Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Senin 16 Februari 2026: Turun Tajam

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 16 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Situasi Terbaru

  • Harga jual Antam (per gram) : Rp 2.940.000, turun Rp 14.000 (≈ 0,47 %) dibandingkan dengan harga penutupan pada 14 Feb 2026 (Rp 2.954.000).
  • Buy‑back (harga beli kembali) : Rp 2.728.000, turun Rp 13.000 (≈ 0,48 %).
  • Kenaikan YTD (1 Jan – 16 Feb 2026) : ≈ 18 % (dari Rp 2.488.000 menjadi Rp 2.940.000).
  • All‑time high (ATH) : Rp 3.168.000 per gram tercatat pada 29 Jan 2026.

Meskipun secara tahunan emas Antam masih berada di jalur naik, penurunan dua hari berturut‑turut ini menandakan konsolidasi setelah puncak akhir Januari.


2. Faktor‑faktor yang Mendorong Penurunan Hari Ini

Faktor Penjelasan Dampak pada Harga Antam
Koreksi teknikal Setelah mencapai ATH pada 29 Jan, banyak trader melakukan profit‑taking. Grafik harian menunjukkan zona resistensi kuat di sekitar Rp 3,15 jt – Rp 3,20 jt. Tekanan jual menurunkan harga ke level support di sekitar Rp 2,9‑2,95 jt.
Pergerakan harga emas dunia Harga spot emas London turun 0,3 % pada sesi Asia (USD 1.720/oz → USD 1,716/oz). Dengan nilai tukar USD/IDR yang relatif stabil, penurunan ini langsung tercermin pada harga Antam. Membantu menjelaskan penurunan 0,4‑0,5 % pada Antam.
Penguatan Rupiah USD/IDR melemah 0,2 % (14.900 → 14,860). Karena emas dihargakan dalam USD, penguatan rupiah menurunkan harga emas dalam rupiah. Memperkecil nilai konversi ke IDR, menambah tekanan ke bawah.
Kebijakan moneter domestik Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI 7,00 %) dan menurunkan likuiditas melalui operasi pasar terbuka. Kenaikan yield obligasi pemerintah menurunkan daya tarik emas sebagai safe‑haven. Investor beralih ke aset berbunga.
Aliran dana internasional Pada minggu ini terjadi aliran masuk ke pasar ekuitas AS & Asia‐Pacific karena data inflasi AS yang lebih baik dari perkiraan, menurunkan permintaan safe‑haven. Mengurangi permintaan fisik emas, termasuk Antam.
Perubahan kebijakan pajak Penyesuaian tarif PPh 22 (0,45 % NPWP, 0,9 % non‑NPWP) tidak berubah, namun publikasi kembali mengenai besarnya potongan dapat menimbulkan “tax‑shock” bagi pembeli kecil, mengurangi minat beli harian. Dampak kecil namun menambah tekanan psikologis.

3. Implikasi Bagi Berbagai Pihak

a. Investor Ritel

  1. Peluang beli dip – Jika Anda memiliki horizon jangka panjang (≥ 5 tahun) dan tujuan lindung nilai nilai rupiah, penurunan 0,5 % ini dapat dianggap sebagai entry point yang lebih menarik dibandingkan level ATH.
  2. Perhatikan biaya pajak
    • Pembelian: PPh 22 0,45 % (NPWP) atau 0,9 % (non‑NPWP).
    • Penjualan (buy‑back): PPh 22 1,5 % (NPWP) atau 3 % (non‑NPWP) bila nilai transaksi > Rp 10 jt.
      Penggunaan NPWP secara signifikan mengurangi beban pajak, sehingga sebaiknya registrasi NPWP terlebih dahulu bila belum.
  3. Diversifikasi – Karena volatilitas emas fisik cenderung lebih tinggi dibandingkan kontrak berjangka yang didukung margin, sebaiknya alokasikan tidak lebih dari 10‑15 % portofolio ke emas Antam, sisanya ke reksa dana, obligasi, atau saham yang memiliki korelasi negatif dengan logam mulia.

b. Investor Institusional / Perbankan

  • Buy‑back program menjadi instrumen likuiditas jangka pendek untuk mengelola eksposur emas bank. Penurunan harga buy‑back sebesar Rp 13.000 menambah margin keuntungan bila bank membeli kembali pada harga lebih rendah daripada harga jual awal.
  • Manajemen risiko – Institusi yang memegang emas sebagai bagian dari cadangan wajib menyesuaikan nilai wajar (fair value) dalam laporan keuangan; penurunan harga dapat menurunkan nilai tercatat aset, sehingga diperlukan hedging melalui futures atau ETF.

c. Pemerintah & PT Aneka Tambang (ANTM)

  • Stabilitas pasar – Penurunan tajam dalam dua hari berturut‑turut dapat menimbulkan kekhawatiran publik tentang “kestabilan harga emas”. Pemerintah dapat mempertimbangkan komunikasi yang lebih proaktif (mis. penjelasan tentang faktor global) untuk menurunkan spekulasi.
  • Pendapatan pajak – Dengan penurunan volume transaksi (akibat pajak buy‑back), pendapatan PPh 22 dapat berkurang. Namun, kebijakan tarif tetap kompetitif dibandingkan negara lain yang mengenakan pajak lebih tinggi pada logam mulia.

