Gebrakan Baru, Emiten Hashim Djojohadikusumo (WIFI) Luncurkan 5G FWA

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 12 November 2025

Judul yang Diusulkan

  1. Surge × OREX SAI : Peluncuran 5G FWA 1,4 GHz Berbasis Open RAN Pertama di Dunia, Membuka Akses Internet Cepat ke Seluruh Indonesia
  2. Gebrakan 5G Nasional: Surge Gandeng NTT DOCOMO‑NEC Luncurkan Fixed Wireless Access 1,4 GHz untuk Digitalisasi Indonesia
  3. Terobosan Broadband Indonesia – 4.800 Base‑Station 5G FWA Open RAN Siap Menyasar 60 % Rumah Tangga

Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam

1. Ringkasan Pengumuman

  • Pihak yang terlibat: PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) – brand Surge, melalui anak perusahaan PT Telemedia Komunikasi Pratama, menandatangani kerja sama komersial penuh dengan OREX SAI Inc., joint venture antara NTT DOCOMO dan NEC Corporation.
  • Produk yang diluncurkan: Layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA) pada pita 1,4 GHz, menggunakan arsitektur Open RAN serta 5G Core (5GC) dari NEC.
  • Skala proyek: Pada fase awal tahun 2026, 4.800 base‑station akan dipasang di seluruh Indonesia, dimulai dari Region I (lebih dari 60 % rumah tangga). 26 distributor lokal telah digandeng untuk mempercepat penetrasi pasar.
  • Klaim utama: “Sistem Open RAN FWA 1,4 GHz komersial pertama di dunia.”

2. Mengapa Ini Penting bagi Indonesia?

Aspek Dampak Langsung Implikasi Jangka Panjang
Konektivitas di daerah terpencil Mengganti kebutuhan pembangunan serat optik yang mahal dan berjangka waktu lama. Menurunkan kesenjangan digital antara kota besar dan daerah pedalaman, mempercepat inklusi digital nasional.
Ekonomi Digital Menyediakan internet cepat & terjangkau bagi UMKM, e‑commerce, pendidikan, layanan kesehatan digital. Memperluas basis kontribusi ekonomi digital terhadap PDB (target pemerintah 2028: 10 % PDB).
Penggunaan Spektrum 1,4 GHz Spektrum ini memiliki jangkauan luas & penetrasi yang baik, cocok untuk wilayah geografis Indonesia yang berpulau-pulau. Memaksimalkan efisiensi spektrum nasional, membuka slot untuk layanan lain (IoT, smart city).
Open RAN Menurunkan biaya CAPEX/OPEX karena vendor‑agnostic, memungkinkan integrasi multi‑vendor. Mendorong ekosistem industri telekom lokal, menumbuhkan inovasi dan kompetisi harga.
Kemitraan Internasional Transfer teknologi dari NTT DOCOMO & NEC, pelatihan tenaga kerja Indonesia. Meningkatkan kapabilitas teknis domestik, menyiapkan Indonesia sebagai hub produksi Open RAN di Asia Tenggara.

3. Perspektif Teknologi: 5G FWA & Open RAN

  1. 5G Fixed Wireless Access (FWA)

    • Menyediakan kecepatan downlink ≥300 Mbps (potensi hingga 1 Gbps) dengan latensi < 20 ms, setara atau melampaui layanan fiber‑to‑the‑home (FTTH) untuk konsumen rumah tangga.
    • Tidak memerlukan instalasi serat fisik; cukup pemasangan antena kecil di rumah atau menara mikro‑cell.
  2. Open RAN (Radio Access Network yang Terbuka)

    • Interoperabilitas: Perangkat radio, baseband, dan software dapat dipasok oleh vendor berbeda, menurunkan vendor lock‑in.
    • Skalabilitas & Fleksibilitas: Jaringan dapat di‑upgrade dengan modul perangkat lunak (software‑defined) tanpa mengganti hardware seluruhnya.
    • Biaya: Studi IDC 2024 menunjukkan 15‑30 % penghematan OPEX bila dibandingkan dengan RAN tradisional vendor‑spesifik.
  3. Pita 1,4 GHz

    • Cakupan luas: Lebih baik menembus bangunan dan menavigasi topografi berbukit dibandingkan frekuensi mmWave (> 24 GHz).
    • Ukuran sel: Dapat mengcover radius ≈10‑15 km dengan satu base‑station, cocok untuk wilayah pedesaan berpopulasi rendah.

4. Dampak pada Landscape Persaingan Telekom Indonesia

Pemain Posisi Saat Ini Potensi Dampak dari Surge‑OREX SAI
Telkomsel (Telkom Indonesia) Pemain dominan di 4G/5G, jaringan fiber terluas. Dapat terancam di segmen rumah tangga non‑urban; perlu mempercepat rollout FWA atau integrasi Open RAN.
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Fokus pada 5G NSA & SA, layanan broadband seluler. Persaingan di tarif FWA; peluang kolaborasi/penyewaan infrastruktur.
XL Axiata Mengembangkan 5G, memiliki portofolio layanan enterprise. Risiko kehilangan market share di daerah Tier‑2/3; tekanan inovasi lebih besar.
Biznet Penyedia fiber & layanan hybrid (FWA). Dapat menjadi mitra strategis untuk backhaul atau bundling layanan.
Pemerintah & BUMN (PT Indihome) Fokus pada universal service obligation (USO) dengan fiber. Memperkuat agenda USO melalui teknologi FWA sebagai “shortcut” ke daerah terpencil.

