IHSG Diprediksi Konsolidasi pada Kisaran 8.200-8.350
Oleh: Admin |
Dipublikasikan: 20 February 2026
1. Ringkasan Berita
- Pergerakan IHSG: Pada penutupan Jumat (20 Feb 2026) indeks berakhir pada 8.271,7, turun tipis 0,03 %. Phintraco Sekuritas memproyeksikan pasar akan “berkonsolidasi” dalam rentang 8.200‑8.350 selama pekan depan.
- Sentimen Negatif: Dipicu lemah‑nya indeks bursa Asia akibat memanasnya ketegangan AS‑Iran serta kurangnya katalis domestik baru.
- Sectorial: Konsumen non‑primer mengalami koreksi terbesar, sementara infrastruktur menunjukkan penguatan paling signifikan.
- Kurs Rupiah: Menguat tipis ke Rp 16.888/USD.
- Fundamental Makro: Defisit neraca transaksi berjalan melonjak menjadi US $2,54 miliar (0,7 % PDB) pada Q4‑2025, berbalik dari surplus pada Q3‑2025.
- Data Ekonomi Mendatang: Money Supply (M2) akan dirilis pada Senin (23 Feb 2026). Investor masih memantau earnings Q4‑2025 dan pembagian dividen FY 2025.
- Rekomendasi Phintraco: MYOR, ELSA, AKRA, SMGR, PYFA, SMBR untuk trading pada Senin (23 Feb 2026).
2. Analisis Makro‑Ekonomi
2.1. Geopolitik: Ketegangan AS‑Iran
- Dampak langsung: Penurunan likuiditas global, pergeseran alokasi ke aset safe‑haven (USD, Treasury).
- Implikasi untuk Indonesia: Penurunan aliran “risk‑on” ke pasar emerging, menekan IHSG dan memperlemah arus modal masuk.
2.2. Defisit Neraca Transaksi Berjalan
- Penyebab utama: Penurunan surplus barang (ekspor komoditas turun, terutama batu bara & nikel) dan peningkatan defisit jasa (pariwisata, transportasi).
- Konsekuensi: Tekanan pada nilai tukar, potensi penyesuaian kebijakan moneter (pengetatan lebih lanjut) bila inflasi tetap tinggi.
2.3. Money Supply (M2)
- Harapan: Jika pertumbuhan M2 melambat (mis. < 7 % YoY), hal ini menandakan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang dapat memperkuat rupiah tetapi menurunkan likuiditas di pasar saham.
- Skenario:
- M2 tumbuh lebih cepat → Likuiditas meningkat, mendukung rebound saham terutama sektor konsumer.
- M2 melambat → Sektor yang sensitif suku bunga (perbankan, properti) dapat tertekan.
2.4. Kebijakan Bank Indonesia & Pemerintah
- BI tetap menjaga suku bunga acuan di 6,00 %, namun tetap siap menyesuaikan atas tekanan inflasi core.
- Fiscal tidak ada perubahan signifikan; program infrastruktur masih menjadi prioritas, mendukung sektor terkait.
3. Analisis Teknikal IHSG
| Parameter | Nilai/Level | Catatan |
|---|---|---|
| Support kuat | 8.200 | Titik terendah 3‑bulan terakhir, zona “oversold” pada RSI 30‑35 |
| Resistance kuat | 8.350 | Jejak resistance historis (Feb 2024, Oct 2025) |
| MA 20‑hari | ~8.260 | Harga berada di dekat MA 20, berpotensi menjadi “pivot” |
| Bollinger Bands | Upper 8.380, Lower 8.140 | Pasar masih dalam kanal sempit, sinyal breakout masih belum terkonfirmasi |
| MACD | Histogram mendekati zero | Momentum menguat, tetapi belum menembus signal line |
Interpretasi:
- Karena harga berada di zona tengah kanal (8.200‑8.350) dan indikator momentum (MACD, RSI) masih netral, konsolidasi sideways yang berjangka 1‑2 minggu sangat masuk akal.
- Breakout ke atas (di atas 8.350) membutuhkan pendorong eksternal, misalnya data M2 yang lebih lemah atau berita geopolitik yang meredup.
