Investor Asing “Menyimpan” Saham Grup Salim, Sinar Mas, dan Barito Pacific di Akhir Januari 2026: Apa Makna Net-Buy Besar di Tengah Net-Sell Triliunan di Bursa Efek Indonesia?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 1 February 2026

Judul:

“Investor Asing “Menyimpan” Saham Grup Salim, Sinar Mas, dan Barito Pacific di Akhir Januari 2026: Apa Makna Net‑Buy Besar di Tengah Net‑Sell Triliunan di Bursa Efek Indonesia?”


Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam

1. Ringkasan Fakta Utama

Emiten Grup Konglomerasi Net‑Buy Asing (Januari 26‑30 2026) Keterangan Utama
PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) Sinar Mas (via Axiata) Rp 409,2 miliar Net‑buy terbesar pada periode.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Salim Group (dan Medco) Rp 358,3 miliar Tambang tembaga & emas.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Barito Pacific (Prajogo Pangestu) Rp 295,6 miliar Petrokimia & energi tradisional.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Barito Pacific Rp 274,9 miliar Energi terbarukan (pembangkit listrik).
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Salim Group Rp 182,1 miliar Makanan & minuman konsumen.
  • Net‑sell seluruh pasar BEI: Rp 13,9 triliun (pekan tersebut) → total akumulasi net‑sell tahun 2026: Rp 9,87 triliun.
  • Net‑sell Jumat 30 Jan 2026: Rp 1,53 triliun, dipimpin oleh TLKM, PTRO, BUMI, IMPC, BBNI.

2. Makna Net‑Buy Besar pada Kelima Emiten

a. Kepercayaan terhadap Fundamental Perusahaan

  • EXCL (telekomunikasi) memperoleh aliran modal asing terkuat. Pada awal 2026, Indonesia sedang mempercepat peluncuran 5G dan jaringan serat optik, sementara Sinar Mas mengarahkan investasi ke infrastruktur digital. Net‑buy ini menandakan ekspektasi pertumbuhan pendapatan dan margin yang lebih baik, terutama setelah akuisisi/kerjasama dengan Axiata.

  • AMMN (pertambangan tembaga & emas) berada di tengah “copper boom” global yang dipicu oleh transisi energi bersih. Harga tembaga yang berada di kisaran US$ 9 – 10 per pound (lebih tinggi dibandingkan tahun‑lalu) meningkatkan valuasi perusahaan tambang. Net‑buy menunjukkan bahwa investor asing menilai Cadangan Amman sebagai aset jangka panjang yang “defensif” dengan upside signifikan.

  • BRPT dan BREN mencerminkan diversifikasi grup Barito ke energi tradisional dan terbarukan. Pada 2026, pemerintah Indonesia menargetkan 23 GW energi terbarukan pada 2025, kemudian 31 GW pada 2030. Net‑buy BREN (energi terbarukan) menandakan spekulasi kenaikan tarif feed-in atau kontrak jangka panjang yang menguntungkan. Di sisi lain, BRPT masih mendapat manfaat dari kenaikan harga minyak & gas serta kebijakan “petrokimia for the nation”.

  • INDF (makanan & minuman) adalah “consumer staple”. Meski pendapatan konsumen masih tertekan oleh inflasi, perusahaan memiliki brand yang sangat kuat dan jaringan distribusi nasional. Net‑buy sebesar Rp 182 miliar mengindikasikan keyakinan bahwa margin akan membaik seiring penurunan biaya logistik dan keberhasilan inisiatif produk premium.

b. Strategi “Tampung” (Hold‑Back) oleh Investor Asing

  • Istilah “tampung” dalam konteks BEI biasanya merujuk pada strategi “covering” atau menahan posisi long untuk mengantisipasi penurunan jangka pendek, bukan sekadar pembelian spekulatif. Kenaikan net‑buy yang signifikan dalam satu minggu dapat menggambarkan penyusunan posisi (position‑building) sebelum rilis data makro‑ekonomi atau laporan keuangan berikutnya. Contohnya:
    • EXCL: Menjelang peluncuran layanan 5G (Q2 2026) dan pelaporan Q4 2025.
    • AMMN: Menjelang publikasi cadangan tembaga/emas pada kuartal berikutnya.
    • BREN: Menjelang finalisasi Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN.

c. Perbandingan Net‑Buy dengan Net‑Sell Pasar

  • Meskipun kelima emiten mendapat net‑buy total Rp 1,52 triliun, pasar BEI secara keseluruhan mengalami net‑sell Rp 13,9 triliun. Ini menandakan sentimen bearish luas (misalnya kekhawatiran tentang suku bunga global, kebijakan moneter AS, atau geopolitik). Namun, pencarian safe‑haven atau “quality picks” menyebabkan aliran dana ke saham dengan fundamental kuat, sehingga menciptakan divergence antara trend pasar dan pola aliran modal asing.

