BMRI Mumpung Murah, Diserok Asing, Target Harga Segini
Oleh: Admin |
Dipublikasikan: 22 February 2026
1️⃣ Ringkasan Pokok Berita
| Aspek | Data Utama (per 22 Feb 2026) |
|---|---|
| Harga penutupan (20‑Feb‑2026) | Rp 5.125 (+0,9 %) |
| Kinerja 1‑minggu / 1‑bulan / YTD | +0,9 % / +2,5 % / +0,49 % |
| PE (TTM) | 8,5× (termasuk “murah” vs rata‑rata 10‑tahun 11,6×) |
| PBV | 1,4× (rata‑rata 10‑tahun 1,6×) |
| Net‑buy asing (seminggu terakhir) | Rp 615,7 Miliar (terbesar di BEI) |
| Laba bersih 2025 | Rp 56,3 triliun (↑ 1 % YoY) |
| Laba kuartal IV‑2025 | Rp 18,6 triliun (rekor tertinggi) |
| Pertumbuhan kredit 2025 | 13 % YoY |
| DPK 2025 | +24 % YoY (LDR turun → 89 %) |
| NPL | 1,1 % (stabil) |
| Target harga Indo Premier | Rp 6.400 (buy) – potensi upside ~ 25 % dari harga saat ini |
| Proyeksi laba 2026 | Rp 58,7 triliun (↑ 6 % vs consensus) |
| CIR 2026 (est.) | 44 % (turun dari 46 % 2025) |
2️⃣ Mengapa BMRI “Murah” & Tidak “Murahan”
-
Fundamental kuat
- ROE: Meskipun tidak disebutkan angka spesifik dalam artikel, BMRI dikenal berada di kisaran 12‑15 % dalam beberapa tahun terakhir – jauh di atas batas minimum 10 % yang biasanya dianggap sehat untuk bank besar.
- NPL 1,1 %: Stabil di level yang rendah, mengindikasikan kualitas aset yang baik meskipun kredit tumbuh cepat.
-
Profitabilitas menurun sedikit, tapi stabil
- NIM turun 30 bps karena tekanan suku bunga global, namun NII naik 4 % berkat volume kredit yang kuat.
- Biaya operasional (OPEX) diperkirakan hanya naik 3 % YoY, mengingat adanya penyesuaian one‑off pada 2025, sehingga CIR turun ke 44 % – sinyal efisiensi biaya yang semakin baik.
-
Pertumbuhan pendapatan non‑bunga
- Platform digital Livin’ dan fee‑based services diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan laba inti (sekitar 2‑3 % kontribusi tambahan) di tahun 2026.
-
Valuasi terjangkau
- PE 8,5× vs rata‑rata historis 11,6× → diskonto ~ 27 %.
- PBV 1,4× vs rata‑rata historis 1,6× → harga buku masih di bawah nilai intrinsik.
3️⃣ Dukungan Investor Asing – “Serok” atau “Stabilitas”?
- Net‑Buy Rp 615,7 Miliar dalam satu minggu menandakan kepercayaan asing pada prospek BMRI.
- Biasanya, inflow asing ke big‑cap meningkatkan likuiditas, menurunkan volatilitas, dan memberi dorongan psikologis pada investor domestik.
- “Serok” yang disebutkan pada artikel bukan berarti aksi spekulatif semata; investor institusional global (misalnya sovereign wealth funds, dana pensiun) cenderung menilai fundamentals jangka panjang.
Implikasi: Jika aliran dana asing tetap atau meningkat, harga BMRI berpotensi menembus level psikologis Rp 6.000 dalam kuartal berikutnya, mempercepat pencapaian target Rp 6.400.
