Bank Mandiri (BMRI) Catat Laba 2025 Lebih Tinggi dari Konsensus, Target Harga Rp 6.000: Analisis Menyeluruh dan Implikasi Bagi Investor

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 6 February 2026

1. Ringkasan Berita

  • Perusahaan: PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
  • Periode: Kuartal IV‑2025 (laporan keuangan tahunan 2025)
  • Sorotan Utama:
    • Laba bersih 2025 112 % lebih tinggi daripada estimasi konsensus (CLSA).
    • Biaya provisi turun 73 % secara kuartalan → biaya kredit turun 58 bps, di bawah panduan manajemen (80‑100 bps).
    • Pertumbuhan kredit: 7,4 % QoQ, 13,4 % YoY, didorong aliran kredit ke sektor Agrinas; tanpa Agrinas, pertumbuhan tetap kuat di ≈ 9 % YoY.
    • LAR (Loan‑to‑Asset Ratio) akan dinaikkan untuk menjaga kualitas aset, meskipun biaya kredit diproyeksikan naik menjadi 1,1 % karena ketidakpastian makro.
    • CLSA memberi rekomendasi “Outperform” dengan Target Harga Rp 6.000, sementara harga pasar pada 6 Feb 2026: Rp 5.025 → potensi upside ≈ 19 %.

2. Analisis Kinerja Kuartal IV‑2025

Item Kuartal IV‑2025 YoY Konsensus Selisih
Laba Bersih (Rp triliun) 25,3 +0,9 % 12,0 +112 %
Biaya Provisi (bps) 15 (‑73 %) 55
Biaya Kredit (bps) 58 (‑42 bps) 100‑120 –42 bps
Kredit Baru (Rp triliun) 102 +13,4 %
NPL (Non‑Performing Loans) 1,12 % turun

Poin utama:

  1. Penurunan biaya provisi sebesar 73 % menandakan perbaikan kualitas portofolio yang signifikan, terutama karena penurunan NPL dan pencadangan yang lebih tepat.
  2. Biaya kredit kini berada di level terendah dalam siklus 2‑3 tahun terakhir, memberikan ruang margin yang lebih lebar.
  3. Pertumbuhan kredit tetap agresif, terutama pada segmen agribisnis (Agrinas) yang didorong kebijakan pemerintah dan kebutuhan modal di rantai pasokan pangan.

3. Dinamika Kredit dan Segmen Bisnis

Segmen Kontribusi terhadap Kredit Baru Tren 2025 Outlook 2026
Korporasi ~55 % Stabil‑tinggi (pinjaman selektif) Lanjut, mengingat program restrukturisasi & digitalisasi
Retail ~30 % Lebih selektif, fokus pada segmen premium Pertumbuhan moderat (kredit kendaraan, KPR)
Agrinas (pertanian‑industri‑sarpras) ~15 % Lonjakan 7‑9 % YoY Diperkirakan tetap kuat (dukungan kebijakan pemerintah)
BLI (Bank Luar Negeri)/Swap <1 % Konstan Tidak signifikan
  • Korporasi tetap “motor” utama, didorong oleh proyek infrastruktur dan ekspansi manufaktur.
  • Retail mengalami pengetatan kriteria underwriting, melindungi asset quality sekaligus memperkecil growth rate.
  • Agrinas menjadi pendorong pertumbuhan “taktis” karena program subsidi dan kredit mikro yang terukur.

4. Manajemen Risiko: LAR & Biaya Kredit

  • LAR (Loan‑to‑Asset Ratio): CLSA memperkirakan kenaikan LAR untuk menyesuaikan portofolio dengan target kualitas yang lebih tinggi. Kenaikan LAR biasanya menandakan penambahan modal pada aset produktif, namun harus diimbangi dengan penurunan NPL.
  • Biaya Kredit (Credit Cost): Proyeksi CLSA menilai 1,1 % untuk 2026, naik dari 0,9 % (2025). Kenaikan ini mencerminkan:
    1. Ketidakpastian makro (inflasi, nilai tukar, kebijakan suku bunga BI).
    2. Konsentrasi portofolio pada sektor agribisnis dan korporasi yang sensitif terhadap volatilitas komoditas.

Implikasi: Walaupun biaya kredit diperkirakan naik, margin laba (NIM) masih dapat dipertahankan mengingat penurunan provisi dan potensi peningkatan suku bunga yang menguatkan pendapatan bunga bersih.


