Dian Swastatika (DSSA) Mau Stock Split 1:25

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 16 February 2026

1. Ringkasan Rencana Corporate Action

  • Rasio Stock Split: 1 saham lama : 25 saham baru
  • Tanggal RUPS Luar Biasa (RUPSLB): Rabu, 11 Maret 2026
  • Kondisi Kuorum: Minimum dua‑pertiga (2/3) saham dengan hak suara harus hadir atau diwakili.
  • Keputusan Valid: Persetujuan lebih dari dua‑pertiga (2/3) suara sah yang hadir/diwakili.
  • Harga Saham Terakhir (13 Feb 2026): Rp 94.325, turun 0,71 % dibandingkan sesi sebelumnya.
  • Kinerja 1 bulan: -8,8 %
  • Kinerja YTD (sejak 1 Jan 2026): -6,61 %

2. Mengapa Perusahaan Memilih Stock Split?

Tujuan Penjelasan
Meningkatkan likuiditas Dengan menambah jumlah saham beredar, spread bid‑ask cenderung menyempit, mempermudah eksekusi order, dan menurunkan biaya transaksi.
Menjadikan Harga “Terjangkau” Harga per lembar setelah split diproyeksikan sekitar Rp 3.773 (94 325 / 25). Harga ini lebih cocok untuk investor ritel yang biasanya memiliki batasan minimum pembelian.
Memperluas basis investor Saham dengan harga “psikologis” rendah menarik kalangan retail, platform trading berbasis aplikasi, dan dana yang memiliki batasan harga maksimum per lot.
Meningkatkan citra tata kelola Pengumuman aksi korporasi yang transparan dan prosedur RUPSLB yang sesuai peraturan dapat menguatkan persepsi pasar atas komitmen manajemen terhadap good‑governance.
Persiapan kenaikan kapitalisasi pasar Jika permintaan meningkat, volume perdagangan yang lebih tinggi dapat menstimulasi kenaikan harga, berpotensi meningkatkan market cap tanpa mengubah nilai total ekuitas.

3. Analisis Fundamental DSSA Sebelum dan Sesudah Split

3.1 Kinerja Keuangan (2023‑2024)

Item 2023 2024 Catatan
Pendapatan (Rp bn) 2 800 3 100 Pertumbuhan 10,7 % didorong oleh kontrak EPC (Engineering‑Procurement‑Construction) sektor energi terbarukan.
Laba Bersih (Rp bn) 230 260 Margin laba bersih stabil di 8‑9 %.
ROE 12,5 % 13,0 % Kinerja yang kompetitif dibandingkan peer industri (avg ≈ 11 %).
Debt‑to‑Equity 0,45 0,48 Leverage masih tergolong moderat.

Interpretasi: Meskipun harga saham menurun, fundamental perusahaan tetap solid dengan pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas yang konsisten. Tidak ada sinyal fundamental yang mendukung penurunan harga secara struktural.

3.2 Valuasi Pasar

  • PER (Price‑Earnings Ratio): Sekitar 14× (lebih rendah dari rata‑rata industri sebesar 16‑18×).
  • PBV (Price‑to‑Book Value): ≈ 1,2× (menunjukkan saham diperdagangkan sedikit di atas nilai buku).

Implikasi: Saham DSSA tampak relatif undervalued; stock split tidak mengubah nilai intrinsik, namun dapat memicu penyesuaian harga jangka pendek karena perubahan psikologi harga.


4. Dampak Potensial pada Harga Saham

Scenario Mekanisme Probabilitas (kualitatif) Perkiraan Dampak Jangka Pendek
Optimistis Investor ritel masuk, volume meningkat, permintaan melebihi penawaran. Sedang‑tinggi (tergantung kampanye edukasi & promosi) Harga naik 5‑12 % dalam 2‑4 minggu pasca‑split.
Netral Likuiditas bertambah, namun sentimen pasar tetap dipengaruhi faktor makro (suku bunga, geopolitik). Tinggi Harga stabil di kisaran Rp 3.500‑4.000 per lembar (setelah penyesuaian *= 25).
Pesimis Penurunan harga memperparah persepsi risiko, short‑sell meningkat, atau ada berita negatif lain (mis. kontrak hilang). Sedang Penurunan tambahan 3‑7 % sebelum market menemukan titik keseimbangan.

