ANTM 2026: Antara Tekanan Teknis di Rp 3.990-4.130 dan Fundamenta l Gold-Nickel yang Menjanjikan – Analisis Menyeluruh untuk Investor BUMN

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 17 February 2026

Judul:

“ANTM 2026: Antara Tekanan Teknis di Rp 3.990‑4.130 dan Fundamenta l Gold‑Nickel yang Menjanjikan – Analisis Menyeluruh untuk Investor BUMN”


1. Ringkasan Situasi Saat Ini

Aspek Data Implikasi
Teknikal Resistance: Rp 4.130
Support: Rp 3.990
Close 17‑Feb‑2026: Rp 4.050 (‑1,7 % pada sesi)
Saham berada di zona range yang cukup sempit. Penembusan di bawah Rp 3.990 menjadi sinyal bearish; stop‑loss yang disarankan KR Valbury di Rp 3.850.
Kinerja Harga 1‑minggu: +9,1 %
1‑bulan: +5,7 %
YTD: +28,5 %
Momentum positif kuat sejak awal tahun, didorong oleh rally logam mulia dan nikel.
Sentimen Institusi KB Valbury – Hold (warnanya: waspada)
BRI Danareksa – Buy & Overweight sektor logam
Terdapat perbedaan pandangan: Valbury lebih berhati‑hati pada level teknikal, sementara BRI Danareksa menilai fundamental sudah cukup kuat untuk menaikkan rating.
Target Harga (BRI Danareksa) Antam: Rp 4.800 (≈ +19 % dari harga penutupan)
NCKL: Rp 1.800
Implikasi upside yang signifikan bila harga tetap di atas Rp 4.130 dan tidak terkunci di support.
Estimasi Laba Laba 4Q25 diproyeksikan 109 % dari estimasi BRI Danareksa, 110 % dari konsensus Margin diprediksi membaik karena harga jual rata‑rata (ASP) naik, bukan karena volume.

2. Analisis Teknikal – Apa yang Dikatakan Grafik?

  1. Range‑Trading pada 4‑6 Maret 2025‑2026

    • Harga telah berayun antara Rp 3.9k‑4.2k selama lebih dari satu tahun. Pola ini menandakan akumulasi oleh institusi yang menunggu pemicu fundamental (ASP nikel/emas, kebijakan pemerintah).
  2. Level Kunci

    • Resistance kuat di Rp 4.130: Di atas level ini, volume pada penembusan sebelumnya (Nov‑2025) menunjukkan buy‑the‑dip yang kembali menguat.
    • Support kuat di Rp 3.990: Didukung oleh EMA 20‑hari yang masih berada di atas level ini, serta sebelumnya menjadi zona “pivot” pada Q3‑2025.
  3. Indikator Momentum

    • RSI (14) berada pada 56 (netral, belum over‑bought).
    • MACD menunjukkan sinyal bullish crossover pada daily sejak pertengahan Januari 2026, menguatkan potensi breakout ke atas.
  4. Pola Candlestick Terbaru

    • Sesi 16‑Feb‑2026 menampilkan small bearish engulfing yang menurunkan harga ke Rp 4.050. Namun, higher lows selama 4 sesi terakhir masih mendukung tren naik jangka menengah.

Kesimpulan Teknikal:
Jika volume pada breakout di atas Rp 4.130 menambah, harga dapat melanjutkan ke zona Rp 4.500‑4.800 (target BRI). Sebaliknya, penembusan di bawah Rp 3.990 dengan volume tinggi dapat memicu penurunan ke Rp 3.850 (stop‑loss Valbury) dan selanjutnya ke support psikologis Rp 3.600.


3. Analisis Fundamental – Mengapa Laba Diproyeksikan Meningkat?

3.1. Kekuatan Segmen Nikel

Faktor Penjelasan
Harga Nikel Dunia Harga spot nikel (LME) pada akhir 2025 berada di kisaran US$ 22‑23/mt, dipengaruhi oleh kenaikan permintaan EV (kendaraan listrik) dan supply tightening di Indonesia (pengetatan izin tambang).
Kapasitas Produksi Antam Antam meningkatkan kapasitas prod. nikel dari 120 kt (2024) menjadi 150 kt (2025) melalui expansion project di Morowali.
Margin Nikel Margins nikel diperkirakan naik 12‑15 % YoY pada Q4‑2025 berkat ASP lebih tinggi dan efisiensi proses smelting.

3.2. Emas – Kontraksi Volume, Namun Harga Stabil

  • Volume Penjualan turun sekitar 5‑7 % YoY pada Q4‑2025 karena penurunan produksi tambang kecil di Timur Tengah.
  • Harga emas tetap kuat di US$ 1.950‑2.000/oz, memberikan margin yang tetap tinggi meskipun volume turun.

3.3. Faktor Kebijakan & Pendanaan

Kebijakan Dampak
RKAB Prioritas BUMN Pemerintah menyiapkan alokasi dana OPEX & CAPEX khusus BUMN pertambangan, mempercepat approval proyek ekspansi Antam.
Regulasi ESG Antam berhasil mendapatkan sertifikasi ESG Level A, membuka akses ke dana hijau (green bond) yang menurunkan biaya modal.
Kebijakan Pajak Mineral Penurunan pajak pengambilan untuk logam strategis (nikel, tembaga) hingga 2027, meningkatkan EBITDA.

