BREN dan Raksasa Minyak AS Sepakat Kembangkan Panas Bumi

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 23 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Latar Belakang dan Pokok Perjanjian

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melalui anak usahanya, PT Star Energy Geothermal, menandatangani perjanjian strategis dengan SLB (Schlumberger Limited), raksasa jasa ladang minyak asal Houston yang kini juga aktif di sektor energi terbarukan. Perjanjian ini menandai peralihan dari kolaborasi teknologi semata‑sementara ke perencanaan dan eksekusi proyek geothermal secara menyeluruh, meliputi tahap eksplorasi, pengembangan, konstruksi, serta operasional.

Secara singkat, poin kunci perjanjian meliputi:

Aspek Keterangan
Tujuan Meningkatkan efisiensi pengembangan panas bumi, mengurangi risiko subsurface & eksekusi, serta mempercepat komersialisasi proyek di Indonesia dan potensi luar negeri.
Peran BREN/Star Energy Menyediakan pengetahuan operasional lokal, jaringan perizinan, dan portofolio lapangan geothermal yang sudah terbukti.
Peran SLB Menyumbangkan teknologi subsurface (seismic, reservoir modelling), keahlian engineering, serta manajemen proyek berskala internasional.
Cakupan Geografis Proyek di dalam negeri (mis. Sumatera Utara, Jawa Barat) serta eksplorasi peluang di kawasan Asia‑Pasifik, Afrika, dan Amerika Latin.
Model Kerja Joint venture atau kontrak layanan tergantung fase proyek; pembagian risiko dan keuntungan akan diatur melalui mekanisme “risk‑sharing”.

2. Signifikansi Strategis Bagi Indonesia

2.1. Memperkuat Pilar Transisi Energi

  • Panas bumi memiliki potensi >30 GW di Indonesia (BP Statistical Review 2025). Saat ini baru terpakai sekitar 2 GW. Kolaborasi ini berpotensi meningkatkan kapasitas terpasang setidaknya 5‑10 GW dalam 5‑10 tahun ke depan, menurunkan ketergantungan pada batu bara.
  • Penggunaan teknologi SLB dapat meminimalisir “drilling risk” yang selama ini menjadi kendala utama pengembangan geothermal, sehingga biaya LCOE (Levelized Cost of Electricity) dapat turun mendekati atau bahkan menyaingi pembangkit gas alam.

2.2. Peningkatan Daya Saing Industri Lokal

  • Transfer pengetahuan (knowledge‑transfer) dan pelatihan tenaga kerja lokal akan menumbuhkan kapasitas teknis Indonesia dalam hal seismic imaging, reservoir simulation, dan digitalisasi operasi.
  • Ketersediaan layanan konsultan subsurface berkualitas di dalam negeri membuka peluang bagi player lokal (mis. PT Pertamina Geothermal, PT Bedur Energy) untuk meningkatkan standar proyek mereka tanpa harus mengandalkan konsultan asing secara terpisah.

2.3. Nilai Tambah Ekonomi dan Sosial

  • Penciptaan lapangan kerja pada tahap konstruksi dan operasi, terutama di daerah terpencil tempat lapangan geothermal berada.
  • Pendapatan negara melalui pajak, royalti, dan sharing revenue yang meningkat, yang dapat dialokasikan untuk program sosial atau infrastruktur.
  • Pengurangan emisi CO₂: Setiap 1 GW pembangkit geothermal dapat menghindari ~5,5 MtCO₂/tahun, sejalan dengan target Indonesia Net‑Zero 2060.

3. Konteks Internasional dan Peluang Ekspansi

3.1. Global Energy Transition

  • Negara‑negara maju (AS, UE) dan berkembang (India, Kenya) sedang mengintensifkan investasi di panas bumi sebagai bagian dari “clean‑energy mix”.
  • SLB, dengan jaringan global, mampu menemukan “greenfield opportunities” di wilayah yang belum tersentuh, menggunakan data satelit, AI‑driven anomaly detection, dan platform digital Oil & Gas yang kini di‑re‑purpose untuk geothermal.

