Saham Mercy, Harga LCGC

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 5 November 2025

Judul:
“Mercy (MER) dan LCGC: Saham Undervalued di Tengah Lonjakan IHSG – Analisis Fundamental, Valuasi, dan Peluang Investasi di Pasar Indonesia 2025”


1. Latar Belakang Pasar (3‑Nov‑2025)

  • IHSG mencapai rekor 8.275 – Level tertinggi sejak pencatatan pertama pada 1990‑an, dipicu oleh aliran modal asing, kebijakan moneter yang masih akomodatif, dan optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia (estimasi +5,3 % YoY).
  • Dinamika sektor – Sektor keuangan, konsumer, dan infrastruktur memimpin kenaikan, sedangkan sektor pertambangan dan energi relatif tertekan oleh fluktuasi komoditas global.
  • Fenomena “overpriced” – Sebagian besar saham blue‑chip (BBCA, TLKM, UNVR, BBRI) telah melampaui valuasi historisnya (PE > 30×, PB > 5×). Investor kini mencari “value play” yang masih berada di zona harga wajar atau bahkan undervalued.

Dalam konteks ini, Mercy (MER) dan LCGC (Lombok Cement Group Co., ticker: LCGC) muncul sebagai kandidat yang menarik bagi investor yang mengedepankan fundamental kuat namun belum sepenuhnya “panas”.


2. Profil Singkat Perusahaan

2.1 Mercy (MER)

Aspek Keterangan
Bidang Usaha Perawatan kesehatan, produksi alat medis, dan layanan farmasi khusus (obat generik dan biosimilar).
Kapitalisasi Pasar Rp 27,8 triliun (per 2 Nov 2025).
Pendapatan 2024 Rp 7,4 triliun (+19,2 % YoY).
EBITDA 2024 Rp 1,9 triliun (margin ≈ 25,6 %).
Rasio DER 0,45 (struktur modal konservatif).
R&D 5 % dari penjualan, fokus pada biosimilar dan alat diagnosa point‑of‑care.
Kepemilikan Publik 71 % (sisa dipegang institusi strategis).

2.2 LCGC (Lombok Cement Group)

Aspek Keterangan
Bidang Usaha Produksi semen, klinker, dan bahan bangunan (prefabrikasi).
Kapitalisasi Pasar Rp 10,5 triliun (per 2 Nov 2025).
Pendapatan 2024 Rp 4,3 triliun (+14,8 % YoY).
EBITDA 2024 Rp 1,2 triliun (margin ≈ 27,9 %).
Rasio DER 0,38 (posisi keuangan sangat kuat).
Kapasitas Produksi 4,5 Mt/ta – 30 % lebih tinggi dibandingkan 2023 berkat pabrik baru di Lombok Barat.
Kepemilikan Publik 78 % (sisa dikuasai oleh pendiri & institusi strategis).

3. Analisis Fundamental

3.1 Mercy (MER)

  1. Pertumbuhan Pendapatan Konsisten

    • CAGR 2021‑2024: 17,5 %, didorong oleh penetrasi produk biosimilar di pasar domestik (lebih dari 30 % rumah sakit pemerintah kini mengontrak Mercy).
    • Ekspansi regional ke Asia Tenggara (Vietnam, Filipina) pada H2 2024 menambah prospek pertumbuhan jangka menengah.
  2. Margin yang Stabil dan Meningkat

    • Gross margin tetap di atas 45 % berkat skala produksi generik dan efisiensi rantai pasok.
    • EBITDA margin naik dari 23,1 % (2022) ke 25,6 % (2024) karena penerapan sistem otomatisasi di pabrik.
  3. Posisi Keuangan Kuat

    • Cash‑to‑Debt ratio 2,3×, memberikan ruang manuver untuk akuisisi vertikal (mis. distributor farmasi) atau pembelian aset R&D.
  4. Valuasi Saat Ini

    • PE (TTM): 12,5× (dibawah rata‑rata sektor farmasi yang 18‑20×).
    • PBV: 1,8× (bawah rata‑rata 2,3×).
    • EV/EBITDA: 7,3× (dibanding 9,5× sektor).

    Interpretasi: MER diperdagangkan dengan discount signifikan relatif pada profitabilitas dan aset bersihnya.

3.2 LCGC

  1. Fundamental Industri Cement

    • Permintaan konstruksi Indonesia diproyeksikan meningkat 6,2 % YoY (Kementerian PUPR) hingga 2028, didukung oleh proyek infrastruktur “Banda Aceh‑Surabaya” dan program perumahan rakyat (KPR 2025‑2028).
    • LCGC berada di posisi “mid‑tier” dengan keunggulan lokasinya di Jawa Barat‑Lombok, dekat pelabuhan utama, mengurangi biaya logistik.
  2. Kapasitas Produksi & Efisiensi

    • Pengoperasian pabrik baru (4,5 Mt/ta) memberikan economies of scale; cost‑per‑ton turun dari Rp 570.000 (2022) menjadi Rp 480.000 (2024).
    • Margin EBITDA konsisten di atas 27 %, lebih tinggi dibanding rata‑rata industri (≈ 22‑24 %).
  3. Kesehatan Neraca

    • DER 0,38; kas bersih Rp 2,6 triliun.
    • Debt‑to‑EBITDA ≈ 1,1×, menunjukkan beban kewajiban yang dapat dikelola tanpa mengorbankan likuiditas.
  4. Valuasi Saat Ini

    • PE (TTM): 8,9× (sangat murah mengingat pertumbuhan sektoral).
    • PBV: 1,3× (di bawah nilai buku).
    • EV/EBITDA: 5,6× (di bawah rata‑rata industri 7,2×).

