ke zona US$ 80, menekan profit margin downstream.
C. Risiko Downside Penurunan lebih cepat dari perkiraan pada permintaan (digitalisasi transport, EV), penerapan kebijakan pajak karbon yang agresif, atau peningkatan cadangan strategis yang dilepas ke pasar. US$ 55‑60/barel Dapat memicu tekanan keuangan pada perusahaan upstream, mempercepat penutupan lapangan minyak marginal.

5. Kesimpulan & Outlook

  1. Penurunan harga hari ini adalah hasil gabungan antara data fundamental (stok AS, utilisasi kilang) dan faktor makro (IEA forecast, meredanya risiko geopolitik).
  2. Pasokan global berada dalam fase “surplus moderat” yang diperkirakan akan bertahan setidaknya hingga akhir 2026, kecuali ada intervensi kebijakan produksi yang signifikan dari OPEC+.
  3. Permintaan tampaknya akan tumbuh lebih lambat daripada supply, terutama karena pergeseran struktural ke energi terbarukan dan kebijakan de‑karbonisasi.
  4. Geopolitik tidak lagi menjadi penggerak utama harga minyak dalam jangka menengah; namun, ketegangan mendadak (mis. serangan siber terhadap fasilitas produksi atau konflik militer skala kecil) tetap dapat menimbulkan shock harga cepat.
  5. Bagi pelaku pasar, kini saat yang tepat untuk menyesuaikan portofolio: mengurangi exposure pada perusahaan eksplorasi‑produksi yang bergantung pada harga tinggi, meningkatkan alokasi pada energi bersih, dan memanfaatkan potensi peningkatan margin pada sektor downstream yang dapat menyesuaikan feedstock dengan harga spot yang lebih rendah.

Penutup:

Kejadian pada 12 Februari 2026 menegaskan dinamika pasar energi yang kini dipengaruhi lebih banyak oleh fundamental struktural (pasokan/permintaan jangka panjang) dan kebijakan energi hijau, dibandingkan oleh kejutan geopolitik. Pelaku pasar yang dapat memetakan transisi ini—dengan menilai data persediaan, proyeksi IEA, serta sinyal diplomatik—akan berada pada posisi yang lebih kuat untuk mengoptimalkan profitabilitas di tengah lingkungan energi yang semakin kompleks.

Tags Terkait