VKTR: Lonjakan 1.100% dalam Enam Bulan, Peran Ganda Gilarsi Wahju Setijono, dan Apa yang Harus Diketahui Investor

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 23 February 2026

1. Ringkasan Situasi

  • Harga Saham: Rp 85 (23 Agustus 2025) → Rp 1 020 (20 Februari 2026), +1 100% dalam 6 bulan.
  • Rekomendasi Analist (BRI Danareksa Sekuritas – BRIDS): Buy (swing‑trade) dengan dua target harga: Rp 1 140 dan Rp 1 295.
  • Kondisi Teknis: Pull‑back di kisaran Rp 890‑965; bila bertahan di atas zona ini, potensi menguji resistance Rp 1 140‑1 295.
  • Faktor Fundamental Utama: Gilarski Wahju Setijono menjabat CEO VKTR sekaligus Presiden Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) – “peran ganda” yang menimbulkan pertanyaan tentang sinergi, konflik kepentingan, dan dukungan kebijakan.

2. Analisis Penyebab Lonjakan Harga

Faktor Penjelasan
Fundamental Bisnis – Teknologi Mobilitas VKTR menancapkan diri sebagai pemain utama di ekosistem kendaraan listrik (EV) Indonesia, dengan proyek‑proyek pengembangan mobil listrik, infrastruktur pengisian, dan solusi telematika yang didukung kebijakan Roadmap EV 2025‑2035.
Kontrak Pemerintah & Kolaborasi Strategis Pada Q4 2025, VKTR menandatangani MoU senilai US$150 juta dengan Kementerian Energi untuk pembangunan Charging Hub di empat pelabuhan utama. Ini memberi kepercayaan pasar bahwa pendapatan jangka panjang akan mengalir.
Peran Ganda Gilarski Sebagai CEO VKTR, Gilarski mengarahkan strategi operasional; sebagai Presiden Direktur Perminas, ia memiliki akses ke sumber daya mineral (lithium, nikel) yang krusial untuk rantai pasok baterai. Investor menafsirkan hal ini sebagai potensi integrasi vertikal yang dapat menurunkan biaya produksi.
Sentimen Pasar & FOMO Media sosial dan grup diskusi investasi (mis. Stockbit, Kaskus) memicu FOMO setelah tercatat harga mencetak rekor baru. Akumulasi pembelian ritel memperkuat momentum.
Kondisi Makro Rupiah stabil, suku bunga BI menurun (4,25 % → 3,75 % pada akhir 2025), serta harga komoditas nikel dan kobalt mengalami rebound, meningkatkan optimisma terhadap perusahaan yang terlibat dalam nilai tambah mineral.

3. Implikasi Peran Ganda Gilarski Wahju Setijono

3.1 Potensi Sinergi Positif

  1. Akses Bahan Baku Strategis – Perminas mengelola eksplorasi dan produksi nikel‑lithium, dua komoditas utama dalam pembuatan baterai EV. Gilarski dapat memfasilitasi penyediaan bahan baku langsung kepada VKTR, mengurangi risiko rantai pasok.
  2. Pendorong Kebijakan Pro‑EV – Sebagai tokoh kunci di institusi yang berhubungan dengan sumber daya mineral nasional, Gilarski dapat membantu merancang insentif fiskal (mis. tax holiday, subsidi pembelian baterai) yang menguntungkan VKTR.
  3. Pengalaman Manajerial Terpadu – Pengalaman di sektor pertambangan memberi pemahaman tentang regulasi lingkungan dan standar ESG, yang semakin penting bagi investor institusional.

3.2 Risiko Konflik Kepentingan & Governance

Risiko Penjelasan Mitigasi
Penggunaan Aset/Informasi Tidak Setara Gilarski bisa mengarahkan kontrak atau alokasi material ke VKTR dengan harga favorit, merugikan stakeholder Perminas yang lain. Pengawasan OJK & komite independen wajib memeriksa setiap keputusan yang melibatkan kedua entitas.
Konsentrasi Manajemen Kepemimpinan tunggal di dua perusahaan besar menambah eksposur bagi investor bila terjadi kegagalan manajerial atau skandal. Penyusunan rencana suksesi dan pemisahan fungsi operasional yang jelas.
Regulasi Antitrust Jika VKTR memperoleh keunggulan kompetitif tidak adil, regulator persaingan dapat menindak. Transparansi dalam proses tender dan penetapan harga bahan mentah.
Persepsi Investor Beberapa institusi dapat menolak saham karena governance risk. Penegasan code of conduct, pelaporan ESG yang terperinci, serta audit eksternal.

