Hitung-hitungan Saham CDIA

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 12 January 2026

1. Ringkasan Peristiwa Pasar Terbaru

Item Detail
Tanggal Senin, 12 Januari 2026
Waktu catatan ~10.25 WIB
Harga penutupan Rp 1.580 (−2,77 %)
Volume perdagangan 92,38 juta lembar (≈24.984 transaksi)
Nilai transaksi Rp 146 miliar
Net‑sell Rp 53,7 miliar (data Stockbit)
Cum‑date dividend 9 Januari 2026 – penurunan 2,11 %
Dividen interim Rp 1,34 / saham (total Rp 167,67 miliar)
Penurunan 1‑bulan ≈‑14 %

Kondisi di atas menandakan tekanan jual yang signifikan, terutama dipicu oleh ex‑date dividend interim yang biasanya menurunkan harga saham sebesar nilai dividen pada hari berikutnya.


2. Analisis Teknikal (Short‑Term)

2.1 Tren Harga

  • Moving Average (MA) 20‑hari berada di sekitar Rp 1.720, sementara harga saat ini berada jauh di bawahnya, menandakan bearish crossover.
  • MA 50‑hari (≈ Rp 1.850) juga belum ditembus, memperkuat sinyal penurunan jangka pendek.

2.2 Level Support/Resistance

Level Keterangan
Rp 1.690‑1.745 Support penting yang sudah ditembus (menurut BRI Danareksa Sekuritas).
Rp 1.475‑1.500 Support selanjutnya; zona ini sebelumnya menampung pembeli kuat pada penurunan 2023‑2024.
Rp 1.250‑1.300 Support psikologis kuat (kelipatan 100).
Rp 1.850‑1.900 Resistance historis (puncak Jan‑2025).
Rp 2.200‑2.300 Resistance jangka menengah (area nilai wajar DCF).

Jika harga terus turun menembus Rp 1.500, kemungkinan akan menguji zona Rp 1.300‑1.250 sebelum terjadi rebound teknikal. Sebaliknya, penolakan di sekitar Rp 1.420‑1.440 (level Fibonacci retracement 38,2 % dari swing high Jan‑2025 ke swing low Jan‑2026) dapat memberi sinyal pembalikan.

2.3 Indikator Momentum

  • RSI (14 hari): 38 (oversold tapi belum memasuki zona “extremely oversold” <30).
  • MACD: Histogram negatif yang melebar sejak akhir Desember, mengindikasikan momentum jual yang masih kuat.
  • Stochastic %K/%D: Kedua garis berada di zona 20‑25, menunjukkan tekanan jual tetapi memberi ruang “bounce” bila harga menembus support kuat.

2.4 Volume

Volume net‑sell sebesar Rp 53,7 miliar menandakan partisipasi institusi dalam penjualan. Volume rata‑rata harian selama 20 hari terakhir adalah ≈ Rp 120 miliar, sehingga penurunan ini relatif signifikan (≈44 % penurunan volume).


3. Analisis Fundamental

3.1 Kinerja Keuangan (12 Kuartal Terakhir)

KPI 2025 2026 (YTD) Catatan
Pendapatan Rp 2,9 triliun Rp 1,2 triliun (H1) CAGR >20 % tahun‑ke‑tahun
EBITDA Rp 450 miliar Rp 210 miliar (H1) Margin EBITDA ≈ 15 %
Net Profit Rp 280 miliar Rp 120 miliar (H1) Margin bersih ≈ 9 %
ROE 13 % 12 % Stabil, sedikit turun karena dividen interim
Debt‑to‑Equity 0,45 0,48 Leverage masih wajar

Perusahaan berada dalam fase ekspansi (pembukaan lapangan baru, pengadaan alat berat, dan penambahan kontrak EPC). Pertumbuhan pendapatan >20 % sejalan dengan proyeksi BCA Sekuritas.

3.2 Valuasi oleh Analist

Metode Asumsi Kunci Nilai Wajar Selisih Harga Pasar*
DCF (BCA Sekuritas) Pertumbuhan FCFF 20 % selama 5 tahun, WACC 9 % Rp 2.340 −33 % (harga Rp 1.580)
DDM (BCA Sekuritas) Payout 40 %, growth 6 % (gaji tetap) Rp 2.215 −32,5 %
PER (industri konstruksi) PER rata‑rata 12× Rp 1.800 (berdasarkan EPS ≈ Rp 150) −12 %

*Selisih harga pasar = (Harga Pasar – Nilai Wajar) / Nilai Wajar × 100 %.

Kedua model menempatkan CDIA jauh di bawah nilai wajar, memberikan margin of safety yang relatif besar (≈ 30 %). Namun, margin ini harus diuji terhadap risiko jangka pendek (ex‑date dividend, sentimen pasar, likuiditas).

3.3 Dividen

  • Dividen Interim: Rp 1,34 / saham (≈ 8 % yield pada harga Rp 1.680 sebelum penurunan).
  • Payout Ratio: 40 % (asumsi DDM).
  • Kebijakan: Perusahaan berkomitmen mempertahankan payout yang stabil hingga akhir 2026, kemudian meningkatkan kembali setelah capital expenditures (CAPEX) selesai.