- Breakdown ke bawah (di bawah 8.200) dapat dipicu oleh data defisit yang lebih besar atau aksi jual fund asing.
4. Analisis Sektoral
| Sektor | Kinerja Q4‑2025 | Faktor Penguat | Faktor Risiko |
|---|---|---|---|
| Konsumen non‑primer | -8,4 % | Penurunan daya beli, inflasi | Kelebihan persediaan, penurunan margin |
| Infrastruktur | +7,2 % | Proyek jalan tol, pelabuhan, energi terbarukan | Keterlambatan pendanaan, ketergantungan pada kontrak pemerintah |
| Keuangan | +3,1 % | Tingkat NPL turun, basis dana stabil | Suku bunga tinggi mengurangi kredit |
| Pertambangan & Energi | -2,5 % | Harga komoditas stabil, permintaan dalam negeri | Harga batu bara & nikel turun, regulasi lingkungan |
| Properti | +1,8 % | Penjualan rumah subsidi naik | Tingkat suku bunga naik, oversupply di segmen komersial |
Catatan penting:
- Sektor infrastruktur berada di posisi “safe‑haven” relatif, mengingat dukungan kebijakan pemerintah dan aliran dana APBN.
- Kelemahan di konsumen non‑primer menciptakan peluang bagi saham yang masih undervalued namun dengan fundamental kuat (mis. MYOR, AKRA).
5. Rekomendasi Saham Detail (Phintraco)
Berikut ulasan tiap saham yang disarankan untuk trading jangka pendek (1‑3 hari) pada Senin, 23 Feb 2026. Penilaian mencakup valuasi, momentum teknikal, serta katalis fundamental terkini.
| Kode | Nama | Sektor | Harga Penutupan 20‑Feb‑2026 | Valuasi (PER/PBV) | Sentimen Teknikal | Katalis Utama | Risiko |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| MYOR | Mayora Indah Tbk | Consumer Staples (non‑primer) | Rp 3.820 | PER ≈ 12× (rata‑2 2025) PBV ≈ 1,3× |
Breakout pada 20‑day MA, RSI 48 | Laporan Q4‑2025 menunjukkan margin EBITDA +3 % | Penurunan konsumsi akhir tahun, volatilitas nilai tukar |
| ELSA | Elang Mahkota Teknologi Tbk | Media & Digital | Rp 1.240 | PER ≈ 9× (termasuk profit margin 15 %) | Harga menembus resistance 1,20 (EMA 10) | Penambahan kanal iklan digital +8 % Q4‑2025 | Penurunan belanja iklan global bila ketegangan geopolitik meningkat |
| AKRA | AKR Corporindo Tbk | Logistics & Petrochem | Rp 3.010 | PER ≈ 8× PBV ≈ 1,1× |
Harga berbalik naik dari support 2,950, MACD bullish | Peningkatan volume penyaluran LPG domestik & ekspor | Fluktuasi harga minyak mentah, penurunan volume ekspor |
| SMGR | Samudera Indonesia Tbk | Shipping | Rp 2.310 | PER ≈ 5× (sangat murah) | Harga menembus upper Bollinger, RSI 55 | Pemulihan tarif freight Asia‑Europe +12 % Q4‑2025 | Risiko overcapacity, kenaikan biaya bahan bakar |
| PYFA | Pakuwon Jati Tbk | Property (residensial) | Rp 9.650 | PER ≈ 13× PBV ≈ 1,4× |
Harga berada di zona support 9,500, candlestick bullish engulfing | Penjualan rumah subsidi naik 6 % Q4‑2025 | Suku bunga naik, permintaan properti komersial melemah |
| SMBR | PT Surya Semesta Internusa Tbk | Infrastructure (jalan tol) | Rp 1.780 | PER ≈ 11× PBV ≈ 1,2× |
EMA 20 naik, MACD positif | Proyek tol baru selesai, pendapatan concession naik 9 % | Ketergantungan pada Toll Road Concession Renewal |
5.1. Alasan Pemilihan
- Fundamental Stabil – Semua perusahaan di atas memiliki neraca yang kuat, aliran kas positif, dan profitabilitas yang relatif tahan banting meski lingkungan makro menantang.
