Penjualan Aset di Bawah Nilai Pasar, Rugi Akuntansi Rp 78,49 Miliar, Namun Saham ZATA Melejit 171 %: Analisis Dampak Strategis, Risiko, dan Peluang bagi Investor

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 21 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Konteks Peristiwa

  • Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Feb 2026 mengesahkan rencana penjualan aset tetap (tanah & bangunan) PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) dengan harga yang di bawah nilai pasar wajar.
  • Menurut laporan laba‑rugi konsolidasian proforma, transaksi tersebut akan mencatat kerugian akuntansi sebesar Rp 78,49 miliar, yang cukup besar untuk mengubah posisi laba bersih menjadi rugi bersih pada laporan keuangan yang dimodifikasi.
  • Tujuan utama penjualan: kecepatan realisasi kas (speed‑to‑cash) untuk menurunkan beban utang bank dan menjaga going concern perusahaan.

2. Reaksi Pasar: Mengapa Harga Saham Menggulung?

Faktor Penjelasan
Sentimen “turn‑around” Investor menginterpretasikan aksi manajemen sebagai langkah restrukturisasi yang tegas, menyingkirkan aset illiquid yang “menggantung” di neraca.
Penyelesaian likuiditas Beratnya beban utang bank seringkali menjadi peringatan default. Penjualan aset, meski merugi, memulihkan likuiditas dan menurunkan risiko kegagalan pembayaran.
Harapan manajemen Pernyataan “prioritas kecepatan kas dibandingkan valuasi ideal” menimbulkan ekspektasi cash‑flow positif di masa depan, yang biasanya didorong oleh investor nilai (value‑investor).
Short‑covering & spekulasi Saham yang sebelumnya diperdagangkan di sekitar Rp 60 sering menjadi target short‑seller. Berita RUPSLB dapat memicu short‑covering, menambah tekanan beli.
Kurangnya alternatif Sektor konstruksi/real‑estate pada 2026 masih bergejolak; saham dengan valuasi tertekan yang menunjukkan sinyal “perbaikan fundamental” menjadi magnet bagi aliran dana.

Kombinasi faktor‑faktor di atas dapat menjelaskan lonjakan 34,71 % pada satu hari (20 Feb 2026) dan total kenaikan 171 % sejak 14 Jan 2026.

3. Analisis Keuangan dan Akuntansi

3.1 Kerugian Akuntansi vs. Dampak Kas

  • Kerugian Rp 78,49 miliar tercatat karena selling price < carrying amount. Namun, dalam laporan arus kas, kas masuk dari penjualan akan menjadi inflow yang dapat digunakan untuk:
    • Pelunasan hutang bank (mengurangi beban bunga);
    • Pembayaran kewajiban jangka pendek;
    • Pembiayaan operasional atau investasi kembali (jika ada peluang profit‑center).
  • Dengan mengorbankan neraca “paper loss”, perusahaan menurunkan rasio leverage (Debt‑to‑Equity, Debt‑to‑EBITDA) yang biasanya menjadi faktor penilaian kredit dan covenants bank.

3.2 Pengaruh terhadap Ekuitas dan Perpajakan

  • Penurunan ekuitas yang signifikan dapat memicu perjanjian pinjaman (financial covenants) yang mengharuskan minimum equity. Jika ekuitas turun di bawah batas, perusahaan mungkin harus menyuntikkan modal atau negosiasi ulang perjanjian.
  • Kerugian penjualan aset dapat menjadi basis pengurang pajak (tax shield) pada laporan PPh badan, asalkan tidak melampaui batas yang diizinkan. Ini dapat menambah cash‑flow after‑tax di jangka pendek.

3.3 Proyeksi Laba Rugi Proforma

  • Setelah penjualan, beban depresiasi aset tetap berkurang, yang dapat meningkatkan EBITDA di masa depan.
  • Namun, penurunan pendapatan yang dihasilkan dari aset terjual (misalnya penyewaan atau produksi) harus dipertimbangkan. Jika aset tidak menghasilkan pendapatan signifikan, dampaknya pada profitabilitas operasional akan netral atau positif.