4. Analisis Teknikal Singkat

  • Support kuat: Rp 2,90 jt – zona historis di mana harga Antam pernah memantul kembali setelah koreksi.
  • Resistance: Rp 3,00 jt – batas atas range harian terakhir dan dekat dengan level psikologis Rp 3 jt.
  • Trend jangka pendek: Sideways (biasanya disebut “range‑bound”) setelah memecahkan level resistance pada akhir Januari.
  • Indikator RSI (14‑hari) berada di 45, belum masuk zona oversold (< 30) – memberi ruang gerak ke bawah sebelum pembalikan ke atas.

Skenario kemungkinan

Skenario Level Harga Probabilitas (perkiraan) Catatan
Lanjut turun Rp 2,78‑2,80 jt 30 % Jika data ekonomi AS memperkuat dolar, atau terjadi penurunan tajam pada indeks dolar (DXY).
Pembalikan ringan Rp 2,95‑3,00 jt 45 % Bila rupiah kembali melemah atau ada penurunan volatilitas pasar global.
Kenaikan kuat > Rp 3,10 jt 25 % Jika harga spot emas dunia menembus kembali level US $1,730/oz dan/atau terjadi gejolak geopolitik.

5. Rekomendasi Strategi Investasi (Februari 2026)

Tipe Investor Strategi Alasan
Pemula / Konsumen Beli di level 0,5 gram – 1 gram (Rp 1,520 000 – Rp 2,940 000) dan simpan minimal 6‑12 bulan. Nilai tukar rupiah cenderung melemah dalam jangka menengah, dan emas berfungsi sebagai lindung nilai inflasi.
Investor Menengah Scale‑in: Beli setengah posisi saat harga di Rp 2,94 jt, sisanya saat harga turun ke Rp 2,80 jt (jika ada). Memanfaatkan volatilitas untuk menurunkan rata‑rata biaya (dollar‑cost averaging).
Investor Aggressive Short‑term trade: Jual (atau gunakan futures) jika harga menembus support Rp 2,80 jt; tutup posisi di dekat Rp 3,00 jt. Memanfaatkan swing 10‑15 % dalam 1‑2 bulan.
Institusi Hedging dengan kontrak berjangka atau ETF serta optimalkan NPWP untuk meminimalkan beban PPh 22 pada buy‑back. Mengurangi risiko nilai wajar sekaligus menurunkan biaya pajak.

6. Outlook Harga Antam hingga Akhir Tahun 2026

  1. Fundamental – Permintaan emas fisik di Indonesia tetap kuat (perhiasan, investasi, cadangan bank). Penawaran dari tambang lokal (Antam, PT Timah, dan import) diperkirakan stabil.
  2. Makro – Proyeksi inflasi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 3,3‑3,8 % (BI). Karena inflasi masih di atas target, kebijakan moneter cenderung lebih ketat, yang biasanya menekan logam mulia dalam jangka pendek.
  3. Global – Harga spot emas dunia diprediksi berfluktuasi antara US $1,710‑$1,770 per ounce, tergantung pada kebijakan Fed dan dinamika geopolitik (mis. ketegangan di Eropa Timur).

Berdasarkan kombinasi faktor di atas, harga Antam diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp 2,85 jt – Rp 3,10 jt per gram hingga akhir 2026, dengan kemungkinan puncak kembali di sekitar Rp 3,10 jt bila ada shock eksternal (mis. krisis energi).


7. Penutup

Penurunan tajam pada 16 Februari 2026 bukanlah tanda fundamental yang melemah, melainkan koreksi teknikal setelah pencapaian ATH pada Januari. Bagi investor dengan horizon jangka panjang, level saat ini menawarkan kesempatan “buy‑the‑dip” dengan biaya pajak yang relatif rendah bila menggunakan NPWP. Namun, volatilitas global dan kebijakan moneter tetap menjadi faktor utama yang dapat menggerakkan harga dalam beberapa minggu ke depan.

Kunci sukses: monitor data ekonomi global (USD, inflasi AS), pergerakan nilai tukar IDR, serta kebijakan pajak Pemerintah (PMK No 34/PMK.10/2017). Dengan menggabungkan analisis fundamental, teknikal, dan tax‑efficiency, investor dapat menyesuaikan alokasi emas Antam secara optimal dalam portofolio mereka.


Disclaimer: Tulisan ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi jual/beli. Setiap keputusan investasi harus didasarkan pada penilaian pribadi dan/atau konsultasi dengan penasihat keuangan yang berlisensi.

Tags Terkait