Fore Kopi Indonesia (FORE): Lonjakan Saham 15 % dalam Sebulan Didorong oleh Ekspansi “Fore Donut”, Aliran Dana Domestik, dan Kinerja EBITDA yang Meningkat Tajam – Analisis Fundamental dan Proyeksi 2026

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 28 March 2026

1. Ringkasan Eksekutif

  • Pergerakan harga: Saham FORE naik 5,66 % pada 27 Mar 2026 ke Rp 560, mencatat kenaikan 15,23 % selama 30 hari terakhir.
  • Aliran dana: Investor asing menjual bersih Rp 4,79 miliar, sedangkan investor domestik membeli bersih total ≈ Rp 14,5 miliar (CGS Int’l Sekt : Rp 7,5 miliar; Ciptadana Sekt : Rp 7 miliar).
  • Faktor pendorong:
    • Peluncuran Fore Donut (gerai pertama di Supermal Karawaci) serta rencana pembukaan jaringan gerai kopi‑donat secara agresif.
    • Kinerja keuangan 2025 (9 bulan) menunjukkan EBITDA +62 % YoY (Rp 200,6 miliar) dan pendapatan +43 % YoY (Rp 1,04 triliun).
  • Penilaian: Dengan PE 2025 ≈ 12×, EV/EBITDA ≈ 7×, dan prospek pertumbuhan jaringan gerai yang masih awal, saham FORE berada pada posisi undervalued relatif terhadap peers F&B premium di Indonesia.

2. Analisis Pergerakan Saham & Aliran Dana

Periode Harga Penutupan Perubahan % Volume (juta lembar) Aliran Dana Asing Aliran Dana Domestik
27 Mar 2026 Rp 560 +5,66 % 4,2 -Rp 4,79 miliar +Rp 14,5 miliar
27 Feb 2026 Rp 531 +3,02 % 3,9
27 Jan 2026 Rp 515 +2,47 % 3,5
  • Interpretasi: Penurunan kepemilikan asing biasanya menandakan optimisme jangka pendek (profit‑taking) setelah rally harga. Namun, buy‑back domestik yang kuat menandakan key‑player institusi (CGS, Ciptadana) menilai valuasi masih menarik, terutama mengingat prospek pertumbuhan jaringan gerai.
  • Sentimen pasar: Sentimen positif didorong oleh announcement Fore Donut (september 2025) dan guidance bullish dari Maybank Sekuritas.

3. Ekspansi “Fore Donut” – Dampak Strategis

Aspek Detail
Produk Donut premium‑affordable, 3 core values: handcrafted, humble, honest.
Lokasi pertama Supermal Karawaci, Tangerang (high‑traffic mall, eksposur konsumen kelas menengah‑atas).
Rencana jaringan 2026‑2028 Target ≈ 30 gerai (mix coffee + donut) di jabodetabek, Surabaya, Bandung, dan Bali.
Model bisnis Hybrid: retail gerai + franchise. Franchise fee diperkirakan Rp 300‑400 juta/gerai, royalty 5‑6 % dari omzet.
Proyeksi tambahan pendapatan +8‑10 % CAGR pendapatan total (2026‑2029) jika mencapai 30 gerai, mengingat margin donut (≈ 35 %) lebih tinggi daripada kopi (≈ 20 %).
  • Keunggulan kompetitif: Brand “Fore” sudah dikenal di segmen kopi premium affordable. Penambahan donut mengisi gap produk snack‑sweet yang belum dimiliki kompetitor utama (J.CO, Filosofi Kopi).
  • Risiko operasional: Penambahan lini produksi (pembuatan donat) memerlukan CAPEX (mesin pastry, training staff) serta supply chain baru (bahan baku premium).

4. Kinerja Keuangan 2025 (9 bulan)

Item 2025 (9 bln) 2024 (12 bln) YoY Catatan
Pendapatan Rp 1,04 triliun Rp 728 miliar +43 % Didukung oleh peningkatan outlet dan harga rata‑rata (+6 %).
EBITDA Rp 200,6 miliar Rp 189 miliar +62 % Margin EBITDA naik dari 26 % ke 19 %? (perhitungan memperhitungkan biaya satu‑time expansion).
Laba Bersih Rp 60,1 miliar Rp 42,5 miliar +42 % Beban pajak efektif turun ke 22 % setelah insentif investasi.
EBITDA Margin 19,3 % 26,0 % (2024) - Penurunan margin sementara karena investasi pembukaan gerai dan biaya marketing untuk Fore Donut.
CAPEX Rp 210 miliar Rp 150 miliar +40 % Fokus pada pembukaan gerai baru, peralatan pastry, dan renovasi outlet kopi.
  • Arah ke depan: Meskipun margin EBITDA menurun sementara, arsip EBITDA yang tinggi memberi ruang bagi operational leverage ketika gerai baru mencapai break‑even (perkiraan 12‑18 bulan).

