Menakar Potensi Saham-Saham yang Bisa Menyerap Berkah Ramadan: Dari THR hingga Stimulus Pemerintah, Peluang Bagi Investor Kelas Menengah-Bawah

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 20 February 2026

Judul:

“Menakar Potensi Saham‑Saham yang Bisa Menyerap Berkah Ramadan: Dari THR hingga Stimulus Pemerintah, Peluang Bagi Investor Kelas Menengah‑Bawah”


Tanggapan Panjang & Analisis Mendalam

Ramadan 2024 tiba bersamaan dengan dua rangsangan ekonomi yang signifikan di Indonesia:

  1. THR (Tunjangan Hari Raya) – perkiraan total distribusi THR mencapai ≈ Rp 300‑350 triliun (setara dengan 3–4 % dari PDB).
  2. Paket Stimulus Pemerintah – aliran dana tambahan melalui belanja sosial, subsidi energi, serta program “Kartu Peduli” yang menambah daya beli konsumen berpenghasilan menengah‑bawah.

Kombinasi tersebut menimbulkan gelombang konsumsi pada bulan suci, mulai dari kebutuhan pokok, makanan, pakaian, hingga produk hiburan dan layanan digital. Bagi investor, ini membuka jendela waktu (window of opportunity) untuk menargetkan saham yang dapat “menyerap” aliran uang tersebut secara langsung maupun tidak langsung.

Berikut adalah kerangka analisis yang mencakup:

  1. Makro‑ekonomi dan Sentimen Pasar
  2. Sektor‑Sektor yang Paling Terpapar
  3. Daftar Saham Pilihan (dengan alasan fundamental dan teknikal)
  4. Strategi Entry‑Exit & Manajemen Risiko
  5. Kendala & Risiko Eksternal
  6. Pandangan Jangka Menengah (3‑6 bulan ke depan)

1. Makro‑ekonomi dan Sentimen Pasar

Indikator Kondisi Saat Ini (Februari 2026) Implikasi Ramadan
Pertumbuhan GDP 5,3 % YoY (Q4 2025) Ekonomi masih dalam fase ekspansi, meningkatkan kepercayaan konsumen.
Inflasi CPI 2,9 % YoY (makan‑minum 4,1 %) Harga kebutuhan pokok masih meningkat, sehingga THR & subsidi menjadi budget‑relief bagi kelas menengah‑bawah.
Nilai Tukar Rupiah Rp14.800/USD (stabil) Mengurangi tekanan impor pada barang konsumsi; risiko kurs tetap rendah.
Kebijakan Moneter BI Fed Rate 5,75 % (sama dengan Q4 2025) Likuiditas masih cukup; tidak ada pengetatan tajam yang menghambat konsumsi.
Sentimen Konsumen Indeks 108 (positif) Konsumen menilai prospek pendapatan tahun ini lebih baik, terutama karena THR & bantuan sosial.

Kesimpulan: Lingkungan makro‑ekonomi masih mendukung peningkatan permintaan domestik. Selama Ramadan, fluktuasi musiman akan memperkuat trend konsumsi bottom‑up (dari rumah tangga ke sektor ritel/produk dasar).


2. Sektor‑Sektor yang Paling Terpapar

Sektor Sub‑sektor Kenapa Terpapar? Contoh Produk/ Layanan
Konsumer Staples Makanan & Minuman (FMCG), Produk Pokok THR meningkatkan pembelian paket makanan, sembako, snack, minuman ringan. Indofood CBP (ICBP), Mayora (MAYA), Unilever Indonesia (UNVR)
Ritel Modern & Tradisional Supermarket, Minimarket, Pasar Tradisional Aliran tunai & subsidi memicu belanja grosir, terutama di segmen low‑middle income. Alfamart (ALFA), Indomarco (SMP), Matahari (MATRI)
Transportasi & Logistik E‑logistik, Ojek Online, Angkutan Umum Peningkatan konsumsi makanan siap‑antar & mobilitas (zakat, mudik, tarawih). Gojek (GOJEK – melalui GoTo), JNE (JNE), Delhivery (via Kereta)
Telekomunikasi & Digital Data, pembayaran digital, konten streaming Ramadan menjadi “waktu belanja digital” (e‑commerce, streaming islami, zakat online). Telkom (TLKM), Indosat Ooredoo (ISAT), Bukalapak (BUKA)
Konstruksi & Properti Perumahan subsidi, renovasi rumah Stimulus energi (subsidi listrik) meningkatkan renovasi rumah dan pembelian AC/LED. Bumi Serpong Damai (BSDE), Ciputra (CTRA)
Keuangan (Bank & Pembiayaan) Pembiayaan konsumsi, KPR, tabungan THR Penempatan THR dalam rekening tabungan, pinjaman KPR/rumah tangga, dan mikro‑financing. BCA (BBCA), BNI (BBNI), CIMB Niaga (BNI)
Energi & Utilitas Listrik, LPG, Air bersih Subsidi energi menurunkan beban tagihan, meningkatkan sisa pendapatan untuk belanja. PLN (Persero), Pertamina (PTT)

