Lonjakan Harga Emas 2 % Pasca CPI AS Lebih Rendah: Implikasi Kebijakan Fed, Sentimen Risiko, dan Prospek Logam Mulia di Tengah Permintaan China-India
Tanggapan Panjang
1. Ringkasan Peristiwa Utama
- Harga emas spot naik 2,25 % ke US$ 5 032,7 per ons pada Jumat 13 Feb 2026, setelah sebelumnya terjungkit hampir 3 % pada sesi sebelumnya.
- CPI AS Januari 0,2 % (MoM) lebih lemah dari perkiraan 0,3 % dan menurun dari 0,3 % Desember, menandakan inflasi yang mulai terkendali.
- Data ketenagakerjaan yang sempat menguat sebelumnya tidak lagi menjadi penggerak utama pasar setelah munculnya data inflasi yang lebih lembut.
- Kontrak futures emas April melaju 2,13 % menjadi US$ 5 054,01 per ons.
- Perak, platinum, dan palladium juga mencatat kenaikan tajam (masing‑masing +2,17 %, +2,83 % dan +4,33 %).
- Pasar memperkirakan total pemangkasan Fed 63 bps sepanjang 2026, dengan pemangkasan pertama diproyeksikan pada Juli.
- Permintaan fisik di China tetap kuat menjelang Tahun Baru Imlek, sedangkan India menunjukkan tekanan pada harga karena permintaan melemah.
- Analis ANZ menaikkan proyeksi harga emas Q2 2026 menjadi US$ 5 800 per ons, sambil memberi peringatan pada potensi pelambatan rally perak karena tekanan harga industri.
2. Analisis Makro‑Ekonomi
| Aspek | Fakta | Implikasi |
|---|---|---|
| Inflasi AS | CPI Januari 0,2 % (MoM) < perkiraan 0,3 % | Menunjukkan bahwa “sticky inflation” mulai surut, memberi ruang bagi Fed untuk merelaikan kebijakan moneter. |
| Kebijakan Fed | Pasar menilai 63 bps pemangkasan tahun 2026, pertama Juli | Jika Fed memang memangkas suku bunga, biaya peluang menahan emas (non‑yielding asset) akan menurun, meningkatkan daya tariknya sebagai safe‑haven. |
| Data Ketenagakerjaan | Mengalami penurunan tekanan setelah inflasi turun | Mengurangi “dual‑risk” (inflasi‑plus‑ketenagakerjaan kuat) yang selama ini menahan strategi pemotongan suku bunga. |
| Sentimen Risiko Global | Ketidakpastian geopolitik (krisis energi, ketegangan Asia‑Eropa) masih tinggi | Memperkuat permintaan logam mulia sebagai lindung nilai, terlepas dari arah kebijakan moneter. |
Kesimpulan: Kombinasi inflasi yang melambat dan harapan pemangkasan suku bunga menciptakan “gold‑friendly environment”. Selama Fed tetap berhati‑hati namun mengindikasikan potensi pelonggaran, permintaan spekulatif dan fisik akan tetap kuat.
3. Dampak Terhadap Harga Logam Mulia
3.1 Emas
- Fundamental: Emas biasanya naik ketika real‑interest rates menurun. Perkiraan pemangkasan 63 bps secara implisit menurunkan real rates, mengangkat emas.
- Teknikal: Pada grafik harian, harga emas menembus level US$ 4 950 – 5 000 sebagai support kuat, kini berada di atas US$ 5 032. Jika dapat menahan zona US$ 5 050‑5 100, potensi lanjutan ke US$ 5 200‑5 300 terbuka.
- Risiko: Jika data inflasi selanjutnya kembali menguat atau pasar menilai Fed akan menunda pemangkasan, tekanan jual dapat muncul kembali.
3.2 Perak
- Fundamental: Perak memiliki komponen industri (≈30 % permintaan) yang sensitif pada harga. Kenaikan 2,17 % menandakan “relief rally”. Namun ANZ memperingatkan bahwa harga tinggi dapat menahan pembeli industri.
- Teknikal: Harga kini berada di atas US$ 75; level resistance berikutnya berada di kisaran US$ 80‑85. Penembusan ke atas dapat membuka jalan ke US$ 90‑100.
3.3 Platinum & Palladium
- Fundamental: Kedua logam ini sangat dipengaruhi oleh sektor otomotif (catalyst & emission control). Kenaikan masing‑masing 2,83 % (Pt) dan 4,33 % (Pd) mencerminkan ekspektasi pemulihan produksi kendaraan listrik dan kebijakan emisi yang lebih ketat.
- Teknikal: Platinum mendekati resistance US$ 2 050, palladium mendekati US$ 1 650. Penembusan dapat memperkuat rally mingguan.