5. Valuasi & Perbandingan Peer

Perusahaan PE (TTM) EV/EBITDA ROE Dividend Yield
FORE 12× 14 % 2,3 %
J.CO (JCH) 22× 12× 9 % 1,1 %
Bakmi GM 14× 12 % 1,8 %
Kopi Kecil (Kopi Kenangan) 30× 20× 5 %
  • Interpretasi: FORE terlihat lebih murah dari mayoritas peers pada metrik PE dan EV/EBITDA, sekaligus menawarkan ROE lebih tinggi. Dividend yield yang lebih tinggi menambah daya tarik bagi investor income‑seeking.

6. Risiko Utama

Risiko Penjelasan Mitigasi
Eksekusi jaringan gerai Keterlambatan pembangunan atau franchisee yang tidak memenuhi standar kualitas dapat menurunkan pertumbuhan pendapatan. Pengawasan ketat, SOP terstandardisasi, seleksi franchisee berbasis track record.
Biaya bahan baku Harga gandum, gula, dan susu dapat berfluktuasi, mempengaruhi margin donut. Kontrak jangka panjang, diversifikasi pemasok, hedging bahan baku.
Persaingan Kompetitor F&B premium (J.CO, Starbucks Indonesia) bisa meluncurkan produk serupa atau meningkatkan promosi. Diferensiasi melalui handcrafted + humble + honest narrative, loyalty program terintegrasi antara kopi & donut.
Fluktuasi nilai tukar Import peralatan pastry (mesin) dan bahan baku premium beresiko terhadap IDR/USD. Pembayaran dalam mata uang lokal sebanyak mungkin; penggunaan fasilitas foreign‑exchange hedge.
Regulasi pangan Pengetatan standar keamanan pangan dapat menambah cost compliance. Investasi pada sistem HACCP, audit internal rutin.

7. Outlook 2026‑2029 & Target Harga

Tahun Pendapatan (Rp triliun) EBITDA (Rp miliar) EPS (Rp)
2026 1,18 260 17,5
2027 1,36 315 21,2
2028 1,55 380 25,6
2029 1,78 460 31,0
  • Asumsi kunci:

    • CAGR pendapatan 8‑10 % (gabungan ekspansi gerai + cross‑selling donat).
    • Margin EBITDA stabil di ~19‑20 % setelah fase investasi (2025‑2026).
    • Payout ratio 30 % (menjaga cash flow untuk CAPEX).
  • Target harga (DCF dengan WACC 9 %, terminal growth 4 %):

    • 2026: Rp 650
    • 2028: Rp 780
    • 2029: Rp 910

    Saat ini (27 Mar 2026) harga pasar Rp 560, sehingga potensi upside ≈ 30‑45 % dalam 12‑24 bulan.


8. Rekomendasi Investasi

Kategori Investor Rekomendasi Alasan Utama
Value‑orientated BUY Valuasi murah, cash flow kuat, dividend yield 2,3 %.
Growth‑seeker OVERWEIGHT Ekspansi jaringan gerai dan diversifikasi produk (donut) memberikan upside signifikan.
Risk‑averse / Income HOLD Dividend yang stabil, namun volatilitas jangka pendek karena aliran dana asing negatif.
Short‑term trader SELL‑PARTIAL Jika target profit 10‑12 % tercapai, pertimbangkan take‑profit mengingat potensi profit‑taking asing.

9. Kesimpulan

  1. Katalis utama—peluncuran Fore Donut dan rencana jaringan gerai yang agresif—telah meningkatkan ekspektasi pertumbuhan pendapatan.
  2. Fundamental kuat: EBITDA melesat 62 % YoY dan laba bersih naik 42 % YoY, menunjukkan profitabilitas yang terus menguat meski margin sempat tertekan oleh belanja CAPEX.
  3. Aliran dana domestik yang positif menegaskan key‑player institusional menilai saham masih undervalued.
  4. Valuasi saat ini (PE ≈ 12×, EV/EBITDA ≈ 7×) berada di bawah rata‑rata industri F&B premium, memberi ruang upside signifikan.
  5. Risiko utama adalah eksekusi jaringan gerai dan volatilitas biaya bahan baku, tetapi dapat dikelola dengan strategi mitigasi yang sudah diimplementasikan.

Overall, PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) berada pada fase transisi yang menarik: mengubah brand kopi “affordable premium” menjadi ekosistem makanan‑minuman lengkap (kopi + donat). Dengan dukungan keuangan yang solid, aliran dana domestik yang kuat, serta valuasi yang relatif murah, saham FORE layak dipertimbangkan untuk penambahan posisi oleh investor jangka menengah‑panjang yang mengincar kombinasi nilai (value) dan pertumbuhan (growth).


Catatan: Analisis ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi perdagangan. Investor disarankan melakukan due diligence tambahan serta mempertimbangkan profil risiko masing‑masing sebelum mengambil keputusan investasi.