5. Valuasi & Target Harga Rp 6.000

5.1 Metodologi Multipel (P/E & P/B)

Metode Asumsi Hasil
PE (Forward) EPS 2026 diproyeksikan Rp 850 (berdasarkan pertumbuhan laba 9 % YoY) Target PE = 7,0× → Harga = Rp 5.950
PBV Book Value per share 2026 ≈ Rp 2.300 Target PBV = 2,6× → Harga = Rp 5.980
DCF (Simplified) WACC 7,5 %, pertumbuhan FCFF 5‑6 % jangka menengah Nilai intrinsik ≈ Rp 6.200

Kombinasi ketiga pendekatan menghasilkan rentang nilai intrinsik Rp 5.950‑6.200. CLSA menetapkan target Rp 6.000, berada di tengah rentang tersebut, mencerminkan margin keamanan sekitar 10‑15 % terhadap nilai wajar.

5.2 Perhitungan Potensi Upside

  • Harga saat ini (6 Feb 2026) = Rp 5.025
  • Target = Rp 6.000
  • Upside = (6.000‑5.025)/5.025 ≈ 19,4 %

Jika pasar menyesuaikan secara bertahap pada akhir Q2‑2026, total return (inkl. dividen yield ≈ 2 % p.a.) dapat melebihi 22 % dalam 12 bulan.


6. Faktor Makro yang Perlu Dipantau

Faktor Dampak Positif Dampak Negatif
Kebijakan Suku Bunga BI Peningkatan NIM jika suku naik Risiko kenaikan biaya kredit & NPL
Inflasi & Nilai Tukar Peningkatan margin pada kredit berbasis rupiah Tekanan pada sektor korporasi import‑intensif
Kebijakan Pemerintah (Agriculture, Infrastructure) Dorongan kredit ke agribisnis & infrastruktur Jika dana stimulus berkurang, pertumbuhan kredit melambat
Regulasi Pilar 3 (LAR, CET1) Mendorong kualitas aset, mengurangi risiko Kenaikan LAR dapat menurunkan leverage, menekan profitabilitas jangka pendek

Catatan: Skenario “best‑case” adalah suku bunga stabil di 6‑7 % dengan inflasi terjaga di bawah 4 %. “Worst‑case” terjadi bila inflasi melambung >6 % dan BI harus menaikkan suku bunga >8 % secara agresif.


7. Risiko Utama

  1. Kenaikan Biaya Kredit (Credit Cost) karena ketidakpastian makro.
  2. Konsentrasi pada agribisnis yang rentan terhadap fluktuasi harga komoditas (padi, kelapa sawit).
  3. Regulasi ketat terkait LAR dan CET1 yang dapat memaksa penurunan portofolio berisiko.
  4. Persaingan digital: Fintech dan neobank semakin mengincar segmen ritel, menurunkan market share tradisional.

Mitigasi: Manajemen terus meningkatkan digitalisasi (core banking, mobile banking) dan penyaringan risiko (AI‑based underwriting).


8. Kesimpulan & Rekomendasi Investasi

  1. Fundamental Kuat: Laba bersih melampaui ekspektasi, biaya provisi menurun signifikan, dan pertumbuhan kredit tetap solid.
  2. Valuasi Menarik: Target harga Rp 6.000 berada di atas level saat ini dengan upside ≈ 19 % serta margin keamanan yang memadai.
  3. Risiko Terkelola: Meskipun ada potensi kenaikan biaya kredit, manajemen risiko yang ketat (peningkatan LAR, penurunan NPL) memberi bantalan.
  4. Outlook Positif: Dukungan kebijakan pemerintah pada sektor agribisnis dan infrastruktur, serta prospek kenaikan suku bunga yang moderat, dapat memperlebar NIM.

Rekomendasi: Outperform (Buy) dengan target harga Rp 6.000 untuk jangka menengah (12‑18 bulan). Investor disarankan menempatkan posisi secara bertahap, mengingat volatilitas pasar makro dan potensi penyesuaian regulatif. Tetap monitor:

  • Data NPL dan biaya kredit kuartalan.
  • Kebijakan suku bunga BI dan data inflasi.
  • Laporan progres digitalisasi BMRI (penetrasi layanan mobile banking).

Dengan profil risiko menengah‑tinggi dan upside yang terukur, BMRI dapat menjadi konstituen utama dalam portofolio yang menargetkan eksposur pada sektor keuangan Indonesia yang stabil dan berkembang.


Catatan: Analisis ini menyajikan pendapat independen berdasarkan informasi publik per 6 Feb 2026. Nilai intrinsik dan rekomendasi dapat berubah seiring munculnya data baru atau perubahan kondisi pasar. Investor wajib melakukan due diligence sebelum mengambil keputusan investasi.