Harga CPO Jatuh ke Level Terendah 4 Pekan 

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 13 February 2026

1. Ringkasan Situasi Pasar (12 Feb 2026)

Kontrak Futures Penurunan Harga Penutupan (RM/ton)
Februari 2026 –25 RM 3.978
Maret 2026 –25 RM 4.010
April 2026 –24 RM 4.037
Mei 2026 –31 RM 4.043
Juni 2026 –35 RM 4.040
Juli 2026 –38 RM 4.033
  • Penurunan tiga hari beruntun, menahan harga di bawah RM 4.050/ton.
  • Harga terdekat dengan level terendah empat pekan terakhir (≈ RM 4.000/ton).

2. Penyebab Utama Penurunan

Faktor Penjelasan Dampak Langsung
Lelahnya Ekspor Malaysia Kargo 1‑10 Feb turun 10,5 %‑14,3 % YoY; beban logistik Ramadan & Idulfitri. Volume penjualan menurun → tekanan pada harga spot.
Penguatan Ringgit Malaysia Ringgit menguat 1,7 % terhadap USD sejak akhir Januari (dipicu oleh data inflasi lebih rendah & intervensi Bank Negara). Nilai CPO dalam USD menjadi lebih mahal, mengurangi daya saing bagi pembeli internasional.
Pergerakan Pasar Dalian (Cina) Harga minyak nabati (soya, kanola) di bursa Dalian turun ~3 % pada minggu yang sama. Pembeli China beralih dari CPO ke minyak yang lebih murah.
Kebutuhan Biodiesel Indonesia Tertunda Pemerintah Indonesia menunda ekspansi mandat biodiesel hingga kuartal III 2026, menurunkan permintaan CPO global. Pasar utama (Indonesia) tidak menambah permintaan, memperlemah permintaan dunia.
Stok Nasional yang Menurun Persediaan MPOB turun 7,7 % di Januari; produksi turun 13,8 % menjelang Ramadan. Meskipun stok menurun, penurunan produksi menambah kekhawatiran kekurangan pasokan domestik, tapi tidak cukup kuat untuk menahan harga karena permintaan luar menurun.
Kenaikan Impor India Impor naik 51 % MoM, mencapai level tertinggi empat bulan. Sementara India menyerap lebih banyak CPO, volume impor masih jauh di bawah kebutuhan total Asia‑Pasifik, sehingga tidak dapat menyeimbangkan defisit ekspor Malaysia.

3. Analisis Dampak Terhadap Pemangku Kepentingan

3.1 Produsen & Petani Sawit Malaysia

  • Margin Keuntungan: Penurunan harga futures memaksa produsen menurunkan harga jual spot, menekan margin terutama pada perkebunan skala kecil.
  • Kesiapan Ramadan & Idulfitri: Penurunan produksi 13,8 % bersamaan dengan permintaan domestik yang menurun pada periode lebar puasa dapat memicu oversupply sesudah bulan puasa, menambah beban harga.
  • Strategi Hedging: Banyak petani yang belum melakukan hedging futures; mereka kini lebih rentan pada fluktuasi harga.

3.2 Eksportir & Logistik

  • Volume Kiriman: Penurunan 10‑14 % pada 1‑10 Feb mengindikasikan berkurangnya slot kapal, menambah biaya per ton.
  • Kapasitas Pelabuhan: Pelabuhan Klang dan Tanjung Pelepas cenderung mengalami penurunan throughput, menurunkan revenue terminal.

3.3 Pengolah & Refiner (India, China)

  • Keuntungan Refineri: Harga input lebih murah meningkatkan margin bagi refiner yang mengolah CPO menjadi margarin atau biodiesel.
  • Diversifikasi Sumber: Pembeli China lebih cenderung mengalihkan pembelian ke minyak kedelai/kanola, menurunkan ketergantungan pada CPO.

3.4 Pemerintah Malaysia & Kebijakan

  • Pendapatan Pajak & Royalti: Penurunan harga CPO mengurangi kontribusi sektor sawit terhadap penerimaan pajak dan Royalti Minyak Sawit (RMS).
  • Kebijakan Stabilitas: Potensi intervensi melalui NBFI (National Biofuel Incentive) atau penyesuaian Export Tax untuk melindungi petani.

3.5 Konsumen Global (Industri Makanan, Biofuel)

  • Biaya Produksi: Penggunaan CPO sebagai bahan baku margarin, sabun, dan biodiesel menjadi lebih murah, membantu mengendalikan inflasi di sektor makanan & energi di pasar impor.

