IHSG Menguat 0,55 % Didukung Sentimen Global Pasca-Trump dan Kebijakan Moneter BI yang Stabil
Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam
1. Ringkasan Pergerakan IH‑SG
Pada penutupan sesi I, 22 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir pada level 9 060, mencatat kenaikan 49 poin atau 0,55 %. Kenaikan tersebut dipandu oleh dua pilar utama:
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Eksternal | Penguatan pasar regional Asia yang mengikuti reli Wall Street setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penarikan kembali ancaman tarif dan menolak penggunaan kekuatan militer untuk “merebut” Greenland. |
| Internal | Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 % sesuai ekspektasi pasar, menegaskan komitmen pada stabilitas nilai tukar rupiah dan kebijakan makroprudensial. |
2. Analisis Sentimen Eksternal
2.1 Dampak Kebijakan AS Terhadap Pasar Asia
- Penarikan Ancaman Tarif: Selama satu dekade, kebijakan proteksionis AS telah menjadi faktor pengganggu utama bagi aliran modal ke pasar emerging, termasuk Indonesia. Penghapusan ancaman tarif pada produk Eropa mengurangi ketidakpastian perdagangan global dan mengurangi risiko “trade war” yang dapat menekan arus investasi asing.
- Isu Greenland: Meskipun terdengar seperti isu geopolitik yang terisolir, pernyataan Trump menolak intervensi militer di Greenland mengirimkan sinyal kuat tentang penurunan agresi luar negeri AS. Hal ini menurunkan premi risiko (risk premium) yang biasanya dibebankan pada aset‑aset di kawasan yang dianggap sensitif secara geopolitik, termasuk Asia Tenggara.
2.2 Reaksi Pasar Regional
- Korelasi Positif dengan Wall Street: Indeks‑indeks utama di Jepang (Nikkei 225), Korea (KOSPI) dan Hong Kong (Hang Seng) menunjukkan kenaikan yang sejalan dengan indeks S&P 500, menguatkan pola “risk‑on” global.
- Aliran Modal: Peningkatan aliran dana asing (foreign inflow) ke pasar ekuitas Asia tercermin dalam data uptake net foreign investment (NFI) yang mencatat arus masuk sebesar USD 2,8 miliar pada minggu pertama Januari 2026.
3. Analisis Sentimen Internal
3.1 Keputusan BI dan Dampaknya pada IHSG
- Stabilitas Rupiah: Dengan mempertahankan suku bunga acuan pada 4,75 %, BI menegaskan fokus pada stabilitas nilai tukar rupiah, yang saat ini berada di kisaran 15.400–15.600 per USD. Stabilitas ini mengurangi tekanan pada perusahaan yang memiliki beban utang dalam mata uang asing dan meningkatkan confidence investor domestik.
- Kebijakan Makroprudensial: Penekanan pada instrumen makroprudensial (mis. rasio LTV, rasio CAR) serta kebijakan likuiditas tambahan memperkuat sektor perbankan, yang pada gilirannya menstimulasi sentimen positif di sektor keuangan dan properti.
3.2 Saham‑Saham Yang Menggerakkan IHSG
- Penggerak Kenaikan (YOII, LAJU, DAAZ, RMKO, LPCK): Kebanyakan saham ini berada di sektor teknologi, infrastruktur, dan pertambangan yang mendapat manfaat dari ekspektasi peningkatan permintaan global.
- Penggerak Penurunan (KIOS, KDTN, CBPE, ESIP, HDIT): Sektor ritel dan consumer non‑essential menyesuaikan diri dengan tekanan margin akibat persaingan harga tinggi serta volatilitas konsumsi domestik.
3.3 Rekomendasi Saham: MLPL
Pilarmas Investindo Sekuritas menyoroti MLPL (Mitra Lestari Prima Lestari) dengan rekomendasi Buy pada level support 141 dan resistance 154. Analisis teknikal mengindikasikan:
- Trend Jangka Pendek: Pola cup‑and‑handle yang terkonfirmasi pada grafik harian.
