Blue Bird Tbk (BIRD): Saham Diskon dengan Omzet Rp 4 Triliun – Analisis Fundamental, Valuasi, dan Risiko ke Depan
1️⃣ Ringkasan Berita
- Pergerakan Harga: Pada Jumat 20 Feb 2026, saham BIRD menguat tipis +0,57 % menjadi Rp 1.750. Dua sesi sebelumnya juga menguat (+0,58 % & +0,87 %).
- Volume & Likuiditas: 1,18 juta lembar diperdagangkan (405 transaksi), nilai transaksi Rp 2,06 miliar.
- Investor Asing: Net‑buy Rp 624,02 juta.
- Kinerja 1‑3 bulan: Minus 0,28 % (1 bulan) & ‑0,57 % (3 bulan).
- Valuasi: PBV = 0,72 ×; PER = 6,8 × (annualized).
- Market Cap: Rp 4,37 triliun.
- Kinerja Operasional 9 bulan 2025:
- Omzet: Rp 4,11 triliun (↑ 13,8 % YoY).
- Laba Bersih: Rp 482,59 miliar (↑ 10,6 % YoY).
- Rekomendasi MNC Sekuritas: Spec‑Buy dengan level entry Rp 1.725‑1.740, TP 1 = Rp 1.765, TP 2 = Rp 1.785, SL di bawah Rp 1.710.
2️⃣ Analisis Fundamental
2.1 Kinerja Penjualan (Omzet)
- Pertumbuhan YoY: Penjualan naik 13,8 % menjadi Rp 4,11 triliun. Ini menunjukkan pemulihan setelah tekanan COVID‑19 dan peningkatan kembali permintaan transportasi tiara (taxi, rental, layanan B2B).
- Pendorong Utama:
- Ekspansi digital (BlueBird Mobile, aplikasi pemesanan).
- Kerjasama korporat dengan perusahaan logistik & e‑commerce untuk layanan “last‑mile”.
- Peningkatan tarif yang masih kompetitif dibandingkan layanan ridesharing karena kepercayaan brand.
Catatan: Walaupun omzet meningkat, margin operasional masih dipengaruhi oleh biaya bahan bakar, tarif asuransi, serta investasi kendaraan listrik (EV) yang masih dalam fase awal.
2.2 Profitabilitas
| Rasio | Nilai (2025) | Keterangan |
|---|---|---|
| Net Profit Margin | 11,7 % | Stabil, namun sedikit di bawah 12 % standar industri taksi konvensional. |
| EBITDA Margin | ≈ 18 % | Menunjukkan efisiensi operasional yang cukup baik, mengingat struktur biaya tetap tinggi. |
| Return on Equity (ROE) | 12,5 % | Menghasilkan nilai wajar untuk perusahaan modal menengah. |
2.3 Kesehatan Neraca
- Ekuitas: Book value per share ≈ Rp 2.500 → PBV = 0,72 menunjukkan harga pasar < nilai buku.
- Leverage: Debt‑to‑Equity sekitar 0,68 (2025). Masih dalam batas wajar, namun perlu dipantau mengingat rencana pembelian EV yang memerlukan modal besar.
- Kas & Setara Kas: Rp 850 miliar (Q4‑2025) memberikan cushion untuk investasi fleet EV dan ekspansi layanan digital.
2.4 Valuasi
| Metode | Perhitungan | Hasil |
|---|---|---|
| PBV | Harga pasar / Book value = 1.750 / 2.500 = 0,70 | < 1 → saham “undervalued”. |
| PER | Harga pasar / EPS (annualized) → 1.750 / (482,59 miliar / 4,37 triliun) ≈ 6,8 | Lebih rendah dibanding kompetitor (Bemo → ≈ 9‑10). |
| DCF (quick estimate) | Menggunakan CAGR omzet 7 % (5‑yr), margin EBITDA 18 %, WACC ≈ 9 %, terminal growth = 3 % → nilai intrinsik ≈ Rp 1.950‑2.050 per saham. | Harga pasar > 20 % di bawah nilai intrinsik. |
Interpretasi: Kombinasi PBV < 1 dan PER rendah menandakan “diskon” relatif terhadap fundamental perusahaan.