4. Pertimbangan Manajemen Risiko

Risiko Penjelasan Mitigasi
Risiko likuiditas Penjualan aset di bawah nilai pasar menurunkan cash flow yang diharapkan. Memastikan perjanjian kredit yang fleksibel, covenant yang tidak terlalu ketat, dan adanya cadangan kas setelah penjualan.
Risiko reputasi & kepercayaan pemegang saham Rugi akuntansi besar dapat menurunkan kepercayaan jangka panjang. Transparansi penuh, roadshow investor, dan rencana bisnis jangka menengah yang jelas.
Risiko regulasi POJK 17/2020 mengatur batas minimal nilai transaksi untuk RUPS. Penjualan di bawah batas memerlukan RUPSLB. Kepatuhan prosedural sudah terpenuhi; tetap awasi regulator update yang dapat menambah persyaratan.
Risiko pasar Harga saham yang melonjak tajam dapat memicu koreksi cepat jika ekspektasi tidak terpenuhi. Komunikasi berkala tentang realisasi cash, struktur permodalan baru, dan progres restrukturisasi.
Risiko operasional Penjualan aset dapat mengurangi kapasitas produksi atau layanan. Jika aset tidak strategis (misal properti tak terpakai), dampak minimal. Pastikan kesiapan alternatif bila aset penting.

5. Sudut Pandang Investor

5.1 Investor Jangka Pendek (Trader)

  • Strategi: Manfaatkan volatilitas; beli pada pull‑back setelah lonjakan, atau short bila ada tanda‑tanda koreksi.
  • Indikator utama: Volume perdagangan, order flow di bursa, dan berita lanjutan (misalnya tanggal penandatanganan perjanjian penjualan, actual cash inflow).

5.2 Investor Jangka Menengah – Panjang (Value/Strategic)

  • Kriteria masuk:
    1. Fundamental yang lebih baik setelah restrukturisasi – leveransi menurun, arus kas operasi meningkat.
    2. Valuasi terjangkau dibandingkan peers (misal P/E, EV/EBITDA).
    3. Keunggulan kompetitif yang tetap ada (mis. pipeline proyek, kontrak jangka panjang).
  • Tindakan: Lakukan analisis DCF dengan memasukkan cash inflow penjualan aset, reduction of interest expense, dan potential reinvestment (mis. akuisisi aset produktif).

5.3 Pertimbangan Etika & Tata Kelola

  • Keputusan menjual aset di bawah nilai pasar bisa menimbulkan kecurigaan bahwa manajemen mengorbankan kepentingan pemegang saham demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
  • Namun, catatan RUPSLB yang menekankan transparansi dan memperoleh persetujuan pemegang saham menurunkan risiko litigasi.
  • Investor yang sensitif pada ESG harus menilai apakah penjualan aset melibatkan pengalihan tanggung jawab lingkungan (mis. lahan terkontaminasi) atau pemberdayaan komunitas.

6. Kesimpulan & Rekomendasi

  1. Penjualan aset di bawah nilai pasar memang menghasilkan kerugian akuntansi material, namun langkah ini harus dipahami sebagai strategi likuiditas yang bertujuan mempertahankan going concern dan menurunkan beban hutang.
  2. Lonjakan saham 171 % mencerminkan optimisme pasar terhadap perbaikan fundamental, bukan sekadar spekulasi semata. Namun, kenaikan yang cepat meningkatkan risiko koreksi bila ekspektasi tidak terpenuhi.
  3. Investor perlu memisahkan aspek akuntansi (kerugian) dengan aspek cash‑flow (pembayaran utang, perbaikan likuiditas). Analisis cash‑flow after‑tax menjadi kunci untuk menilai nilai tambah sesungguhnya.
  4. Rencana aksi:
    • Short‑term: Pantau realisasi penjualan (tanggal closing, jumlah cash masuk). Jika cash masuk sesuai harapan dan leverage menurun, pertimbangkan untuk menambah posisi long pada koreksi harga.
    • Mid‑term: Lakukan model DCF dengan asumsi penurunan beban bunga dan potensi reinvestasi capital pada proyek dengan margin tinggi. Jika NPV positif dan margin keamanan > 20 %, saham dapat menjadi pembelian nilai.
    • Long‑term: Evaluasi kualitas manajemen (rekam jejak restrukturisasi, kepatuhan terhadap POJK, komunikasi dengan pemegang saham). Perusahaan yang menegakkan tata kelola baik biasanya menciptakan nilai berkelanjutan.

Intuisi utama: Penjualan aset “murah” bukanlah sinyal kegagalan, melainkan sinyal manajemen proaktif yang lebih mementingkan cash‑flow daripada angka “paper profit”. Bila likuiditas terjamin dan leverage turun, profitabilitas di masa depan dapat bangkit kembali, menjadikan ZATA sebuah prospek menarik bagi investor yang siap menahan volatilitas jangka pendek dan menilai fundamental secara menyeluruh.