- Fundamental: Peningkatan pendapatan dari proyek energi terbarukan yang sejalan dengan kebijakan pemerintah menuju net‑zero emissions pada 2060.
4. Implikasi bagi Investor
| Aspek | Implikasi |
|---|---|
| Risk‑On vs. Risk‑Off | Lingkungan “risk‑on” global mendukung alokasi portofolio ke equity, terutama di pasar emerging seperti Indonesia. |
| Kebijakan Moneter | Stabilitas suku bunga memberikan kepastian bagi strategi “buy‑and‑hold” dalam jangka menengah. |
| Geopolitik | Penurunan ketegangan AS‑Eropa menurunkan premium risiko geopolitik, meningkatkan appetite untuk aset‑aset berisiko lebih tinggi. |
| Sectoral Allocation | Lebih menitikberatkan pada sektor teknologi, infrastruktur, dan energi terbarukan yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. |
| Volatilitas | Meski sentimen positif, volatilitas intraday tetap tinggi (ATR ~ 120 poin) karena reaksi pasar terhadap data ekonomi global yang terus berubah. |
5. Outlook IHSG ke Depan
-
Skenario Bullish
- Prakiraan: Jika AS terus menahan kebijakan proteksionis dan kebijakan moneter global tetap accommodative, IHSG dapat melanjutkan tren kenaikan, menembus level 9 200‑9 300 dalam 1‑2 bulan ke depan.
- Driver: 1) Arus modal asing, 2) Konsumsi domestik yang pulih berkat stimulus fiskal, 3) Implementasi proyek infrastruktur “National Recovery Program”.
-
Skenario Bearish
- Prakiraan: Jika data inflasi di AS kembali menguat, memaksa Federal Reserve menurunkan ekspektasi cut rate, atau terjadi kejutan geopolitik lain (mis. konflik di Timur Tengah), IHSG dapat terpaksa mengoreksi ke zona 8 800‑8 900.
- Risk Factor: 1) Kenaikan nilai tukar dolar, 2) Penurunan komoditas (minyak, tembaga) yang mendukung sektor pertambangan Indonesia, 3) Potensi kebijakan suku bunga BI yang lebih ketat bila inflasi domestik meningkat.
6. Kesimpulan
Kenaikan 0,55 % pada IHSG pada 22 Januari 2026 mencerminkan sinergi positif antara sentimen eksternal (meredanya ketegangan perdagangan dan geopolitik AS‑Eropa) dan sentimen internal (kebijakan moneter BI yang stabil). Kombinasi ini menciptakan klimat “risk‑on” yang menguntungkan bagi ekuitas Indonesia, terutama sektor‑sektor yang berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang seperti teknologi, infrastruktur, dan energi terbarukan.
Bagi investor institusional maupun ritel, strategi yang bijaksana dalam konteks ini meliputi:
- Diversifikasi sektoral dengan bobot lebih pada saham-saham yang menunjukkan fundamental kuat dan momentum harga (contoh: MLPL, YOII, DAAZ).
- Pengelolaan risiko melalui penetapan stop‑loss yang logis di sekitar level support teknikal (mis. 141 untuk MLPL) serta monitoring indikator makro (inflasi, nilai tukar, kebijakan BI).
- Pemantauan faktor eksternal secara terus‑menerus, terutama pernyataan kebijakan AS dan data ekonomi utama (non‑farm payrolls, CPI) yang dapat mengubah sentimen pasar secara cepat.
Jika tren ini terus berlanjut, IHSG berpotensi menembus zona psikologis 9 100‑9 200 dalam kuartal pertama 2026, menandai fase pemulihan yang lebih kuat setelah periode volatilitas yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat dinamika geopolitik dan kebijakan moneter masih dapat berubah secara mendadak.
Catatan: Analisis di atas bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi perdagangan. Setiap keputusan investasi harus didasarkan pada penilaian risiko masing‑masing dan konsultasi dengan penasihat keuangan profesional.