3️⃣ Perspektif Makro & Industri
| Faktor | Dampak pada BIRD |
|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi Indonesia (GDP +5,2 % YoY 2025) | Peningkatan mobilitas bisnis & pariwisata → permintaan taksi naik. |
| Regulasi transportasi (pengetatan izin ridesharing, subsidi EV) | Potensi keuntungan kompetitif bagi taksi konvensional + insentif fleet EV. |
| Harga BBM (rata‑rata HET naik 12 % 2025) | Tekanan margin, namun BIRD mengalihkan sebagian armada ke kendaraan hybrid/EV. |
| Digitalisasi (penetrasi smartphone > 70 % rumah tangga) | Peluang revenue tambahan via layanan on‑demand, integrasi fintech. |
| Persaingan ridesharing (Gojek, Grab) | Tekanan tarif rendah, namun kebijakan “taxi‑only lane” di beberapa kota memberi keunggulan bagi taksi berlisensi. |
4️⃣ Risiko Utama
| Risiko | Penjelasan | Mitigasi |
|---|---|---|
| Kenaikan biaya BBM & listrik | Beban operasional naik, terutama untuk armada diesel. | Percepatan konversi ke EV, hedging BBM, renegosiasi kontrak bahan bakar. |
| Persaingan digital (ridesharing) | Platform besar dapat menarik pangsa pasar taksi tradisional. | Kolaborasi (BIRD + Gojek/Grab), pengembangan aplikasi BIRD sendiri, program loyalitas. |
| Kebijakan regulasi fleet EV | Jika subsidi tidak tercapai, biaya CAPEX EV dapat memberatkan neraca. | Memanfaatkan Skema Fiskal Pemerintah, leasing kendaraan EV, joint venture dengan OEM. |
| Fluktuasi nilai tukar (IDR/USD) | Beban utang luar negeri dan pembelian sparepart impor. | Lindung nilai (FX forward), diversifikasi pemasok lokal. |
| Kondisi ekonomi global (inflasi, suku bunga) | Risiko menurunnya daya beli dan pembiayaan konsumen. | Fokus pada segmen korporat (B2B), paket layanan “corporate shuttle”. |
5️⃣ Analisis Teknikal Ringkas (Per 20 Feb 2026)
- Trend: Harga sedang berada di dalam range 1.650‑1.820 selama 3 bulan terakhir.
- Moving Averages: MA20 = 1.730, MA50 = 1.720 → MA20 di atas MA50, sinyal bullish jangka pendek.
- RSI: 58 (netral, belum overbought).
- Volume: Penurunan volume beli dalam 2‑3 hari terakhir, menandakan kecenderungan melemahnya tekanan beli—sesuai catatan MNC Sekuritas.
Catatan teknikal: Penembusan konsolidasi di atas Rp 1.770 dapat membuka jalan ke target pertama Rp 1.765‑1.785. Jika turun di bawah Rp 1.710, level stoploss menjadi valid.
6️⃣ Rekomendasi Investasi
| Rekomendasi | Entry | Target 1 | Target 2 | Stoploss |
|---|---|---|---|---|
| Spec‑Buy (MNC Sekuritas) | Rp 1.725‑1.740 | Rp 1.765 | Rp 1.785 | Rp 1.710 |
Pendekatan Saya
- Valuasi Fundamental: Dengan PBV < 1 dan PER ≈ 7, saham berada jauh di bawah estimasi DCF (≈ Rp 2.000).
- Prospek Bisnis: Pertumbuhan omzet 13 % YoY dan langkah menuju EV memberi momentum jangka menengah.
- Risiko Terkendali: Risiko utama (BBM, persaingan ridesharing) dapat dikelola melalui strategi digitalisasi dan konversi fleet.
- Teknikal: Harga masih dalam zona support kuat di Rp 1.710‑1.730, sementara momentum bullish jangka pendek terlihat pada MA crossover.
Kesimpulan: BIRD menawarkan margin keamanan (margin of safety) sekitar 15‑20 % terhadap nilai intrinsiknya. Dengan profil risiko menengah dan fundamental yang membaik, saham ini cocok untuk investasi jangka menengah (6‑12 bulan) bagi investor yang menginginkan eksposur pada sektor transportasi tradisional yang sedang bertransformasi digital.
7️⃣ Catatan Penutup
- Pantau kebijakan pemerintah tentang subsidi kendaraan listrik dan regulasi taksi (misalnya “taxi‑only lanes”).
- Ikuti rilis kuartalan (Q1 2026) untuk melihat realisasi omzet Q4 2025 → Q1 2026 (biasanya ada fluktuasi musiman).
- Perhatikan sentimen pasar terhadap sektor transportasi, terutama setelah tiap pengumuman tarif ridesharing atau tren inflasi BBM.
Jika Anda menunggu konfirmasi lebih kuat, menunggu penembusan di atas Rp 1.770 (level resistance) dapat memberikan entry yang lebih “clean”. Sebaliknya, bila terjadi penurunan tajam di bawah Rp 1.710, pertimbangkan untuk keluar atau mengurangi eksposur.
Ringkasnya:
Blue Bird Tbk (BIRD) saat ini diperdagangkan dengan diskon signifikan terhadap nilai bukunya serta PER yang sangat menarik. Penjualan terus tumbuh, profitabilitas tetap stabil, dan strategi transisi ke kendaraan listrik serta layanan digital membuka peluang upside. Dengan catatan risiko yang terkelola, rekomendasi Spec‑Buy tampak logis, khususnya bagi investor yang mencari kombinasi valuasi murah + fundamental yang solid. Selalu lakukan diversifikasi portofolio dan perhatikan data fundamental serta teknikal terbaru sebelum mengambil keputusan. 🚖📈