Pasar Saham Indonesia Menjelang RDG BI 2026: Peluang IHSG dan Strategi Trading pada Enam Saham Pilihan (UNTR-INCO)

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 17 February 2026

1. Gambaran Makro Pasar Menjelang RDG BI

Faktor Kondisi Saat Ini (Feb‑2026) Implikasi
RDG BI (19 Feb 2026) Diperkirakan tetap mempertahankan BI Rate 4,75 %. Menjaga suku bunga tinggi menekan likuiditas, namun kestabilan kebijakan moneter dapat menenangkan pasar.
Nilai Tukar Rupiah Rp 16.825/USD (melemah). Rupiah yang lemah meningkatkan biaya impor (termasuk energi & bahan baku), memberi tekanan pada margin perusahaan yang mengandalkan input luar negeri.
Sentimen Investor Cenderung cautious menjelang long‑weekend. Volume perdagangan biasanya menurun, volatilitas dapat meningkat bila ada berita tak terduga.
Indeks IHSG Tutup 13 Feb 2026: 8.212,2 (−0,64 %). Level ini masih di atas support teknikal di 8.098‑8.155, memberi ruang pergerakan ke arah resistance 8.354‑8.517.
Fundamental Ekonomi Inflasi masih berada di kisaran 3‑4 % (lebih tinggi dari target 2,5 %). Kebijakan suku bunga yang “tight” dipertahankan sampai inflasi turun, menahan kemungkinan stimulus agresif.

1.1 Skenario yang Mungkin Terjadi Pasca‑RDG BI

Skenario Kemungkinan Dampak pada IHSG
BI Rate Tetap (4,75 %) – “Business‑as‑Usual” Tinggi IHSG berpotensi melanjutkan penguatan ke kisaran 8.377‑8.440 (best‑case MNC Sekuritas).
BI Rate Naik 0,25 % (menjadi 5,00 %) Sedang‑Rendah Sentimen bearish, IHSG dapat menguji support 8.098‑8.155, berpotensi turun ke 7.863‑7.712.
BI Rate Turun 0,25 % (menjadi 4,50 %) Rendah (karena inflasi belum terkendali) Penguatan tajam ke atas resistance 8.517‑8.600, tetapi risiko “over‑buying” dan koreksi cepat.

2. Analisis Teknikal Ringkas IHSG

  • Trend Jangka Pendek: Momentum negatif pada 13 Feb (−0,64 %), namun moving average 20‑hari masih di atas MA 50‑hari, menandakan trend naik masih dominan.
  • Level Kunci:
    • Support Utama: 8.098‑8.155 (zona koreksi yang disebutkan MNC Sekuritas).
    • Resistance Utama: 8.354‑8.440 (target “best‑case”).
    • Zona Kritis: 8.517 (resistance kuat) dan 7.712 (support kuat di zona psikologi 7.700).
  • Indikator Oscillator (RSI 14‑hari): 45‑48 (neutral), memberi ruang bagi pergerakan naik atau turun tanpa oversold/overbought yang ekstrem.

3. Fokus pada Enam Saham Pilihan (UNTR‑INCO)

3.1 Ringkasan Rekomendasi KB Valbury

Saham Posisi Target Harga Resistance Support Stop‑Loss
UNTR Buy 30.100 30.100 28.600 27.100
ANTM Buy 4.130 4.130 3.990 3.850
TINS Buy 4.180 4.180 3.990 3.800
SMGR Buy on weakness 3.180 3.180 2.960 2.740
BBTN Buy 1.405 1.405 1.345 1.285
INCO Buy 7.325 7.325 6.800 6.275

3.2 Analisis Fundamental Singkat

Saham Sektor Kekuatan Utama Risiko Utama
UNTR (United Tractors) Alat Berat & Penambangan Sektor infrastruktur & energi, order proyek besar di BUMN, eksposur ke batu bara dan nikel. Harga komoditas (batu bara, nikel) volatil; eksposur USD (rupiah lemah).
ANTM (Aneka Tambang) Pertambangan (Nikel, Emas) Prospek nikel kuat karena demand baterai EV, produksi emas stabil. Harga nikel global fluktuatif; regulasi tambang dapat mempengaruhi produksi.
TINS (Timah Indonesia) Timah Harga timah stabil, pasar ekspor Asia. Fluktuasi demand elektronik, kebijakan ekspor timah.
SMGR (Smelting & Refining) Smelter Nikel Benefisi nikel dan kobalt, “integrated downstream” dari ANTM. Ketergantungan pada harga nikel, operasi lintas negara (Indonesia‑Filipina).
BBTN (Bank BTPN) Perbankan Fokus pada UMKM, net interest margin (NIM) yang relatif tinggi, digital banking. Persaingan fintech, risiko kredit HAD (High‑Risk).
INCO (Industri Kobalt) Smelter Kobalt Kobalt strategis untuk EV, pasokan terbatas secara global. Harga kobalt sangat sensitif terhadap kebijakan China‑EU, regulasi lingkungan.

3.3 Rekomendasi Trading yang Diperhalus

Saham Entry Point (Jika Mengikuti Rekomendasi) Manajemen Risiko
UNTR 29.200‑29.500 (di atas support 28.600, di bawah resistance 30.100) Using stop‑loss 27.100 (≈ 7 % di bawah entry). Posisi ukuran 1‑2 % dari total modal.
ANTM 3.950‑4.000 (mengonfirmasi bullish breakout di atas 3.990) Stop‑loss 3.850 (≈ 2‑3 % di bawah entry).
TINS 4.050‑4.080 (memanfaatkan bounce pada 4.000) Stop‑loss 3.800.
SMGR 2.900‑2.970 (buy on weakness, menunggu konfirmasi rebound) Stop‑loss 2.740 (≈ 7 %).
BBTN 1.340‑1.360 (setelah uji support 1.345) Stop‑loss 1.285 (~ 5 %).
INCO 6.950‑7.000 (di atas support 6.800) Stop‑loss 6.275 (≈ 8 %).

