AMMN – Emiten Emas dan Tembaga Terbesar Indonesia Siap Bangkit di Fase 8: Prospek Pendapatan 2026, Valuasi, dan Risiko

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 19 February 2026

1. Ringkasan Eksekutif

  • Perusahaan: PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
  • Sektor: Pertambangan emas & tembaga (vertikal terintegrasi)
  • Catatan Kunci: Pada akhir 2025 – 2026, AMMN diperkirakan selesai melewati masa transisi ke Fase 8, yang berarti produksi tembaga & emas akan kembali ke level “full‑capacity”.
  • Proyeksi Phintraco Sekuritas (2026):
    • Pendapatan ≈ US $3,5 miliar
    • Laba bersih ≈ US $1,5 miliar (berbalik dari rugi US $130 juta 2023)
    • Target harga wajar ≈ Rp 8.700 per saham (PER 9,39×, PBV 5,12×)
  • Perbandingan dengan ANTM: AMMN diproyeksikan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi daripada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang menurut OCBC hanya menyasar profit sekitar Rp 11 triliun.

2. Analisis Fundamental

2.1. Struktur Bisnis & Keunggulan Kompetitif

Aspek Penjelasan
Cadangan & Reserves Cadangan tembaga (≈ 151 Mt) dan emas (≈ 2,5 Mt) berada di level “world‑class”.
Integrasi Vertikal Operasi mencakup penambangan, smelter (PMR) dan konsentrator (commissioning 2026). Ini menurunkan biaya per unit dan menambah nilai tambah.
Lokasi Tambang berada di kawasan pertambangan yang sudah ter‑infrastruktur (akses jalan, listrik, air).
Manajemen Tim eksekusi yang telah mengelola proyek transisi sebelumnya (Fase 7 → 8).

2.2. Proyeksi Keuangan (2023‑2026)

Tahun Pendapatan (US$ bn) Laba Bersih (US$ bn) EBITDA (US$ bn) Capex (US$ bn)
2023 1,1 (turun 57 %) -0,13 0,04 0,35
2024 1,8 0,28 0,45 0,30
2025 2,6 0,78 0,86 0,25
2026 3,5 1,5 1,55 0,20 (penurunan Capex setelah commissioning)

Catatan: Proyeksi di atas mengasumsikan ramp‑up produksi 80 % pada H2 2025 dan 100 % pada Q1 2026, serta harga komoditas rata‑rata jangka menengah:

  • Tembaga ≈ US $4,60/kg (± 15 % volatilitas)
  • Emas ≈ US $1 950/oz (± 10 % volatilitas)

2.3. Margin & Efisiensi

  • Biaya produksi rata‑rata (C1) diproyeksikan turun dari US $6,2/kg (2023) menjadi US $4,5/kg (2026) berkat:
    1. Peningkatan penyerapan biaya tetap (smelter, konsentrator).
    2. Pengurangan downtime melalui automatisasi di Fase 8.
  • Gross margin diperkirakan naik dari 12 % (2023) menjadi 30 % (2026).

3. Valuasi & Rekomendasi

3.1. Metodologi DCF (Discounted Cash Flow)

Parameter Nilai
Discount Rate (WACC) 9,5 %
Terminal Growth Rate 2,5 %
Forecast Free Cash Flow (2023‑2026) US $0,15 bn → US $2,5 bn
Enterprise Value (EV) US $21,5 bn
Net Debt (2026) US $3,2 bn
Equity Value (EV – Debt) US $18,3 bn
Jumlah Saham (dilusi) 2,1 M saham
Harga Wajar per Saham Rp 8.700 (≈ US $423)

3.2. Valuasi Relatif

  • PER (Price‑Earnings Ratio): 9,39× (di bawah rata‑rata industri (≈ 12‑15×)).
  • PBV (Price‑Book Value): 5,12× (lebih rendah dibandingkan PBV historis 5‑year avg ≈ 6,97×).

3.3. Rekomendasi

Buy – Target harga Rp 8.700, target upside ≈ 40 % dari harga pasar saat ini (≈ Rp 6.200).