3. Implikasi untuk Investor Domestik dan Institusional

Aspek Implikasi
Valuasi Saham Net‑buy biasanya menekan harga ke atas. Namun, dalam pasar bearish, kenaikan dapat terkendala oleh tekanan jual umum. Investor domestik yang mengamati volume net‑buy dapat memanfaatkan momentum untuk membuka posisi jangka menengah.
Likuiditas Aliran masuk asing menambah likuiditas pada saham-saham ini, mengurangi spread bid‑ask dan mempermudah eksekusi order.
Risk‑Reward Karena masih ada tekanan jual umum, volatilitas dapat meningkat. Peluang long‑short: beli EXCL, AMMN, BREN, BRPT, INDF; short saham yang mengalami net‑sell paling besar (contoh TLKM, BBNI).
Strategi Portofolio Karena ketiga grup (Salim, Sinar Mas, Barito) memiliki eksposur ke sektor telekomunikasi, pertambangan, energi, consumer staples, menambah bobot pada masing‑masing dapat meningkatkan diversifikasi sektor dalam portofolio.

4. Faktor-Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Net‑Buy Ini

  1. Kebijakan Pemerintah & Regulasi

    • Rencana Arah Kebijakan (RAB) 2026‑2030 menekankan digitalisasi, energi bersih, dan keamanan pangan. Ini secara langsung menguntungkan EXCL, BREN, dan INDF.
    • Peraturan “Foreign Ownership Limit” di sektor telekomunikasi masih pada 49 %, sehingga investasi asing pada EXCL tetap terbuka untuk ekspansi.
  2. Kondisi Makro‑Ekonomi Global

    • US Federal Reserve masih menjaga suku bunga tinggi; arus dana keluar dari pasar emerging. Namun, investor institusional mencari “relative value” dengan menempatkan dana di saham Indonesia yang undervalued.
    • Harga Komoditas: Tembaga dan emas tetap kuat, memperkuat AMMN. Harga minyak yang relatif stabil (OPEC+ mengatur produksi) memberi dukungan pada BRPT.
  3. Peristiwa Korporasi Mendatang

    • EXCL: Penyerahan jaringan 5G ke pemerintah, kemungkinan joint‑venture dengan perusahaan teknologi lokal.
    • BREN: Penandatanganan PPA 20‑25 tahun untuk pembangkit solar & wind, meningkatkan cash flow jangka panjang.
    • INDF: Peluncuran lini produk tinggi‑protein (alternatif nabati) yang akan memperluas pangsa pasar.

5. Prediksi Jangka Pendek & Menengah (3‑12 Bulan)

Emiten Prediksi Harga (per 30 Jun 2026) Rationale
EXCL Rp 1.825 (↑ ≈ 12 % dari 30 Jan) Progres 5G dan perkiraan EBITDA + 15 % Q2‑2026.
AMMN Rp 2.340 (↑ ≈ 10 % ) Harga tembaga stabil di US$ 9,5/lb; penambahan cadangan proven.
BRPT Rp 1.970 (↑ ≈ 8 % ) Margin petrokimia membaik, dukungan laba bersih.
BREN Rp 920 (↑ ≈ 15 % ) Kontrak PPA baru meningkatkan cash flow.
INDF Rp 10.850 (↑ ≈ 7 % ) Pertumbuhan penjualan produk premium, efisiensi biaya.

Catatan: Prediksi bersifat indikatif, mengingat sentimen bearish umum dapat menekan kenaikan harga, terutama bila ada data inflasi atau kebijakan moneter yang tidak terduga.

6. Kebijakan atau Langkah yang Dapat Diambil Pemerintah & Regulator

  1. Meningkatkan Transparansi Reporting – Mempercepat publikasi data net‑buy/net‑sell harian sehingga investor dapat menilai aliran modal dengan lebih cepat.
  2. Mendorong Kolaborasi Industri – Memfasilitasi joint‑venture antara perusahaan energi tradisional (BRPT) dan energi terbarukan (BREN) untuk mempercepat transisi karbon.
  3. Stimulasi Sektor Konsumer – Kebijakan insentif pajak pada produk lokal dapat memperkuat margin INDF di tengah tekanan inflasi.
  4. Pengawasan Praktik “Tampung” – Mengawasi potensi manipulasi pasar via “tampung” yang berlebihan, misalnya melalui pengaturan batas maksimal akumulasi net‑buy dalam satu minggu.

7. Kesimpulan Utama

  • Net‑buy asing pada EXCL, AMMN, BRPT, BREN, dan INDF mencerminkan strategi “quality pick” di tengah pasar bearish yang didominasi oleh net‑sell triliunan.
  • Fundamental kuat (pertumbuhan 5G, komoditas tembaga, transisi energi, konsumer staple) dan prospek kebijakan pemerintah memberikan dukungan yang signifikan bagi kelima emiten.
  • Investor domestik dapat memanfaatkan divergensi ini dengan menambah eksposur pada saham-saham yang mendapat dukungan aliran modal asing, sambil tetap menjaga manajemen risiko terhadap volatilitas pasar makro.
  • Pengawasan regulator tetap penting untuk memastikan bahwa akumulasi net‑buy bersifat spekulatif yang sehat, bukan praktik manipulatif yang merugikan likuiditas pasar.

Dengan memperhatikan data net‑buy/​net‑sell, faktor fundamental, serta konteks makro‑ekonomi, para pelaku pasar dapat membuat keputusan alokasi dana yang lebih terinformasi dan memaksimalkan peluang keuntungan dalam periode 2026 yang masih penuh tantangan.