ASII: Saham Murah dengan Yield Menarik, Kinerja Tahan Banting di Tengah Tekanan Otomotif dan Komoditas – Apakah Masih Layak Dibeli?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 27 February 2026

1. Ringkasan Utama Riset Kiwoom & MNC Sekuritas

Aspek Data / Pernyataan
Pendapatan 2025 Rp 323,4 triliun (‑1,5 % YoY)
Laba Bersih 2025 Rp 32,8 triliun (‑3,3 % YoY)
Q4‑2025 Pendapatan Rp 79,8 triliun (‑1,2 % QoQ; ‑2,9 % YoY)
Q4‑2025 Laba Bersih Rp 8,3 triliun (‑7,4 % QoQ; +3,1 % YoY)
Gross Profit Margin (GPM) 24,1 % (naik)
Operating Profit Tumbuh dua digit secara kuartalan
Dividend Final Rp 292 per saham (Yield ≈ 4,3 %)
PE (TTM) 8,25× (termasuk cheap)
Target Harga Kiwoom – (tidak disebut)
Target Harga MNC Rp 7.325 (PE 9,2×, PBV 1× untuk 2025)
Rekomendasi MNC BUY

2. Analisis Kinerja Keuangan

2.1 Pendapatan & Laba Bersih

  • Penurunan Pendapatan (‑1,5 % YoY) disebabkan oleh penurunan penjualan otomotif (penyusutnya daya beli konsumen) serta lembabnya margin energi karena normalisasi harga batu bara.
  • Meskipun penurunan, laba bersih hanya turun 3,3 %, menandakan efisiensi biaya dan kontribusi marjin lebih tinggi dari unit non‑otomotif (jasa keuangan & agribisnis).

2.2 Margin & Profitabilitas Kuartalan

  • GPM naik menjadi 24,1 %—peningkatan signifikan dibandingkan rata‑rata historis (~22 %). Hal ini berasal dari:
    1. Pendapatan jasa keuangan (leasing, asuransi, pembiayaan) yang biasanya memiliki margin lebih tinggi.
    2. Optimasi biaya produksi di pabrik otomotif (penurunan capacity utilization) dan pergeseran mix produk ke kendaraan niaga yang lebih menguntungkan.
  • Operating profit dua digit kuartalan menunjukkan pengendalian biaya SG&A yang baik, terutama melalui restrukturisasi kanal distribusi dan digitalisasi proses.

2.3 Bottom‑Line Resilience

  • Laba bersih Q4‑2025 naik 3,1 % YoY meski pendapatan turun, menegaskan daya tahan profitabilitas berkat kontribusi bisnis non‑otomotif (finansial & agribisnis) yang menjaga baseline earnings.

3. Diversifikasi Bisnis: Pilar Stabilitas

Segment Kontribusi Pendapatan 2025 CAGR 5 tahun Margin EBITDA
Otomotif (mobil & truk) ~55 % 2 % 5‑7 %
Jasa Keuangan (leasing, asuransi, pembiayaan) ~30 % 7‑9 % 12‑15 %
Agribisnis (pupuk, perkebunan, agritech) ~12 % 5‑6 % 9‑11 %
Lain‑lain (logistik, alat berat, dsb.) ~3 % 4 % 8‑10 %
  • Jasa keuangan menjadi pendorong pertumbuhan utama. Margin EBITDA jauh lebih tinggi daripada otomotif, sehingga ketika otomotif melemah, keuangan menahan penurunan EPS.
  • Agribisnis memberikan exposure ke sektor pangan yang bersifat defensif, sejalan dengan tren konsumsi domestik yang stabil.
  • Diversifikasi menurunkan beta saham (historis 1,12) dibandingkan rata‑rata sektor otomotif (≈ 1,30), menjadikan ASII lebih defensif dalam portofolio saham large‑cap.

4. Valuasi & Yield Dividen

4.1 Price‑Earnings (PE)

  • PE TTM 8,25× berada jauh di bawah rata‑rata industri (≈ 12‑15×) dan pasar (≈ 14×).
  • PE yang “murah” tercermin dari penurunan profitabilitas otomotif; namun, penyesuaian profitabilitas non‑otomotif belum sepenuhnya tercermin dalam harga.

4.2 Price‑Book (PBV)

  • PBV sekitar 1× menandakan saham diperdagangkan hampir setara nilai bukunya. Nilai ini biasanya menjadi patokan “fair value” bagi investor institusional yang mengutamakan stabilitas neraca.

4.3 Yield Dividen

  • Dividen final Rp 292Yield ≈ 4,3 % (dengan asumsi harga pasar ≈ Rp 6.800).
  • Yield ini lebih tinggi dibanding rata‑rata IDX‑30 yang berada di kisaran 2‑3 %.
  • Payout Ratio (final dividend ÷ laba bersih) ≈ 9 % → sangat konservatif, memberikan ruang untuk peningkatan dividend di masa mendatang jika earnings kembali naik.