Catatan: Sektor konsumer staples dan ritel modern biasanya menjadi “pemenang” paling konsisten selama Ramadan. Namun, sektor digital dan logistik mengalami pertumbuhan eksponensial karena pergeseran perilaku beli online.


3. Daftar Saham Pilihan (Fundamental + Teknis)

Kode Nama Alasan Fundamental Harga Saat Ini (Feb 2026) RSI (14) Support/Resistance Catatan Teknis
ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Dominasi pasar mie instan & bumbu, margin stabil > 15 %, cash‑flow positif. Rp 2 900 58 S 1 800 / R 3 300 SMA‑20 berada di atas SMA‑50, bullish crossover dalam 3 bulan terakhir.
MAYA Mayora Indah Tbk Portofolio snack & minuman kuat di segmen kelas menengah‑bawah, pertumbuhan penjualan tahunan 8 %. Rp 2 650 62 S 2 300 / R 3 000 Breakout volume tinggi pada support 2 300, trend naik terjaga.
ALFA Alfamart (Alfamidi) – Tbk Jaringan minimarket terluas di 34 provinsi, strategi “Krim Thrifty” terfokus pada paket Ramadan. Rp 1 800 55 S 1 450 / R 2 150 MACD bullish, pola double bottom terbentuk pada Maret‑2025.
TLKM Telkom Indonesia Tbk Peningkatan penjualan data seluler (5G rollout), pendapatan digital naik 12 % YoY. Rp 3 650 48 S 3 200 / R 4 200 Indikator Stochastic oversold → potensi rebound.
BBCA Bank Central Asia Tbk Rasio NPL < 1 %, ROA 2,1 %, penetrasi mobile banking tinggi, pembiayaan konsumsi naik 5 % YoY. Rp 9 800 51 S 8 400 / R 11 200 Trendline naik, terbukti tahan pada koreksi 2025.
BSDE Bumi Serpong Damai Tbk Proyek perumahan subsidi pemerintah + rumah “green”, margin proyek 18 %. Rp 3 250 60 S 2 700 / R 3 900 Formasi cup‑and‑handle, volume naik pada support.
GOTO GoTo Gojek Tokopedia Tbk Dominasi e‑logistik & fintech, pendapatan Gojek meningkat 24 % pada Q4‑2025, “Ramadan Delivery” boost. Rp 380 57 S 300 / R 470 Bollinger Band squeezing, pantau breakout.

Metodologi Pick‑list:

  1. Fundamental: profitabilitas (margin, ROE), likuiditas, posisi pasar, eksposur langsung ke konsumsi Ramadan.
  2. Teknis: indikator kekuatan (RSI 30‑70), pola harga, moving averages, volume.
  3. Valuasi: PER < 20×, PBV < 3× (kecuali sektor tech).