3.2. Diversifikasi Portofolio Energi Perusahaan Minyak

  • Bagi SLB, kolaborasi ini mengukuhkan langkah diversifikasi ke “Energy Transition Services” (ETS) — sejalan dengan strategi S&P 500 perusahaan energi yang menargetkan 30 % pendapatan dari clean‑energy services pada 2030.
  • Keterlibatan dalam geothermal meningkatkan credibility SLB di mata regulator, lembaga keuangan (ESG‑focused investors), dan pemerintah host country.

3.3. Pendanaan dan Pembiayaan Internasional

  • Green bonds dan sustainability‑linked loans kini menjadi instrumen utama pendanaan proyek geothermal.
  • Kombinasi BREN‑SLB dapat mengakses sumber dana multilateral (World Bank, ADB, Climate Investment Funds) yang mensyaratkan teknologi terverifikasi dan mitigasi risiko tinggi.

4. Tantangan dan Risiko yang Perlu Dikelola

Risiko Penjelasan Upaya Mitigasi
Teknikal – Subsurface Uncertainty Data geologi Indonesia masih terbatas, terutama pada zona vulkanik kompleks. Penggunaan teknologi 3D/4D seismic, micro‑seismic monitoring, dan borehole imaging yang disediakan SLN.
Regulasi & Izin Proses perizinan (IUP‑GH) dapat memakan waktu, terutama pada daerah dengan hak ulayat atau conflict‑area. Kerjasama sejak dini dengan Kementerian ESDM, Bappenas, dan pemerintah daerah; memanfaatkan “One‑Stop‑Service” izin.
Finansial – Cost Overrun Proyek geothermal dikenal dengan capex tinggi dan risiko cost escalation. Model risk‑sharing, penggunaan kontrak EPC (Engineering‑Procurement‑Construction) fixed‑price, serta asuransi politik & teknikal.
Sosial‑Lingkungan Potensi dampak pada komunitas lokal (akses air, penggunaan lahan). Social Impact Assessment (SIA), mekanisme Community Benefit Agreement (CBA), dan program CSR yang berkelanjutan.
Geopolitik Ketergantungan pada teknologi asing dapat menjadi sorotan ketahanan nasional. Transfer teknologi dan peningkatan kemampuan lokal (Local Content) melalui program pelatihan dan joint‑venture ownership.

5. Outlook Jangka Panjang

  1. Pencapaian Target Kapasitas

    • 2026‑2030: Tambahan 3‑5 GW kapasitas geothermal terpasang melalui proyek bersama BREN‑SLB, dengan LCOE diproyeksikan turun menjadi USD 45‑55/MWh (dari ~USD 70/MWh saat ini).
  2. Ekspansi ke Pasar Internasional

    • Penetrasi ke Asia Tenggara (Filipina, Vietnam), Afrika (Kenya, Ethiopia), dan Amerika Latin (Meksiko, Chili) dengan model “technology‑provider‑partner” untuk mempercepat entry.
  3. Pengembangan Ekosistem Inovasi

    • Pendirian Geothermal Innovation Hub di Jakarta – kolaborasi universitas (ITB, UI), startup cleantech (AI‑driven reservoir monitoring), dan lembaga riset (LAPAN).
  4. Dampak ESG

    • Peningkatan skor ESG BREN di indeks MSCI ESG, membuka akses ke investor institusional yang menuntut portofolio berkelanjutan.
    • Kontribusi signifikan pada Indonesia Climate Change Action Plan (target 12 GW geothermal pada 2030).

6. Kesimpulan

Kolaborasi strategis antara PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan SLB merupakan langkah berani yang menyatukan kekuatan operasional lokal dengan teknologi subsurface kelas dunia. Inisiatif ini tidak hanya akan mempercepat pencapaian kapasitas geothermal di Indonesia, tetapi juga menempatkan negara ini sebagai pemain kunci dalam pasar panas bumi global.

Keberhasilan proyek akan sangat bergantung pada manajemen risiko yang terintegrasi, kepemimpinan yang visioner, serta dukungan kebijakan dan pembiayaan yang bersinergi. Bila tantangan dapat diatasi, model kerjasama ini berpotensi menjadi blueprint bagi perusahaan energi tradisional di seluruh dunia yang ingin bertransformasi menuju masa depan rendah karbon.

Secara keseluruhan, perjanjian ini menegaskan bahwa panas bumi bukan hanya solusi transisi energi domestik tapi juga komoditas energi bersih yang dapat di‑export—menyumbang pada keamanan energi, pengurangan emisi, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan lintas benua.