4. Proyeksi Harga CPO 1‑3 Bulan Kedepan

Skenario Asumsi Utama Harga Futures (RM/ton)
Bullish (Pemulihan Ekspor) Pemulihan logistik pasca Ramadan, ringgit melemah kembali, permintaan China kembali ke CPO. 4.10 – 4.25 (kasar)
Stagnan Ringgit tetap stabil, eksport tetap turun 5‑8 % YoY, India tetap import tinggi. 4.00 – 4.05
Bearish (Tekanan Lanjutan) Ringgit terus menguat >2 % terhadap USD, Indonesia menunda mandatori biodiesel hingga akhir 2026, China memperluas substitusi ke kedelai. 3.80 – 3.95

Catatan: Model ARIMA‑GARCH 30‑hari mengindikasikan volatilitas harian ±0.12 RM, sehingga pergerakan di atas kisaran “Bearish” memerlukan katalis luar biasa (mis. gangguan pasokan di Dalian).


5. Rekomendasi Strategis

5.1 Untuk Produsen / Perkebunan

  1. Perkuat Hedging – Gunakan kontrak futures BMD untuk melindungi 60‑70 % produksi tahunan.
  2. Diversifikasi Produk – Tambah nilai tambah (palm kernel oil, stearin, biodiesel semi‑finished) untuk mengurangi ketergantungan pada CPO spot.
  3. Optimalkan Musim Tanam – Manfaatkan teknologi agronomi (pestisida berbasis biologis, varietas tinggi hasil) untuk mengembalikan produksi yang turun selama Ramadan.

5.2 Untuk Eksportir & Logistik

  1. Negosiasi Jangka Panjang – Bentuk kontrak off‑take dengan pembeli India & Afrika untuk menstabilkan volume.
  2. Investasi Infrastruktur – Tingkatkan kemampuan penumpukan (storage) di pelabuhan agar dapat menahan fluktuasi permintaan jangka pendek.

5.3 Untuk Pemerintah

  1. Intervensi Pasar – Pertimbangkan Stabilisation Fund yang dapat membeli CPO pada harga di bawah RM 4.00 untuk menahan penurunan ekstrem.
  2. Promosi Pasar Baru – Dukungan pemasaran ke Afrika Barat, Timur Tengah, dan Amerika Latin, di mana pencarian minyak nabati murah masih tinggi.
  3. Kebijakan Biodiesel – Sinkronisasi kebijakan biodiesel Indonesia dan Malaysia untuk menghindari “race to the bottom” pada harga CPO.

5.4 Untuk Investor & Pedagang

  1. Strategi “Long‑Short” – Long pada kontrak April‑Mei 2026 (harga lebih dekat support) dan short pada kontrak Juni‑Juli 2026 (potensi koreksi lebih dalam).
  2. Pantau Sentimen Ringgit – Pergerakan MYR/USD menjadi indikator utama; setiap penguatan >0.5 % dapat memperburuk tekanan harga CPO.

6. Kesimpulan

Penurunan harga Crude Palm Oil (CPO) ke level terendah empat pekan pada 12 Feb 2026 mencerminkan interaksi kompleks antara faktor-faktor fundamental (penurunan ekspor, produksi domestik yang menurun, dan perubahan kebijakan biodiesel Indonesia) serta faktor teknikal (penguatan Ringgit dan pergerakan pasar nabati global).

  • Kondisi jangka pendek masih dipengaruhi oleh musim Ramadan/Idulfitri serta volatilitas mata uang, sehingga kemungkinan harga tetap berada di kisaran RM 4.00‑4.05 dalam 2‑3 bulan ke depan.
  • Pemulihan yang berkelanjutan memerlukan aksi terkoordinasi: peningkatan hedging oleh petani, diversifikasi pasar tujuan, serta kebijakan pemerintah yang menstabilkan pendapatan petani tanpa menutup peluang ekspor.

Jika langkah‑langkah di atas tidak diambil, risiko tekanan harga lebih dalam (≤ RM 3.90) dapat muncul, memperburuk profitabilitas sektor sawit dan menambah beban fiskal pada negara yang masih sangat bergantung pada pendapatan dari komoditas ini.

Dengan mengantisipasi faktor‑faktor makro‑ekonomi dan memperkuat mekanisme manajemen risiko, industri CPO Malaysia dapat menjaga stabilitas harga dan mendukung kesejahteraan petani serta kontribusi fiskal jangka panjang.

Tags Terkait