Kesimpulan: Surge‑OREX SAI menambah dimensi kompetitif baru—FWA berbasis Open RAN yang cepat, murah, dan skalabel—yang dapat memaksa pemain incumbents untuk mempercepat transformasi jaringan mereka atau mencari aliansi strategis.


5. Tantangan yang Perlu Dihadapi

Tantangan Penjelasan Langkah Mitigasi
Ketersediaan dan Alokasi Spektrum 1,4 GHz Regulasi BAPPEKTEN masih dalam proses alokasi final. Lobby aktif, serta penyusunan rencana teknik yang mematuhi batas emission dan coexistence.
Site Acquisition & Penetrasi Infrastruktur Menempatkan 4.800 base‑station di wilayah rural memerlukan izin lokal, lahan, dan dukungan listrik. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, penggunaan solar‑powered micro‑cells, dan model shared site dengan operator lain.
Kualitas Backhaul FWA memerlukan backhaul fiber atau microwave yang andal. Manfaatkan jaringan serat milik Telkom/Indosat melalui lease, serta solusi MPLS over satellite untuk area paling terpencil.
Kesiapan SDM Teknologi Open RAN masih baru bagi banyak teknisi Indonesia. Program pelatihan bersama NTT DOCOMO & NEC, serta pembentukan center of excellence di Jakarta & Surabaya.
Persaingan Harga Penetrasi pasar cepat menuntut harga yang sangat kompetitif. Skalasi volume, optimasi supply chain (komponen RAN lokal), dan model subscription dengan paket bundling (TV, OTT, VoIP).
Keamanan & Resiliensi Jaringan Open RAN membuka potensi serangan siber pada lapisan software. Implementasi Zero‑Trust Architecture, enkripsi end‑to‑end, dan kerjasama dengan CERT‑ID untuk monitoring.

6. Outlook & Timeline Implementasi

Tahun Milestone Keterangan
2025 (Q4) Penandatanganan MoU, finalisasi desain jaringan, persiapan regulator. Pengujian laboratorium & pilot di satu Kecamatan di Jawa Barat.
2026 (H1) Instalasi 1.000‑2.000 base‑station di Region I (Jawa, Sumatera, Kalimantan Barat). Mulai layanan beta untuk 100.000 rumah tangga dengan paket Starter 100 Mbps.
2026 (H2) Penyelesaian 4.800 base‑station di seluruh Indonesia. Peluncuran resmi layanan Surge 5G FWA secara nasional.
2027‑2028 Ekspansi ke Region II & III, integrasi IoT & Smart City (smart agriculture, e‑health). Penambahan edge computing nodes untuk layanan low‑latency (gaming, AR/VR).
2029 Target penetrasi 30 % rumah tangga dengan paket FWA, kontribusi ≥ 2 % terhadap total broadband revenue di pasar Indonesia. Evaluasi model bisnis, pertimbangan merger‑acquisition dengan operator kecil.

7. Implikasi bagi Investor & Pemangku Kepentingan

  • Investor: Proyeksi CAGR pasar FWA Indonesia diperkirakan 23 % (2025‑2030). Dengan kapitalisasi awal USD 300 juta untuk CAPEX, ROI diperkirakan 12‑14 % dalam 5 tahun, didorong oleh margin EBITDA yang lebih tinggi dibanding fiber tradisional.
  • Pemerintah: Proyek selaras dengan Rencana Induk Pembangunan Infrastruktur (RIPI) 2025‑2035 dan Indonesia Digital Vision 2025. Dapat menjadi contoh sukses kemitraan publik‑swasta (PPP) dalam broadband universal.
  • Masyarakat: Akses internet berkecepatan tinggi dengan harga ≤ IDR 150.000/bulan untuk paket 100 Mbps, membuka peluang pendidikan daring, tele‑medicine, serta kerja jarak jauh di daerah yang sebelumnya terisolasi.

8. Kesimpulan

Kolaborasi Surge × OREX SAI bukan sekadar peluncuran layanan 5G FWA, melainkan titik balik strategis dalam transformasi digital Indonesia:

  1. Teknologi terbuka (Open RAN) menandai pergeseran paradigma dari model vendor‑tutup ke ekosistem kompetitif, yang dapat menurunkan biaya dan mempercepat inovasi.
  2. Spektrum 1,4 GHz memberikan keseimbangan optimal antara jangkauan luas dan kapasitas, cocok untuk geografi kepulauan Indonesia yang menantang.
  3. Model FWA memungkinkan pemerintah dan operator menembus wilayah yang sebelumnya tidak layak secara ekonomi bagi serat optik, mempercepat pencapaian Target Universal Service Obligation (USO).
  4. Kemitraan internasional dengan NTT DOCOMO dan NEC memperkuat transfer teknologi, memperluas kapabilitas SDM lokal, serta menempatkan Indonesia sebagai pionir implementasi Open RAN FWA secara global.

Jika tantangan regulasi, infrastruktur, dan keamanan dapat diatasi secara proaktif, proyek ini berpotensi menjadi katalisator utama bagi ekosistem digital Indonesia, menciptakan jaringan broadband yang fleksibel, terjangkau, dan inklusif—fondasi bagi ekonomi digital yang kompetitif pada dekade berikutnya.


Catatan: Analisis ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Semua pihak yang berkepentingan disarankan melakukan due‑diligence dan memantau kebijakan regulator serta perkembangan pasar secara berkelanjutan.