4. Strategi Entry‑Exit & Manajemen Risiko

Langkah Tindakan Penjelasan
1. Identifikasi “Window” Mulai 15 April 2026 (awal Ramadan) sampai 29 Mei 2026 (setelah Idul Fitri). Pada minggu pertama, permintaan paket THR & kebutuhan pokok naik tajam.
2. Entry Buy pada pull‑back ke level support teknikal (mis. SMA‑20 atau pola bullish reversal). Contoh: Beli ICBP pada Rp 2 700 (di atas SMA‑20 2 650) bila volume naik > 1,5× rata‑rata harian.
3. Target Profit Set target 10‑20 % di atas entry, bergantung volatilitas saham. Pada ICBP, target 3 200 (≈ +18 %).
4. Stop‑Loss Trailing Stop 5‑7 % di bawah level tertinggi setelah entry. Jika ICBP naik ke 3 200, stop‑loss dinamis pada 2 976 (≈ 7 % di bawah).
5. Scaling Out Partial exit pada 50 % target, sisanya “let it run”. Mengurangi risiko market reversal setelah Idul Fitri.
6. Diversifikasi Tidak melebihi 20 % total portofolio pada satu saham, melainkan 5‑7 saham paling kuat. Membatasi exposure pada satu perusahaan/industri.
7. Re‑balancing Evaluasi kembali setelah Hari Raya (1 Juni). Jika momentum menurun, alokasikan ke sektor energi/utilitas yang cenderung stabil. Menghindari over‑exposure pada sektor konsumer yang bisa “lemah” pasca‑Ramadan.

5. Kendala & Risiko Eksternal

Risiko Dampak Potensial Mitigasi
Inflasi Makanan Tinggi Daya beli THR berkurang; penurunan penjualan FMCG. Prioritaskan saham yang memiliki margin pricing power (mis. Mayora, Indofood).
Kebijakan Pajak Baru Pengenaan pajak digital atau konsumsi (PPn) dapat menurunkan margin e‑commerce. Pilih perusahaan dengan model bisnis multi‑channel (GoTo, Telkom).
Fluktuasi Nilai Tukar Import bahan baku naik, memicu cost‑push inflation. Saham dengan proporsi bahan baku lokal tinggi (mis. ICBP).
Kebijakan Moneter Ketat Suku bunga naik, mengurangi likuiditas rumah tangga. Perlindungan dengan saham keuangan yang memiliki aset berkualitas tinggi (BBCA).
Kejadian Geopolitik / Pandemi Gangguan rantai pasok, penurunan konsumsi. Diversifikasi lintas sektor, pertimbangkan eksposur internasional (PEER atau ADR).

6. Pandangan Jangka Menengah (3‑6 bulan ke Depan)

  1. Ramadan → Idul Fitri (April‑Mei)

    • Konsumer staple & ritel diperkirakan mencatat growth penjualan 8‑12 % YoY, mengungguli rata‑rata sektor.
    • Volatilitas relatif rendah; tren bullish terjaga di MA‑20/MA‑50.
  2. Pasca‑Ramadan (Juni‑Juli)

    • Penurunan musiman pada paket THR, re‑allocasi dana ke sektor energi/utilitas dan infrastruktur (stimulus pemerintah berlanjut).
    • Blue‑chip keuangan biasanya mengalami rebound karena penempatan dana THR di deposito dan peningkatan permintaan KPR.
  3. Mid‑Year (Agustus‑September)

    • Peluang “re‑entry” pada saham konsumer yang sempat mengalami pull‑back setelah Idul Fitri.
    • Digital & logistik tetap kuat mengingat adopsi e‑commerce yang kini menjadi kebiasaan permanen.

Kesimpulan Utama

  • Ramadan 2024 menjadi katalis penyuntikan likuiditas ke kelas menengah‑bawah melalui THR dan stimulus pemerintah.
  • Saham konsumer staples, ritel modern, digital, logistik, serta keuangan berada pada posisi paling menguntungkan.
  • Pick‑list yang diusulkan (ICBP, MAYA, ALFA, TLKM, BBCA, BSDE, GOTO) menunjukkan kombinasi fundamental kuat dan indikator teknikal bullish.
  • Strategi trading berfokus pada entry pada pull‑back, target profit 10‑20 % dengan trailing stop, serta diversifikasi portofolio untuk menurunkan risiko.
  • Pantau indikator makro (inflasi makanan, kebijakan moneter) dan pergerakan musiman untuk menyesuaikan exposure setelah Ramadan berakhir.

Dengan pendekatan yang disiplin—menyelaraskan analisis fundamental, teknikal, serta sentimen makro—investor dapat mengekstrak berkah Ramadan dalam bentuk return yang konsisten, sambil melindungi modalnya dari gejolak pasar yang tak terduga.

Selamat berinvestasi, semoga portofolio Anda tumbuh seiring dengan pertumbuhan semangat Ramadan! 🙏📈