4️⃣ Analisis Risiko
| Risiko | Penjelasan | Mitigasi |
|---|---|---|
| Ketegangan suku bunga global | Penurunan NIM 30 bps merupakan sinyal tekanan margin di lingkungan suku bunga yang naik. | Diversifikasi pendapatan ke fee‑based, peningkatan efisiensi biaya (CIR) |
| Kualitas Kredit | Pertumbuhan kredit 13 % YoY dapat menambah tekanan pada NPL jika ekonomi melambat. | LDR kini 89 % (masih wajar), NPL masih 1,1 % – pengawasan ketat pada segmen korporasi |
| Regulasi Prudensial | Kenaikan rasio LDR atau penurunan kecukupan modal (CAR) dapat memaksa bank menambah modal. | BMRI memiliki modal yang kuat (CAR > 15 % pada 2025) dan historis menambah modal bila diperlukan |
| Persaingan Digital | Fintech dan bank challenger (mis. Jenius, Digibank) mengincar nasabah ritel. | Livin’ sebagai platform digital milik Mandiri, dioptimalkan untuk monetisasi fee dan cross‑selling |
5️⃣ Perbandingan Singkat dengan Peer (BBNI & BCA)
| Metric (2025) | BMRI | BBNI | BCA |
|---|---|---|---|
| PE (TTM) | 8,5× | ~9,2× | ~10,5× |
| PBV | 1,4× | 1,3× | 2,2× |
| NPL | 1,1 % | 2,0 % | 1,0 % |
| CIR | 46 % | 48 % | 33 % |
| DPK YoY | +24 % | +15 % | +12 % |
| Kredit YoY | +13 % | +10 % | +9 % |
- BMRI berada di tengah‑tengah rentang valuasi (lebih murah daripada BCA, hampir sebanding BBNI).
- NPL terendah hanya di atas BCA, menandakan kualitas aset yang kompetitif.
- Pertumbuhan DPK dan kredit lebih agresif dibandingkan BCA, memberikan peluang upside lebih besar.
6️⃣ Proyeksi Harga & Potensi Return (2026‑2027)
-
Asumsi keuangan 2026 (berdasarkan riset Indo Premier)
- Laba bersih: Rp 58,7 triliun (+ 6 % YoY)
- EPS ≈ Rp 814 (asumsi 72 miliar saham beredar)
- PE target 8,1× → Harga wajar ≈ Rp 6.600
-
Target resmi: Rp 6.400 (Buy).
-
Skema Return
- Harga saat ini (22‑Feb‑2026): Rp 5.125
- Target 6‑bulan (Rp 6.400): +25 %
- Target 12‑bulan (Rp 6.600): +29 %
-
Sensitivitas
- Jika PE naik menjadi 9,0× (karena sentimen pasar menguat), harga wajar bisa mencapai Rp 7.300.
- Jika NPL melewati 1,5 % atau CIR tak turun di bawah 45 %, discount factor dapat mengurangi target menjadi Rp 5.800 (still +13 % upside).
7️⃣ Rekomendasi Praktis untuk Investor
| Tipe Investor | Rekomendasi | Alasan |
|---|---|---|
| Investor ritel | Buy‑and‑Hold pada level Rp 5.100‑5.300. | Valuasi murah, support asing, outlook laba 2026 positif, risiko downside terbatas (NPL stabil). |
| Investor institusional / dana pensiun | Tingkatkan exposure menjadi 3‑5 % portofolio perbankan. | Alokasi ke big‑cap yang memiliki pendapatan non‑bunga dan efisiensi biaya, plus eksposur ke fintech Livin’. |
| Trader jangka pendek | Entry pull‑back pada koreksi 3‑5 % (mis. Rp 4.800‑4.900) dengan target 6‑10 % dalam 1‑2 bulan. | Momentum bullish karena net‑buy asing, tetapi perhatikan volume jual pada sesi-sesi volatilitas tinggi. |
| Strategi opsi | Buy call OTM (strike Rp 6.200, expiry 6 bulan) – payoff tinggi jika target 6‑month tercapai. | Leverage pada kenaikan nilai, hedge risiko downside dengan stop‑loss pada premi. |
8️⃣ Kesimpulan Utama
- Fundamental solid – ROE tinggi, NPL rendah, pertumbuhan kredit & DPK kuat.
- Valuasi terjangkau – PE 8,5× & PBV 1,4× di bawah rata‑rata historis, memberikan margin of safety.
- Dukungan asing – Net‑buy terbesar pada minggu terakhir menambah likuiditas dan kepercayaan pasar.
- Prospek laba 2026 – Pendapatan non‑bunga (digital fee), efisiensi biaya (CIR turun) serta OPEX yang datar akan mendorong laba bersih naik ~ 6 %.
- Risiko terkendali – Meskipun NIM tertekan, bank memiliki fleksibilitas melalui diversifikasi pendapatan dan manajemen kredit yang ketat.
🔑 Rekomendasi akhir: Buy dengan target harga Rp 6.400 (≈ 25 % upside) dalam horizon 6‑12 bulan, sambil memonitor indikator makro (suku bunga) dan kualitas kredit (NPL). Bagi investor yang mengutamakan keamanan, posisi “core‑holding” pada BMRI dapat menjadi fondasi portofolio perbankan Indonesia yang tahan banting.