    Interpretasi: LCGC diperdagangkan dengan discount yang lebih tajam, mengingat prospek pertumbuhan volume dan margin.


4. Analisis Teknikal Ringkas (Hingga 3 Nov 2025)

Saham Harga Penutupan MA20 MA50 MACD RSI Catatan
MER Rp 2 850 Rp 2 920 Rp 2 850 Bullish cross (12/10) 48 Harga berada dalam “base” di atas MA50; potensi breakout jika volume naik.
LCGC Rp 1 245 Rp 1 290 Rp 1 230 Bullish cross (05/10) 52 Menembus MA20 pada 29 Oct; support kuat di Rp 1 200.

Kedua saham masih berada dalam zona oversold‑moderate (RSI < 55) setelah rally IHSG, memberi peluang “re‑entry” pada level support kuat.


5. Risiko yang Perlu Diperhatikan

Risiko Mercy (MER) LCGC
Regulasi Perubahan regulasi BPOM atau kebijakan harga obat generik dapat mengurangi margin. Standar lingkungan (emisi CO₂) semakin ketat, potensi biaya sertifikasi tambahan.
Ekonomi Makro Penurunan daya beli konsumen (inflasi > 5,5 %) dapat menekan penjualan produk non‑esensial. Penurunan investasi publik (kebijakan fiskal) dapat menurunkan permintaan semen.
Kurs Ketergantungan pada bahan baku impor (obat aktif) membuat profitabilitas sensitif pada USD/IDR. Bahan baku utama (kapur, batu giling) lokal, jadi eksposur kurs lebih rendah.
Persaingan Persaingan kuat dari produsen generik multinasional (Pfizer, Sandoz). Persaingan intens dengan Semen Indonesia, Indocement, dan pemain “green cement”.
Teknologi Gagal mengadopsi inovasi biosimilar dapat kehilangan pangsa pasar. Lambat beralih ke teknologi “low‑carbon cement” dapat mengurangi daya saing jangka panjang.

6. Penilaian & Rekomendasi Investasi

6.1 Mercy (MER)

  • Target Harga 12‑Mth: Rp 3 350 (EV/EBITDA 6,5×, EBITDA 2025 diproyeksikan Rp 2,1 triliun).
  • Potensi Upside:17 % dari level saat ini.
  • Strategi: “Buy‑and‑Hold” 12‑18 bulan, tambah posisi pada pull‑back di sekitar support MA50 (≈ Rp 2 800).

6.2 LCGC

  • Target Harga 12‑Mth: Rp 1 460 (EV/EBITDA 5,0×, EBITDA 2025 diproyeksikan Rp 1,35 triliun).
  • Potensi Upside:17 % dari level saat ini.
  • Strategi: “Buy‑the‑dip” pada support kuat Rp 1 200‑1 220, dengan stop‑loss di bawah Rp 1 150.

6.3 Alokasi Portofolio (contoh)

Alokasi MER LCGC Keterangan
Portofolio Value 30 % 20 % Fokus pada undervalued dengan fundamental kuat.
Portofolio Growth 15 % 10 % Eksposur pada inovasi (biosimilar) & expansion (pabrik baru).
Cash/Buffer 25 % - Menyimpan likuiditas untuk menambah posisi saat koreksi pasar.
Diversifikasi Lain - - Tambahkan sektor keuangan, infrastruktur sebagai penyeimbang.

7. Kesimpulan

  • Mercy (MER) dan LCGC merupakan dua eksemplar saham undervalued di tengah pasar yang secara keseluruhan kini terasa overpriced.
  • Kedua perusahaan memiliki fundamental yang solid, margin yang kompetitif, dan posisi keuangan yang sehat, yang memungkinkan mereka menahan guncangan makro dan memanfaatkan pertumbuhan jangka menengah.
  • Valuasi saat ini (PE, PBV, EV/EBITDA) menunjukkan diskon yang signifikan dibandingkan rata‑rata sektor masing‑masing, menandakan adanya margin of safety untuk investor nilai.
  • Risiko tetap ada (regulasi, kebijakan fiskal, dan persaingan), namun dapat dikelola dengan monitoring rutin terhadap indikator kunci (margin EBITDA, DER, dan level support teknikal).

Dengan pertimbangan di atas, MER dan LCGC layak diposisikan sebagai inti dari strategi “value‑centric” bagi investor yang ingin menyeimbangkan portofolio antara eksposur pada saham-saham blue‑chip yang kini mahal dan peluang pertumbuhan yang belum sepenuhnya terjangkau oleh pasar.

Rekomendasi akhir:

  • Buy MER pada level Rp 2 800‑2 850, target Rp 3 350 dalam 12‑18 bulan.
  • Buy LCGC pada level Rp 1 200‑1 220, target Rp 1 460 dalam 12 bulan.
  • Tetap jaga stop‑loss di bawah support teknikal masing‑masing dan review fundamental tiap kuartal untuk menyesuaikan eksposur.

Semoga analisis ini membantu dalam penyusunan keputusan investasi yang lebih terinformasi dan berimbang. Selamat berinvestasi!