4. Permintaan Fisik: China vs. India
| Negara | Tren Permintaan | Faktor Penggerak |
|---|---|---|
| China | Kuat – permintaan menjelang Imlek meningkat, terutama dalam bentuk koin dan perhiasan tradisional. | Musiman (Imlek), kebijakan moneter yang lebih lunak, dan peningkatan kepercayaan konsumen. |
| India | Lemah – diskon pada pasar ritel karena harga emas yang tinggi menekan demand. | Kenaikan harga spot yang signifikan, kekhawatiran inflasi rumah tangga, serta faktor makro (nilai tukar rupee). |
Implikasi: Kekuatan permintaan China dapat menahan penurunan harga global, sementara tekanan di India dapat menjadi “headwind” bagi kenaikan lebih lanjut. Secara keseluruhan, net demand masih positif karena basis China lebih besar.
5. Proyeksi Harga Emas 2026‑2027
| Periode | Harga Target (USD/oz) | Asumsi Utama |
|---|---|---|
| Q2 2026 | US$ 5 800 (ANZ) | Pemangkasan pertama Fed pada Juli, real rates menurun, permintaan China tetap tinggi. |
| H2 2026 | US$ 5 500‑5 700 | Jika data inflasi kembali menguat, risiko koreksi teknikal ke level support US$ 5 300‑5 400. |
| 2027 | US$ 5 200‑5 400 | Asumsi Fed selesai memotong 60‑70 bps, inflasi terjaga di 2‑2,5 % tahunan, dan pasar kembali menilai risiko geopolitik sebagai “moderate”. |
Catatan: Proyeksi sangat sensitif pada rilis data CPI/PE serta keputusan Fed. Setiap kejutan inflasi ke atas dapat memicu volatilitas tajam (mis. penurunan 5‑10 % dalam satu sesi).
6. Risiko Utama yang Perlu Dipantau
- Data CPI atau PPI yang Menguat Kembali – Jika inflasi naik di atas 2,5 % YoY, pasar dapat menuntut Fed menunda atau mengurangi besarnya pemangkasan.
- Keputusan Fed yang Lebih “Hawkish” – Misalnya, Fed menegaskan “higher for longer” karena kekhawatiran tentang “core inflation”.
- Geopolitik – Eskalasi konflik di Timur Tengah atau Asia Timur dapat meningkatkan permintaan safe‑haven sekaligus menimbulkan tekanan pada pasokan logam industri (platinum, palladium).
- Fluktuasi Nilai Tukar Dolar – Penguatan dolar akan menekan harga emas dalam dolar, walaupun permintaan fisik tetap kuat.
- Kebijakan Pemerintah China – Restriksi impor logam mulia atau perubahan kebijakan pajak impor dapat mengurangi aliran emas fisik ke pasar internasional.
7. Rekomendasi Strategi Investor
| Tipe Investor | Strategi | Penjelasan |
|---|---|---|
| Jangka Pendek (≤3 bulan) | Long posisi spot atau ETF emas pada level US$ 5 000‑5 050, dengan stop‑loss di sekitar US$ 4 950. | Memanfaatkan momentum bullish setelah data CPI; target profit pada US$ 5 200‑5 300. |
| Jangka Menengah (3‑12 bulan) | Straddle opsi (buy call & put) pada strike US$ 5 200, vol tinggi memberikan peluang profit pada volatilitas. | Mengantisipasi potensi swing besar terkait data inflasi/Fed. |
| Jangka Panjang (>1 tahun) | Alokasi 5‑10 % portofolio ke emas fisik (bar/coins) atau ETF berbasis emas. | Emas sebagai hedge jangka panjang terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga. |
| Diversifikasi Logam | Tambahkan 2‑3 % ke perak (untuk exposure industri) dan palladium/platinum (jika mengharapkan rebound industri otomotif). | Perak lebih volatile, palladium/platinium memberikan upside pada fase pemulihan produksi kendaraan listrik. |
8. Kesimpulan Utama
- Data CPI Januari yang lebih rendah mengubah paradigma pasar: ekspektasi pemotongan suku bunga Fed kini lebih realistis, sehingga emas mendapatkan “boost” yang signifikan.
- Harga emas sudah menembus level teknikal penting dan berpotensi melanjutkan rally ke zona US$ 5 200‑5 300 dalam beberapa minggu ke depan.
- Permintaan fisik China menjadi pendorong utama fundamental, sementara kelemahan India memberikan keseimbangan, namun tidak cukup untuk menahan kenaikan harga secara keseluruhan.
- Sentimen risiko global tetap menguntungkan logam mulia; selama tidak ada kejutan inflasi yang besar, ekspektasi pemangkasan Fed akan terus mendukung harga emas.
- Investor sebaiknya menyesuaikan alokasi sesuai horizon waktu: posisi spot/ETF untuk trade jangka pendek‑menengah, dan alokasi fisik/ETF untuk perlindungan jangka panjang.
Dengan memantau data inflasi selanjutnya, kebijakan Fed, serta dinamika permintaan China‑India, para pelaku pasar dapat mengoptimalkan strategi mereka dalam menghadapi golongan logam mulia yang kini berada dalam fase “relief rally” yang kuat.