INET Siap Suntik Rp 1 Triliun ke Anak Usaha FTTH melalui Obligasi & Sukuk Ijarah – Analisis Dampak, Risiko, dan Peluang bagi Investor serta Industri Telekomunikasi Indonesia

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 22 January 2026

1. Ringkasan Fakta Utama

Aspek Keterangan
Emiten PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
Tujuan Penawaran Mengumpulkan Rp 1 triliun (obligasi + sukuk) untuk pinjaman ke anak usaha PT Garuda Prima Internetindo (GPI) guna pengembangan jaringan FTTH berbasis Wi‑Fi 7 di Kalimantan Barat
Instrumen Obligasi I (seri A & B) dan Sukuk Ijarah I (seri A & B) masing‑masing Rp 500 miliar
Jangka Waktu Seri A ≈ 370 hari (≈ 1 tahun); Seri B ≈ 3 tahun
Pembayaran Kupon / Ijarah Setiap 3 bulan, pertama 6 Mei 2026; terakhir 16 Feb 2027 (seri A) & 6 Feb 2029 (seri B)
Jadwal Penawaran 22 Jan – 27 Jan 2026 (pre‑offering); 30 Jan – 3 Feb 2026 (public); 6 Feb 2026 distribusi; 9 Feb 2026 listing BEI
Jaminan Full‑commitment (garansi penuh) oleh INET; Sukuk dijaminkan oleh imbalan ijarah atas fiber optic cable 430 km (nilai sewa ≈ Rp 928 miliar)
Penggunaan Dana Capex GPI: OLT, ODC, fiber‑optic, drop‑wire, ONT, biaya penggelaran & jasa operasional konstruksi FTTH
Strategi Bisnis FTTH‑contractor: pendapatan berulang (konstruksi, O&M, ekspansi) + dukungan kebijakan pemerintah (pembangunan digital)

2. Analisis Keuangan dan Struktural

2.1. Struktur Pembiayaan

  • Obligasi + Sukuk = Rp 1 triliun: Diversifikasi instrumen membuka akses ke basis investor konvensional (obligasi) dan syariah (sukuk).
  • Full‑Commitment: Menandakan bahwa INET menjamin pelunasan penuh, mengurangi risiko kredit bagi pemegang obligasi/sukuk.
  • Bullet Payment: Baik obligasi maupun sukuk dibayar penuh pada jatuh tempo, berarti tidak ada amortisasi pokok selama tenor – memperbesar beban likuiditas pada tahun akhir.

2.2. Kondisi Pasar Modal Indonesia (Q1 2026)

  • Yield Obligasi Korporasi: Rata‑rata sekitar 7‑8 % untuk tenor 1‑3 tahun, tergantung rating.
  • Yield Sukuk Ijarah: Biasanya 1‑2 % lebih tinggi daripada obligasi sekuritas dengan profil risiko serupa karena struktur syariah.
  • Investor Sentimen: Peningkatan apetitt terhadap proyek infrastruktur berkelanjutan, terutama yang mendukung visi “Digital Indonesia 2028”.

Jika INET dapat menawarkan kupon di kisaran 7,5 % (seri A) dan 8,0 % (seri B) serta imbalan ijarah setara, penawaran akan berada pada level kompetitif.

2.3. Valuasi Proyek FTTH

Item Estimasi (USD) Catatan
Nilai sewa fiber 430 km (sisa) ≈ US$62 juta (Rp 928 miliar) Dasar perhitungan sukuk
Capex yang dibiayai (estimasi) US$68 – 75 juta (≈ Rp 1 triliun) Meliputi peralatan & jasa
Proyeksi pendapatan tahunan (FTTH) US$30 – 45 juta (≈ Rp 450 – 675 miliar) Asumsi 30 % penjualan layanan, tarif rata‑2 USD 0,5/GB
Payback period 2,5 – 3 tahun Dengan margin EBITDA ≈ 35 %

Jika proyeksi ini realistis, penggunaan dana akan menghasilkan cash‑flow positif yang cukup untuk melunasi obligasi & sukuk pada akhir tenor, bahkan memberikan surplus untuk dividen atau reinvestasi.


3. Implikasi bagi Investor

3.1. Keuntungan Potensial

Kategori Manfaat
Pendapatan Kupon / Ijarah Kuartalan, likuiditas medium‑short term, cocok bagi investor yang mengincar cash‑flow reguler
Diversifikasi Portofolio Tambahan eksposur ke sektor infrastruktur telekomunikasi, berbeda dengan industri tradisional (perbankan, properti)
Keamanan Kredit Full‑commitment + jaminan aset fiber – menurunkan probablitas default
Faktor ESG Proyek FTTH berkontribusi pada inklusi digital, dapat di‑tag sebagai “social impact” dalam portofolio ESG