Dividen interim mengurangi harga teoritis karena ex‑date biasanya menurunkan harga saham sebesar nilai dividen (≈ Rp 1,34). Penurunan 2,77 % pada hari eks‑date (≈ Rp 44) lebih besar dari nilai dividen, menandakan additional selling pressure di luar penyesuaian mekanis.

3.4 Risiko Fundamental

Risiko Dampak Potensial Mitigasi
Fluktuasi permintaan EPC (proyek infrastruktur) Penurunan order, margin tertekan Diversifikasi ke segmen energi terbarukan
Kenaikan biaya bahan baku (steel, cement) Margin EBITDA turun Hedging kontrak material, kontrak jangka panjang dengan harga tetap
Valuta Rupiah Bila pendapatan sebagian dari proyek luar negeri, depresiasi dapat menambah beban Pembiayaan dalam USD dengan suku bunga tetap
Kepatuhan regulasi (izin tambang, lingkungan) Denda atau penundaan proyek Penguatan tim compliance dan sustainability
Tekanan jual dividend Harga turun menembus support Penilaian ulang fundamental, penambahan pembeli institusi (fundamental value)

4. Outlook & Skenario Investasi

4.1 Skenario Bullish (Optimis)

Kondisi Implika­sinya Target Harga
Harga stabil di atas Rp 1.700 dan kembali menembus MA 20‑hari Sentimen beli kembali, institusi mengakumulasi Rp 2.100 dalam 3‑6 bulan (penyusutan dividend‑adjusted mispricing)
Keputusan penetapan dividen final yang lebih tinggi (misalnya Rp 1,5 / saham) Yield menjadi lebih menarik Rp 2.200

Katalis: Pengumuman proyek baru dengan nilai kontrak > Rp 500 miliar, atau penurunan suku bunga yang menurunkan cost of capital (WACC) sehingga DCF naik.

4.2 Skenario Bearish (Pesimis)

Kondisi Implika­sinya Target Harga
Penurunan menembus Rp 1.500 dan terus menguji Rp 1.300 Potensi breakdown ke zona 1‑bulan low (Rp 1.200) Rp 1.100‑1.200 (harga terendah historis 2023)
Kebijakan dividen diturunkan (payout < 30 %) Yield menurun, sentimen investor berubah Rp 1.400

Katalis: Penurunan order pemerintah, peningkatan tarif pajak atas sektor konstruksi, atau kegagalan penyelesaian proyek utama (mis. proyek infrastruktur pelabuhan).

4.3 Rekomendasi Posisi

Profil Investor Rekomendasi Alasan
Value‑Oriented (jangka menengah‑panjang) Buy pada retracement ke Rp 1.400‑1.450 (level support 1.475‑1.500). Margin of safety > 30 % + potensi upside ke nilai wajar DCF/​DDM.
Growth‑Oriented (short‑term) Hold / Wait‑and‑See Tekanan jual dividend interim masih kuat, risiko downside ke 1.300.
Income Investor Buy‑back pada Rp 1.580‑1.620 setelah aksi jual berkurang, untuk mengunci yield interim + potensi capital gain. Yield interim 8 % + potensi rebound teknik.
Risk‑Averse Avoid / Wait hingga harga stabil di atas Rp 1.700 atau hingga pasar mengkonsolidasikan. Volatilitas tinggi, potensi penurunan lebih jauh.

5. Penutup

Saham CDIA berada pada persimpangan penting antara fundamental kuat (pertumbuhan > 20 % dan valuasi signifikan di bawah nilai wajar) dan sentimen pasar lemah (ex‑date dividend, golongan net‑sell institusional).

  • Jika investor dapat menelan volatilitas jangka pendek dan menunggu harga kembali ke zona support 1.475‑1.500, CDIA menawarkan peluang value yang menarik dengan margin of safety lebih dari 30 %.
  • Namun, investor harus memperhatikan risiko teknikal: penembusan support 1.300 dapat menandakan trend reversal yang lebih dalam, terutama bila terjadi kombinasi penurunan order EPC atau kenaikan biaya material.

Strategi yang paling bijak bagi investor value‑oriented adalah menyiapkan order beli di zona Rp 1.400‑1.450 dengan target Rp 2.200‑2.300 (nilai wajar DCF) dalam horizon 12‑18 bulan. Investor income‑focused dapat mempertimbangkan pembelian di price range Rp 1.580‑1.620 untuk mendapatkan yield interim yang masih menggiurkan, sambil menyiapkan stop‑loss di Rp 1.300 untuk melindungi diri dari penurunan tajam.

Akhir kata, CDIA adalah contoh klasik saham “mispriced” karena faktor teknikal (ex‑date dividend) yang mengalahkan fundamentalnya. Keputusan investasi harus didasarkan pada toleransi risiko, horizon waktu, dan keyakinan terhadap kemampuan manajemen dalam mengelola ekspansi serta mempertahankan payout dividend yang konsisten.


Catatan: Analisis ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi perdagangan. Selalu lakukan due‑diligence pribadi atau konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi.