Kasus Penjualan Besar Asing di Bursa IDX 25 Feb 2026: Apa Akar-Akarnya, Dampaknya pada IHSG, dan Implikasi bagi Investor Lokal
Oleh: Admin |
Dipublikasikan: 26 February 2026
1. Ringkasan Peristiwa
- Tanggal: Rabu, 25 Februari 2026
- IHSG: Ditutup menguat 41,4 poin (+0,5 %) pada level 8.322,2 meski terjadi aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing pada sejumlah saham.
- Volume & Nilai Transaksi: 49,3 miliar lembar (≈ 2,78 juta transaksi) dengan total nilai Rp 28,26 triliun.
- Distribusi Saham: 357 saham naik, 348 turun, 253 stagnan.
- 10 Saham Terbesar Net‑Sell Asing (nilai penjualan bersih):
| No | Kode / Nama Saham | Net‑Sell (Rp miliar) |
|---|---|---|
| 1 | BUMI – PT Bumi Resources Tbk | 98,4 |
| 2 | BMRI – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk | 82,0 |
| 3 | MBMA – PT Merdeka Battery Materials Tbk | 81,1 |
| 4 | INKP – PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk | 64,5 |
| 5 | BRMS – PT Bumi Resources Minerals Tbk | 54,8 |
| 6 | CUAN – PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk | 42,4 |
| 7 | BULL – PT Buana Lintas Lautan Tbk | 27,0 |
| 8 | INDF – PT Indofood Sukses Makmur Tbk | 25,4 |
| 9 | ENRG – PT Energi Mega Persada Tbk | 25,2 |
| 10 | BREN – PT Barito Renewables Energy Tbk | 23,8 |
2. Analisis Penyebab Aksi Jual Besar Asing
a. Sentimen Global & Makroekonomi
- Risk‑off di Pasar Global – Pada awal Februari 2026, data ekonomi utama (AS, EU, China) menunjukkan tekanan inflasi yang masih tinggi, bersamaan dengan pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve dan ECB. Investor asing cenderung menyesuaikan portofolio ke aset yang lebih “safe‑haven” (USD, obligasi pemerintah) atau mengalihkan dana ke pasar lain yang menawarkan yield lebih menarik.
- Kinerja Komoditas – Harga logam dasar (tembaga, nikel) mengalami penurunan moderat akibat perlambatan permintaan di China. Hal ini memengaruhi saham‑saham komoditas seperti BUMI, BRMS, dan BREN yang sangat tergantung pada harga mata uang dunia.
b. Fundamental Perusahaan Tertentu
| Saham | Faktor Fundamental yang Mungkin Membatasi Kepercayaan Asing |
|---|---|
| BUMI | Penurunan harga batu bara & batuan mineral, serta tuntutan regulasi lingkungan yang semakin ketat di Indonesia. |
| BMRI | Kenaikan NPL (Non‑Performing Loan) pada kuartal I 2026 karena penurunan kualitas kredit di sektor UMKM & sektor riil. |
| MBMA | Proyek Battery Materials masih dalam fase pengembangan, sehingga meningkatkan risiko eksekusi dan ketergantungan pada kebijakan subsidi pemerintah. |
| INKP | Harga pulp & kertas melemah, dan kapasitas produksi berlebih di Asia Tenggara menambah tekanan margin. |
| BRMS | Nilai cadangan mineral dipertanyakan setelah audit independen menurunkan estimasi cadangan. |
| CUAN | Proyek infrastruktur yang belum menyelesaikan fase engineering design, memicu penundaan cash‑flow. |
| BULL | Kinerja operasional menurun akibat fluktuasi tarif bahan bakar dan penurunan permintaan jasa logistik di sektor maritim. |
| INDF | Margin profitabilitas terdampak oleh kenaikan biaya bahan baku (gula, minyak kelapa sawit) dan fluktuasi nilai tukar. |
| ENRG | Proyek energi terbarukan mengalami penundaan perizinan; sementara harga minyak dunia tetap volatil. |
| BREN | Ketidakpastian regulasi energi terbarukan, terutama terkait tarif feed‑in dan insentif pemerintah. |
c. Strategi Rebalancing Portofolio Asing
- Strategi “Rotation”: Investor institusional asing (misalnya, sovereign wealth funds, hedge funds) biasanya rebalancing tiap kuartal. Data menunjukkan bahwa kisaran 15‑20 % portofolio mereka dialokasikan ke pasar emerging; penurunan alokasi ke Indonesia pada kuartal ini wajar.
- Kinerja Relatif: Meskipun IASG menguat, relative performance dibandingkan dengan pasar ASEAN lain (Vietnam, Thailand) masih lebih lemah, menambah insentif keluar modal.
3. Dampak pada IHSG & Sentimen Pasar Domestik
- Penguatan IHSG meskipun ada net‑sell besar menandakan dominasi aliran beli domestik (retail, dana pensiun, dan institusi lokal) yang berhasil menutup selisih penjualan asing.
- Likuiditas tetap tinggi (49,3 miliar lembar), menunjukkan partisipasi aktif investor lokal.
- Distribusi Saham hampir seimbang (357 naik vs 348 turun) mengindikasikan diversifikasi tekanan; tidak ada konsentrasi penurunan pada satu sektor saja.
a. Sektor‑Sektor yang Lebih Tahan
- Keuangan: Meskipun BMRI tercatat net‑sell, bank lain (BBCA, BBRI) tetap kuat, menopang indeks keuangan.
- Konsumer: INDF tetap menahan tekanan karena permintaan domestik yang solid pada produk makanan.
b. Sektor‑Sektor yang Rentan
- Energi & Bahan Pokok: Komoditas turun, memicu penurunan pada BUMI, BREN, ENRG.
- Industri & Infrastruktur: CUAN dan BULL menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap kebijakan tarif dan volume perdagangan global.
4. Implikasi bagi Investor Lokal
| Kelompok Investor | Rekomendasi Strategi |
|---|---|
| Retail | - Fokus pada saham dengan fundamental kuat dan dividen konsisten (mis. BBRI, TLKM). - Hindari over‑weight pada saham yang terpapar volatilitas komoditas (BUMI, BRMS). |
| Dana Pensiun & Institusi | - Diversifikasi sektor dengan menambah alokasi ke Teknologi & Digital (e.g., TELKOM, UNVR) yang kurang terpengaruh aksi jual asing. - Monitoring risk‑adjusted return pada saham energi terbarukan; pertimbangkan ETF untuk eksposur yang lebih terdiversifikasi. |
| Trader & Hedge Funds | - Short-term swing pada saham over‑sell (mis. MBMA, INKP) dengan menunggu rebound setelah harga turun ke level support historis. - Long position pada saham dengan high short‑interest yang dapat mengalami short‑cover rally bila sentimen asing membaik. |
| Investasi ESG | - Perhatikan regulasi lingkungan yang semakin ketat; saham BUN (Bumi Resources) dan BREN sangat sensitif. - Sektor energi terbarukan (BREN) masih menarik bagi fund‑fund ESG yang bersedia menanggung volatilitas jangka pendek. |
5. Outlook Pasar hingga Kuartal Berikutnya
| Faktor | Proyeksi | Dampak Potensial |
|---|---|---|
| Moneter Global | Fed & ECB diperkirakan melanjutkan kebijakan suku bunga tinggi hingga akhir 2026. | Risk‑off berkelanjutan, aset emerging tetap berada di bawah tekanan. |
| Kebijakan Domestik | Pemerintah Indonesia target inflasi < 3,5 % dan pendapatan APBN melalui pajak karbon serta insentif energi hijau. | Dukung saham energi terbarukan bila kebijakan terealisasi; menurunkan tekanan pada BUMI & BREN. |
| Harga Komoditas | Proyeksi stabil‐menurun untuk batu bara & nikel; kenaikan untuk tembaga & logam tanah jarang. | BUMI & BRMS tetap tertekan; MBMA bisa menerima dorongan bila harga material baterai naik. |
| Sentimen Pasar Lokal | Likuiditas tetap kuat; penyertaan retail diperkirakan naik 12 % YoY. | IHSG dapat menguat 4‑6 % secara tahunan bila sentimen global tidak memburuk secara signifikan. |
6. Kesimpulan & Take‑away Utama
- Aksi jual besar asing pada 25 Feb 2026 tidak menurunkan IHSG karena kekuatan beli domestik yang signifikan.
- Saham komoditas & energi terbarukan menjadi target utama penjualan asing, dipicu oleh penurunan harga global dan ketidakpastian regulasi.
- Investor lokal sebaiknya:
- Menjaga diversifikasi di antara sektor keuangan, konsumer, dan teknologi.
- Menyaring saham berdasarkan fundamental (margin, cash‑flow, rasio utang) alih-alih sekadar mengikuti sentimen pasar asing.
- Memantau kebijakan pemerintah terkait energi hijau serta kebijakan fiskal yang dapat mengubah arah aliran modal asing.
- Outlook menunjukkan potensi penguatan moderat IHSG selama kuartal berikutnya, asalkan tidak terjadi guncangan makroekonomi global yang signifikan.
“Ketika aliran asing bergerak cepat keluar, itu biasanya memberi peluang bagi investor yang memahami nilai riil perusahaan. Di pasar Indonesia, fundamental yang sehat dan dukungan kebijakan domestik tetap menjadi pondasi utama untuk pertumbuhan jangka panjang.”
Penulis: Tim Analisis Pasar Modal – Investor.id (Februari 2026)
(Catatan: Semua angka mengacu pada data yang dipublikasikan oleh Stockbit dan IDX pada tanggal 25 Feb 2026. Analisis ini bersifat informatif, bukan rekomendasi investasi.)