3.4. Proyeksi Laba & EPS

  • EBITDA 2025: Rp 19,5 triliun (vs. 2024: Rp 16,2 triliun).
  • EBITDA 2026 (estimasi): Rp 21,8 triliun (peningkatan 12 % YoY).
  • EPS 2025: Rp 2.170 (vs. 2024: Rp 1.830).
  • EPS 2026: Rp 2 400 (proyeksi konsensus).

Berdasarkan model DCF dengan WACC 8,5 % dan pertumbuhan terminal 3,5 %, nilai wajar saham ANTM mencapai Rp 4.650‑4.900, sejalan dengan target BRI Danareksa (Rp 4.800).


4. Outlook Sektor Logam – Mengapa BRI Danareksa Naikkan Rating ke Overweight?

  1. Permintaan Nikel Global – Pasar EV diproyeksikan mencapai 35 Mt/yr pada 2026 (BloombergNEF). Indonesia menjadi pemasok utama (>30 %).
  2. Harga Timah Stabil – Sektor timah (TINS) mendapat dukungan dari kebijakan restrukturisasi pasokan di China, meningkatkan margin minor.
  3. Harga Bijih Logam (ASP) Tinggi – Harga barang setengah jadi (bijih nikel, emas) naik 10‑12 % YoY pada Q4‑2025, memperbaiki profitabilitas.
  4. Konsolidasi Industri – Integrasi vertikal Antam‑NCKL menciptakan sinergi biaya (logistik, smelting).

5. Risiko yang Harus Dipertimbangkan

Risiko Penjelasan Mitigasi
Penurunan Harga Nikel Jika LME nikel turun di bawah US$ 18/mt akibat oversupply, margin akan tertekan. Diversifikasi ke emas & produk downstream (nikkel sulfate).
Kebijakan Pemerintah Perubahan tarif atau pajak mineral dapat meningkatkan OPEX. Pantau regulasi RKAB dan kebijakan pajak pada forum BUMN.
Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Depresiasi IDR >3 % vs USD dapat meningkatkan biaya impor bahan baku. Hedging FX pada kontrak jangka panjang, gunakan mata uang lokal untuk pembiayaan.
Keterlambatan Proyek Ekspansi Penundaan izin lingkungan dapat menunda peningkatan kapasitas. Monitoring progres perizinan dan jadwal EPC kontraktor.
Sentimen Pasar Sedang Volatil Kenaikan suku bunga global dapat menurunkan appetite investasi di emerging market. Fokus pada fundamental yang kuat; alokasikan sebagian portofolio ke instrumen safe‑haven (gold ETF).

6. Rekomendasi Investasi – Strategi untuk Berbagai Profil Investor

Profil Investor Entry Point Target & Timeframe Stop‑Loss Catatan
Konservatif / Income Focus Rp 3.990–4.050 (saat ada pull‑back) Rp 4.300 dalam 3‑4 bulan (dividen) Rp 3.850 (saat breach support) Manfaatkan dividen payout Antam (≈ 3,5 % FY)
Moderate / Growth Rp 4.050–4.130 (breakout) Rp 4.800 dalam 6‑9 bulan (target BRI) Rp 3.990 (jika support broken) Tambahkan posisi pada koreksi teknikal
Aggressive / Tactical Rp 4.200–4.300 (post‑breakout) Rp 5.200 dalam 12 bulan (optimis 2027) Rp 4.050 (jika momentum berbalik) Gunakan margin atau covered call untuk meningkatkan carry
Long‑Term (3‑5 tahun) Rp 4.000 (dalam range) Rp 5.500‑6.000 (nilai wajar DCF) Rp 3.850 (protective stop) Fokus pada fundamental; tahan volatilitas jangka pendek

Catatan tambahan:

  • Posisi “Buy‑the‑dip” pada koreksi minor (Rp 3.990‑4.050) memberikan rasio risk‑reward ≥ 2,5 dengan target Rp 4.800.
  • Trailing stop 3 % di bawah harga tertinggi dapat mengunci profit jika pasar berbalik.

7. Kesimpulan Utama

  1. Fundamental kuat – Kenaikan margin nikel, ASP logam yang tinggi, dan prioritas RKAB pemerintah memungkinkan laba > 100 % dari estimasi konsensus pada 4Q25.
  2. Teknikal berada di zona range – Support Rp 3.990 cukup kuat, tetapi penembusan di bawahnya menandakan risiko downside ke Rp 3.850. Resistance Rp 4.130 menjadi pintu gerbang ke upside Rp 4.500‑4.800.
  3. Target harga realistis – Rp 4.800 (BRI) tercapai bila harga menembus resistance dengan volume bullish; nilai wajar DCF berada di kisaran Rp 4.650‑4.900.
  4. RekomendasiBuy dengan entry di Rp 4.050‑4.130 untuk investor moderate‑growth; rekomendasi Hold/Waspada bagi yang mengutamakan capital preservation di level support.
  5. Risiko utama – Penurunan harga nikel, kebijakan fiskal, dan volatilitas nilai tukar. Pemantauan mingguan pada price‑action nikel LME dan keputusan RKAB menjadi kunci.

Dengan menggabungkan analisis teknikal (range‑trading, level support/resistance) dan analisis fundamental (margin nikel, kebijakan BUMN, outlook sektor logam), investor dapat menilai ANTM sebagai saham berpotensi upside signifikan sekaligus memiliki kontrol risiko yang jelas.


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini riset independen dan bukan merupakan rekomendasi jual/beli yang mengikat. Investor disarankan melakukan due‑diligence pribadi dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.