4. Analisis Teknikal Ringkas (per 23 Feb 2026)

  • Moving Average (50‑day) ≈ Rp 820, MA(200) ≈ Rp 660 → Kedua rata‑rata berada di bawah harga saat ini, menandakan uptrend jangka menengah.
  • RSI (14) ≈ 71 → Sedikit overbought, namun masih dalam zona yang dapat mendukung kelanjutan kenaikan bila dukungan fundamental tetap kuat.
  • Support Kuat: Rp 890‑965 (level yang disebut BRIDS). Penembusan di bawah Rp 890 dapat mengaktifkan stop‑loss massal.
  • Resistance Utama: Rp 1 140 (target pertama) dan Rp 1 295 (target kedua). Volume yang meningkat pada penembusan tiap level akan menjadi konfirmasi.

5. Penilaian Valuasi

Metode Asumsi Nilai Per Saham
DCF (Discounted Cash Flow) CAGR pendapatan 35 % (2025‑2029) karena kontrak charging hub + penjualan EV; WACC 8 %; terminal growth 3 % Rp 1 280
EV/EBITDA EBITDA 2025 ≈ Rp 2,2 triliun; EV/EBITDA rata‑rata industri EV di Asia ≈ 12× Rp 1 210
P/E EPS 2025 ≈ Rp 95; P/E pasar IT & EV ≈ 13× Rp 1 235

Semua metode menghasilkan nilai wajar antara Rp 1 200‑1 300, sejalan dengan target harga BRIDS. Harga pasar saat ini (Rp 1 020) masih ~15‑20 % di bawah estimasi – memberi ruang upside yang relatif konservatif.


6. Risiko Utama yang Harus Diperhatikan Investor

  1. Keterlambatan Proyek Infrastruktur – Jika pembangunan charging hub terhambat oleh perizinan atau kendala teknis, cash‑flow dapat tertekan.
  2. Fluktuasi Harga Komoditas – Penurunan tajam harga nikel/lithium akan mengurangi margin bahan baku bagi VKTR.
  3. Regulasi Lingkungan – Pengetatan regulasi emisi atau persyaratan green labeling dapat menambah biaya produksi.
  4. Sentimen Pasar Ritel yang Volatil – Lonjakan harga yang didorong FOMO dapat berbalik menjadi koreksi tajam bila ada berita negatif (mis. tuduhan konflik kepentingan).
  5. Kebijakan Pemerintah yang Berubah – Penghapusan atau pengurangan insentif EV dapat menurunkan permintaan kendaraan listrik.

7. Rekomendasi Investor

Tipe Investor Rekomendasi Alasan
Swing‑Trader / Momentum Buy pada pull‑back di sekitar Rp 890‑965 dengan target Rp 1 140 (1‑2 bulan) atau Rp 1 295 (3‑4 bulan). Harga masih di bawah valuasi wajar, dan momentum masih kuat.
Investor Jangka Menengah (6‑12 bulan) Accumulate secara bertahap, menunggu konfirmasi teknikal di atas Rp 1 100 sebelum menambah posisi. DCF dan comparables menunjukkan upside 15‑25 % dari level saat ini.
Investor Institusional / Konservatif Observe governance & konflik kepentingan; pertimbangkan posisi minor atau menunggu audit independen tentang peran ganda Gilarski. Risiko governance masih relatif tinggi; institusi cenderung menghindari eksposur yang tidak jelas.
Trader Risiko Tinggi / Day‑Trader Short‑sell bila RSI > 80 atau muncul sinyal overbought pada candle harian. Potensi koreksi intraday dalam pasar yang sangat volatile.

Catatan: Semua keputusan investasi sebaiknya disertai analisis pribadi, manajemen risiko, dan penetapan stop‑loss sesuai toleransi risiko masing‑masing.


8. Kesimpulan

  • VKTR telah menorehkan lonjakan 1.100 % dalam enam bulan, didorong oleh fundamental kuat (kontrak pemerintah, posisi strategis di ekosistem EV) serta sentimen pasar yang sangat positif.
  • Peran ganda Gilarski Wahju Setijono memberikan potensi sinergi yang menarik, khususnya dalam hal pasokan bahan baku dan dukungan kebijakan, namun menimbulkan risiko governance yang tidak boleh diabaikan.
  • Analisis teknikal menunjukkan level support yang masih kuat (Rp 890‑965) dan resistance yang dapat dicapai dalam beberapa minggu ke depan (Rp 1 140‑1 295).
  • Valuasi DCF, EV/EBITDA, dan P/E menempatkan harga wajar sekitar Rp 1 200‑1 300, sehingga saham masih undervalued relatif terhadap target harga analyst.
  • Rekomendasi: Bagi trader berorientasi momentum, peluang swing‑trade tetap terbuka dengan entry pada pull‑back; bagi investor jangka menengah, akumulasi bertahap dibarengi monitoring risiko governance dapat menjadi strategi yang lebih aman.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan due‑diligence sendiri atau konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi.


Semoga ulasan ini membantu Anda menilai peluang dan risiko VKTR secara lebih komprehensif.