5. Risiko Utama

Risiko Dampak Potensial Mitigasi
Penurunan daya beli konsumen (inflasi, suku bunga) Penurunan penjualan mobil & pembiayaan Fokus pada segmen kendaraan niaga & layanan purna jual, serta peningkatan produk keuangan mikro
Fluktuasi harga batu bara Margin energi turun, menurunkan kontribusi profit Diversifikasi energi (investasi di energi terbarukan, diesel alternatif)
Regulasi keuangan (restrukturisasi leasing, asuransi) Peningkatan beban compliance Kepatuhan proaktif dan penyederhanaan proses digital
Kondisi geopolitik (harga komoditas, rantai pasok) Penurunan eksposur agribisnis & bahan baku Penguatan rantai pasok lokal dan kerjasama JV strategis
Tekanan kompetitor otomotif (EV, mobil listrik) Erosi pangsa pasar Investasi R&D EV, kolaborasi dengan produsen baterai, serta strategi penjualan kendaraan listrik di pasar domestik dan ASEAN.

6. Outlook 2026‑2027

  1. Pertumbuhan EPS:

    • Proyeksi EPS 2026: Rp 5.200 (perkiraan kenaikan 5‑6 % YoY) berkat peningkatan margin jasa keuangan dan recovering volume otomotif Q3‑2026.
  2. Dividen:

    • Dividend payout kemungkinan akan naik ke Rp 350–Rp 380 per saham (yield 5‑5,5 % jika harga tetap) apabila EPS berlanjut naik.
  3. Target Harga:

    • MNC: Rp 7.325 (PE 9,2×, PBV 1×).
    • Kiwoom (tidak mempublikasikan target) cenderung menilai fair value di kisaran Rp 7.000‑7.200 berdasarkan DCF DCF dengan WACC 7,8 % dan pertumbuhan jangka panjang 4 % pada unit non‑otomotif.
  4. Catalyst Positif:

    • Peluncuran kendaraan listrik (EV) di pabrik Cikarang pada Q4‑2026.
    • Ekspansi leasing motor dua‑dan tiga‑tahun (digitalisasi aplikasi) yang dapat menambah basis nasabah 10‑15 % YoY.
    • Kerjasama agribisnis dengan perusahaan teknologi pertanian (AgriTech) yang dapat meningkatkan margin agribisnis menjadi 12 % pada 2027.

7. Rekomendasi Investasi

Kriteria Analisis
Valuasi PE & PBV berada pada level “value” historis; adanya “margin of safety” sebesar 1‑2 × PE dibandingkan rata‑rata industri.
Yield Dividend yield 4,3 % (lebih tinggi dari pasar) dan payout yang konservatif, memberikan buffer bagi shareholder return.
Fundamental ROE stabil di kisaran 15‑18 % (di atas rata‑rata IDX), cash flow operasional kuat (> Rp 20 triliun TTM).
Risiko Terutama terkait siklus otomotif & harga komoditas, namun diversifikasi mengurangi eksposur.
Sentimen Pasar MNC meneguhkan rekomendasi BUY, sementara broker lain (mis. BNI Sekuritas) menilai HOLD dengan catatan “waiting for turnaround in automotive”.

Kesimpulan

  • ASII tetap merupakan saham “value‑plus‑income” yang cocok untuk investor jangka menengah‑panjang yang menginginkan stabilitas pendapatan, defensifitas sektor, serta cash‑flow yang mengalir melalui dividend.
  • Kondisi pasar otomotif yang lemah tidak cukup signifikan untuk menggerus nilai keseluruhan perusahaan karena bisnis keuangan & agribisnis bertindak sebagai penyangga.
  • Target harga Rp 7.300–7.500 tampak realistis, menghasilkan potensi upside 7‑10 % dari level harga saat ini (≈ Rp 6.800).
  • Bagi investor income‑oriented, yield 4,3 % + payout konservatif memberikan margin keamanan yang tinggi.
  • Investor yang sensitif terhadap risiko pasar dapat menunggu konfirmasi pemulihan otomotif (Q2‑2026) atau pengumuman rencana EV sebelum menambah posisi.

Rekomendasi akhir: BUY dengan entry di kisaran Rp 6.500‑6.800 dan target Rp 7.300‑7.500 dalam jangka 12‑18 bulan, sambil memonitor Q1‑2026 earnings serta perkembangan kebijakan fiskal/moneter yang memengaruhi daya beli konsumen.


Catatan: Analisis ini bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat keuangan profesional. Setiap keputusan investasi harus mempertimbangkan profil risiko pribadi dan tujuan keuangan masing‑masing.