Catatan: Penting untuk menyesuaikan ukuran posisi dengan volatilitas masing‑masing saham (ATR 14‑hari) dan selalu memperhatikan berita fundamental (misal: update produksi tambang, kebijakan relaksasi ekspor timah, atau pengumuman profit BTPN).


4. Strategi Portofolio Menghadapi Ketidakpastian RDG BI

  1. Diversifikasi Sektor: Kombinasikan saham UNTR, ANTM, INCO (komoditas) dengan BBTN (perbankan) untuk mengurangi konsentrasi risiko harga komoditas.
  2. Pendekatan “Core‑Satellite”:
    • Core: Posisi BBTN dan UNTR (fundamental kuat, volatilitas moderat).
    • Satellite: ANTM, TINS, SMGR, INCO – peluang upside tinggi, tetapi dengan stop‑loss ketat.
  3. Manajemen Margin: Hindari penggunaan leverage > 2× dalam posisi komoditas, karena sensitivitas harga bahan baku dapat memicu margin call.
  4. Thema EV & Battery Metals: Prioritaskan ANTM, SMGR, INCO. Jika regulasi pemerintah mendukung “in‑house” nilai tambah (misalnya, insentif downstream nikel/kobalt), harga dapat melampaui target.
  5. Pantau Data Ekonomi Harian:
    • /USD (pengaruh pada import bahan baku).
    • CPI (inflasi) – jika inflasi turun lebih cepat, peluang kebijakan moneter akomodatif meningkat.
    • Data Penanaman Modal (IPPN) dan Infrastruktur – benefisi UNTR.

5. Risk‑Reward Matrix (Perkiraan)

Saham Potensi Upside (Target‑Entry) Potensi Downside (Entry‑SL) Risk‑Reward (RR)
UNTR 30.100 − 29.300 ≈ 2,7 % 29.300 − 27.100 ≈ 7,5 % 1 : 2,8
ANTM 4.130 − 3.970 ≈ 4,0 % 3.970 − 3.850 ≈ 3,0 % 1 : 1,3
TINS 4.180 − 4.050 ≈ 3,2 % 4.050 − 3.800 ≈ 6,2 % 1 : 1,9
SMGR 3.180 − 2.960 ≈ 7,4 % 2.960 − 2.740 ≈ 7,4 % 1 : 1,0
BBTN 1.405 − 1.350 ≈ 4,1 % 1.350 − 1.285 ≈ 4,8 % 1 : 1,2
INCO 7.325 − 7.050 ≈ 3,9 % 7.050 ‑ 6.275 ≈ 11,0 % 1 : 2,8

Interpretasi: UNTR dan INCO menawarkan risk‑reward yang paling menguntungkan (≈ 1 : 2,8), tetapi keduanya lebih sensitif terhadap pergerakan USD.


6. Rekomendasi Penutup untuk Investor

  1. Ikuti Jadwal RDG BI – Siapkan order “stop‑limit” di sekitar level support IHSG (8.098‑8.155) sebelum jam pembukaan pasar pada 19 Feb. Jika keputusan BI Rate berubah, Anda dapat menyesuaikan exposure dengan cepat.
  2. Gunakan Trailing Stop setelah harga melewati target tengah (misal: UNTR > 29.800, INCO > 7.150) untuk melindungi profit sekaligus memberi ruang upside.
  3. Jaga Likuiditas Portofolio – Simpan minimal 10‑15 % modal dalam bentuk cash atau instrumen uang‑pasar untuk menanggapi volatilitas tak terduga.
  4. Konsistensi Monitoring Berita – Perhatikan:
    • Kebijakan Ekspor/Bidang Energi (mis. tarif ekspor batu bara, nikel).
    • Laporan Keuangan Kuartal II (biasanya dirilis Mei‑Juni 2026) – akan menjadi katalis utama penentuan arah jangka menengah.
    • Pergerakan Rupiah – jika USD terus menguat, pertimbangkan “hedge” dengan instrumen derivatif (FX forward) untuk melindungi exposure komoditas.
  5. Catat Catatan Posisi Harian (Trading Journal) – Detailkan entry, alasan teknikal/fundamental, serta catatan psikologis. Hal ini membantu memperbaiki disiplin dan mengidentifikasi pola kesalahan.

7. Kesimpulan

  • IHSG berada pada zona transisi: jika RDG BI mempertahankan suku bunga, pasar memiliki peluang menguat menuju 8.377‑8.440; bila terjadi kenaikan suku bunga, support kuat di 8.098‑8.155 menjadi pertaruhan terakhir.
  • Enam saham pilihan (UNTR, ANTM, TINS, SMGR, BBTN, INCO) menawarkan kombinasi fundamental yang kuat dan titik teknikal yang menarik. Dengan manajemen risk‑reward yang tepat, masing‑masing saham dapat menjadi “motor” penggerak portofolio pada minggu ini.
  • Strategi gabungan (core‑satellite, hedging valuta, dan trailing stops) akan memberi fleksibilitas untuk menanggapi hasil RDG BI serta komentar pasar selanjutnya.

Pesan Utama: Tetap berdisiplin pada level entry‑exit, pantau data fundamental (BI Rate, nilai tukar, dan harga komoditas), dan gunakan risk‑reward yang terukur. Dengan pendekatan ini, investor dapat memaksimalkan peluang kenaikan IHSG serta mengoptimalkan keuntungan dari enam saham unggulan yang disorot oleh KB Valbury.