3.2. Risiko Utama

Risiko Penjelasan Mitigasi
Kredit / Pembayaran Pokok Bullet payment menuntut likuiditas tinggi pada akhir tenor; gangguan cash‑flow GPI dapat mengganggu kemampuan pembayaran. Full‑commitment, jaminan aset, dan cadangan likuiditas INET.
Operasional Proyek di Kalimantan Barat menghadapi tantangan logistik, geografis, serta regulasi lokal. Kemitraan dengan kontraktor berpengalaman, penjadwalan fase‑by‑fase, asuransi proyek.
Regulasi & Kebijakan Perubahan tarif layanan atau persyaratan kepemilikan infrastruktur dapat mempengaruhi profitabilitas FTTH. Monitoring regulasi Kemenkominfo, fleksibilitas kontrak O&M.
Pasar Penjualan Layanan Adopsi Wi‑Fi 7 & FTTH tergantung pada daya beli konsumen di daerah target; kompetisi ISP dapat menurunkan tarif. Penyediaan paket bundling, fokus pada segmen B2B (corporate, pemerintah daerah).
Fluktuasi Nilai Tukar Beberapa komponen (OLT, ODC) di‑import, sehingga nilai tukar USD/IDR memengaruhi CAPEX. Hedging mata uang, kontrak forward dengan supplier.

3.3. Penilaian Risiko vs. Imbalan

  • Rating Internal (hipotetis): BBB‑/A‑ (tidak resmi) – mencerminkan profil medium‑risk, karena jaminan aset dan strategi bisnis yang jelas, namun terdapat ketergantungan pada kinerja GPI.
  • Yield to Maturity (YTM) yang diharapkan (perkiraan**): 7,6 % (seri A) – 8,2 % (seri B).
  • Risk‑Adjusted Return: Masih berada di atas rata‑rata obligasi korporasi domestik dengan rating serupa, sehingga menarik bagi investor institusional yang mengincar “income plus” dengan exposure infrastruktur.

4. Dampak Strategis bagi Industri Telekomunikasi Indonesia

  1. Penguatan Ekosistem FTTH – Penanaman modal Rp 1 triliun menambah kapasitas fiber optic di Kalimantan Barat, mempercepat penetrasi broadband di wilayah yang masih terbelakang.
  2. Pendorong Konsolidasi Bisnis – INET menjadi contoh “parent‑to‑subsidiary financing” via sekuritas publik yang dapat di‑replicate oleh holding‑holding telco lain (mis. Telkom, Indosat).
  3. Inovasi Teknologi (Wi‑Fi 7) – Mengadopsi standar Wi‑Fi 7 memberikan keunggulan kompetitif bagi GPI dalam menawarkan layanan “home fiber + wireless premium”, membuka peluang upsell ke layanan cloud gaming, AR/VR, dan IoT.
  4. Pengaruh Kebijakan Pemerintah – Kesesuaian dengan program “Konektivitas Nusantara” dan “Digital Village” menambah peluang mendapatkan insentif fiskal (tax holiday, subsidi Infrastruktur).

5. Rekomendasi Investasi

Investor Rekomendasi Alasan
Institusi (Dana Pensiun, Asuransi, Reksa Dana Obligasi) Buy / Hold YTM kompetitif, jaminan penuh, diversifikasi ke infrastruktur digital, profil risiko menengah yang sesuai dengan alokasi aset jangka menengah.
Investor Ritel (Sukuk‑Shariah, Obligasi Retail) Pertimbangkan Produk sukuk menarik bagi basis syariah; perlu memastikan kupon sesuai ekspektasi dan pemahaman tentang bullet‑payment.
Trader / Short‑Term Speculator Hindari Instrumen berjangka medium‑long dengan pembayaran kupon tetap, kurang likuiditas untuk swing‑trading.
PE/VC yang Fokus pada Infrastruktur Pantau Jika ada opsi konversi atau ekuitas tambahan di masa depan (mis. sukuk convertible), dapat menyediakan upside tambahan.

6. Kesimpulan

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) meluncurkan penawaran obligasi dan sukuk ijarah total Rp 1 triliun untuk mendanai ekspansi FTTH anak usahanya, GPI, di Kalimantan Barat. Struktur full‑commitment, jaminan aset fiber optic, dan fokus pada teknologi terkini (Wi‑Fi 7) memberikan landasan yang kuat bagi keberhasilan proyek dan perlindungan bagi investor.

Bagi pasar modal Indonesia, penawaran ini:

  • Meningkatkan likuiditas sekuritas infrastruktur dengan menggabungkan pasar obligasi konvensional dan sukuk syariah.
  • Memperkuat ekosistem digital melalui penambahan kapasitas broadband di wilayah strategis.
  • Memberi peluang investasi berpendapatan tetap dengan risk‑adjusted return yang kompetitif.

Namun, investor harus tetap memperhatikan risiko bullet‑payment, ketergantungan pada kinerja operasional GPI, serta faktor eksternal seperti nilai tukar dan regulasi. Dengan pemahaman yang matang, penawaran ini dapat menjadi komponen penting dalam portofolio “income + infrastructure” bagi institusi maupun investor ritel yang mengutamakan keberlanjutan dan inklusi digital.


Catatan: Analisis di atas bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi jual/beli resmi. Investor disarankan melakukan due‑diligence lebih lanjut dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan.

Tags Terkait