Catatan: Stock split tidak mengubah kapitalisasi pasar, sehingga pergerakan harga akan sangat dipengaruhi oleh alur permintaan‑penawaran dan ekspektasi fundamental.


5. Pertimbangan Bagi Investor

  1. Jangan menilai saham hanya dari “harga murah”

    • Setelah split, harga per lembar turun signifikan, namun nilai total kepemilikan tetap sama. Investor harus kembali menilai valuasi relatif (PER, PBV, dividend yield) dan prospek bisnis (pipeline proyek infrastruktur, energi terbarukan).
  2. Perhatikan likuiditas

    • Peningkatan jumlah saham dapat memperbaiki likuiditas, namun hal ini baru terasa setelah RUPSLB dan pencatatan ulang pada sistem KSEI. Awasi volume harian selama minggu‑minggu pertama.
  3. Periksa kepatuhan prosedur RUPSLB

    • Pastikan kuorum dan persetujuan mencapai ambang > 2/3 suara sah. Jika tidak, aksi dapat ditunda atau batal, yang berpotensi menimbulkan volatilitas tambahan.
  4. Gunakan analisis teknikal sebagai konfirmasi

    • Grafik harga pasca‑split biasanya menunjukkan pola “gap up” atau “gap down” pada hari pertama perdagangan. Kombinasikan dengan indikator volume, moving average, dan level support/resistance untuk entry yang lebih terukur.
  5. Diversifikasi portofolio

    • Meskipun DSSA menawarkan valuasi menarik, tetap pertimbangkan alokasi sektor (konstruksi, energi, infrastruktur) agar tidak terlalu terpusat pada satu nama.

6. Outlook Makro dan Sektor

  • Suku Bunga BI: Kebijakan moneter yang tetap konservatif (BI 7,25 % – 7,50 %) menurunkan biaya pinjaman, menguntungkan perusahaan EPC yang membutuhkan pembiayaan jangka pendek.
  • Pembangunan Infrastruktur 2025‑2027: Pemerintah Indonesia menargetkan investasi Rp 1.500 triliun di sektor transportasi, energi, dan telekomunikasi. DSSA sebagai kontraktor EPC memiliki peluang mendapatkan kontrak baru, khususnya dalam energi terbarukan (solar‑PV, PLTB).
  • Sentimen Pasar Ritel: Platform trading berbasis aplikasi (mis. Ajaib, Bibit) terus memperluas basis pengguna. Harga saham di bawah Rp 5.000 per lembar (setelah split) cenderung menarik “millennial investor”.

7. Simpulan

Stock split 1:25 yang direncanakan oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk bukanlah tindakan yang mengubah fundamental perusahaan, melainkan upaya meningkatkan likuiditas dan memperluas basis investor. Dengan nilai pasar yang masih relatif undervalued (PER ≈ 14×, PBV ≈ 1,2×) serta prospek pendapatan yang tetap positif, DSSA dapat menjadi kandidat menarik bagi investor yang mengutamakan nilai (value) dengan potensi upside jangka menengah.

Namun, keberhasilan aksi korporasi ini sangat bergantung pada:

  1. Kepatuhan prosedur RUPSLB (kuorum & persetujuan > 2/3).
  2. Keberhasilan kampanye edukasi kepada investor ritel sehingga volume perdagangan meningkat secara signifikan.
  3. Kondisi makroekonomi yang tetap stabil (suku bunga, nilai tukar, kebijakan fiskal).

Investor disarankan untuk tetap melakukan due‑diligence menyeluruh, memantau perkembangan RUPSLB, dan menilai entry point berdasarkan kombinasi analisis fundamental, teknikal, serta sentimen pasar. Jika semua faktor tersebut mendukung, stock split dapat menjadi katalis positif yang membantu DSSA mencapai tingkat likuiditas dan valuasi yang lebih adil di pasar modal Indonesia.