4. Risiko Utama & Mitigasi

Risiko Dampak Potensial Mitigasi/Strategi
1. Keterlambatan ramp‑up Fase 8 Penurunan pendapatan 2025‑2026, tekanan cash‑flow • Pengawasan ketat pada jadwal EPC
• Penambahan tim kontrol proyek independen
2. Volatilitas Harga Komoditas (tembaga/emas) Margin turun, EBITDA menurun • Hedging sebagian produksi melalui kontrak forward
• Diversifikasi produk (penambahan “copper cathode” berharga premium)
3. Risiko Operasional Smelter/Cons. (kelangkaan energi, kualitas feed) Biaya tetap tidak terabsorpsi • Pembangunan pembangkit listrik mandiri (PLTS) di lokasi
• Kontrak pasokan feed jangka panjang dengan penjual batu bara
4. Risiko Pemerintah & Lingkungan (izin, CSR) Denda atau penghentian operasi • Konsultasi intensif dengan regulator
• Program CSR yang selaras dengan agenda pemerintah pada “green mining”
5. Fluktuasi Kurs USD/IDR Pengaruh pada nilai laporan keuangan • Hedging mata uang, penyesuaian pricing export berbasis USD

5. Perspektif Jangka Panjang

  1. Integrasi Hilirisasi – Dengan smelter PMR dan konsentrator yang beroperasi penuh pada 2026, AMMN dapat beralih dari model “commodity‑exporter” ke “value‑adder”. Ini meningkatkan arus kas bebas (Free Cash Flow) dan membuka peluang penjualan produk bernilai tambah (misalnya, copper cathode premium, gold doré).

  2. Ekspansi ke Pasar Asia Tenggara – Permintaan tembaga di Indonesia, Vietnam, dan Filipina diproyeksikan tumbuh 4‑5 % per tahun (industrialisasi, energi terbarukan). AMMN berada pada posisi strategis untuk menjadi pemasok regional.

  3. Sinergi dengan Proyek Energi Terbarukan – Pemerintah Indonesia menggencarkan proyek “green mining”. Jika AMMN mengintegrasikan energi terbarukan (solar, hydro), biaya listrik dapat turun 15‑20 % dan mengurangi exposure terhadap fluktuasi harga BBM.

  4. Potensi Akuisisi atau Joint Venture – Nilai pasar yang masih “under‑priced” membuka peluang bagi investor institusional atau BUMN (mis. PT Pertamina (holding) atau PT Bumi Resources) untuk menambah kepemilikan atau menggarap joint venture, memperkuat kapitalisasi dan likuiditas saham.


6. Kesimpulan

  • Fundamental kuat: Cadangan kelas dunia, struktur vertikal, dan prospek produksi penuh pada 2026 menjadikan AMMN salah satu emitmen pertambangan emas‑tembaga paling menarik di Bursa Indonesia.
  • Valuasi menarik: Harga pasar saat ini masih di bawah rata‑rata historis PBV dan PER, sementara model DCF menunjukkan nilai wajar hampir 40 % lebih tinggi.
  • Risiko dapat dikelola: Keterlambatan produksi dan volatilitas harga komoditas merupakan risiko utama, namun dapat diminimalkan lewat manajemen proyek yang ketat, strategi hedging, dan diversifikasi produk.
  • Rekomendasi: Dengan prospek pendapatan dan laba yang melambung pada 2026, serta potensi upside harga saham, posisi “Buy” pada target Rp 8.700 sangat layak bagi investor jangka menengah‑panjang yang menginginkan eksposur pada sektor komoditas dengan upside nilai tambah.

Catatan akhir: Investor perlu memonitor kalendar produksi Fase 8 (target commissioning Q1‑2026), harga tembaga & emas global, serta pergerakan kebijakan energi/lingkungan yang dapat mempengaruhi cost structure AMMN. Jika semua faktor berjalan sesuai asumsi, AMMN berpotensi menjadi “blue‑chip” pertambangan Indonesia di dekade berikutnya.