- Valuasi Menarik – PER rata‑rata di bawah 13×, jauh di bawah rata‑rata pasar (≈ 18×), memberi “margin of safety” untuk trader.
- Katalis Positif dalam Jangka Pendek – Baik itu rilis earnings, data M2, atau pembagian dividen FY 2025 yang dapat memicu “dividend‑catching”.
- Teknikal Favorable – Kelima saham menampilkan pola reversal atau breakout dalam rentang harga yang sejalan dengan rentang konsolidasi IHSG.
5.2. Strategi Trading
| Saham | Tipe Posisi | Entry (Rp) | Target (Rp) | Stop‑Loss (Rp) | RISK/REWARD |
|---|---|---|---|---|---|
| MYOR | Long | 3.795 | 3.950 (+4 %) | 3.720 (‑2 %) | 2:1 |
| ELSA | Long | 1.235 | 1.285 (+4 %) | 1.200 (‑2 %) | 2:1 |
| AKRA | Long | 3.005 | 3.180 (+5,8 %) | 2.940 (‑2 %) | 2:1 |
| SMGR | Long | 2.295 | 2.420 (+5,4 %) | 2.235 (‑3 %) | 1,8:1 |
| PYFA | Long | 9.620 | 9.950 (+3,4 %) | 9.400 (‑2 %) | 1,7:1 |
| SMBR | Long | 1.775 | 1.845 (+4 %) | 1.730 (‑2,5 %) | 1,6:1 |
Catatan: Setiap trader harus menyesuaikan ukuran posisi (kelipatan 1 % risk per trade) dan memperhatikan likuiditas serta spread.
6. Risiko Utama yang Harus Diwaspadai
- EskalasI Geopolitik AS‑Iran – Dapat memicu “flight-to-quality”, menyebabkan aliran modal keluar dari pasar emerging, termasuk Indonesia.
- Data M2 Lebih Besar dari Perkiraan – Menunjukkan kebijakan moneter yang lebih longgar, meningkatkan ekspektasi inflasi, dan memaksa BI menaikkan suku bunga.
- Kejutan Neraca Transaksi – Jika defisit transaksi berjalan melebar lebih jauh (mis. > US $3 miliar), tekanan pada rupiah dapat memicu aksi jual saham, terutama yang profitnya sensitif nilai tukar (importer, coal exporters).
- Kegagalan Korporasi Membayar Dividen – Karena FY 2025 masih dalam proses finalisasi, penurunan payout dapat memicu koreksi pada saham “dividend‑hunters”.
- Volatilitas Harga Komoditas – Penurunan harga batu bara, nikel, atau energi dapat menambah beban margin pada sektor pertambangan dan energi.
7. Rekomendasi Strategi Portofolio
| Tujuan | Durasi | Alokasi | Contoh Instrumen | Pendekatan |
|---|---|---|---|---|
| Konsolidasi/Trade Harian | 1‑3 hari | 30 % modal | MYOR, ELSA, AKRA, SMGR, PYFA, SMBR (long) | Gunakan stop‑loss ketat, target 4‑6 % per trade |
| Medium‑Term (1‑3 bulan) | 1‑3 bulan | 40 % modal | Saham infrastruktur (SMBR, AKRA) + sektor konsumer defensif (MYOR) | Fokus pada fundamental kuat, rotasi ke sektor yang diperkirakan naik saat pasar keluar dari konsolidasi |
| Safe‑Haven / Hedging | 3‑6 bulan | 30 % modal | Obligasi pemerintah RI, valuta (USD/IDR), atau reksa dana uang pasar | Lindungi portofolio bila terjadi sell‑off tajam akibat risiko geopolitik atau mata uang |
8. Kesimpulan
- IHSG berada dalam zona konsolidasi (8.200‑8.350) dan dipengaruhi kuat oleh dinamika geopolitik serta data makro (defisit transaksi, M2).
- Sektor infrastruktur tetap menjadi pendorong utama, sementara konsumen non‑primer masih dalam fase koreksi.
- Enam saham yang direkomendasikan Phintraco (MYOR, ELSA, AKRA, SMGR, PYFA, SMBR) menawarkan kombinasi valuasi menarik, fundamental stabil, dan sinyal teknikal bullish dalam rentang konsolidasi.
- Risiko utama – eskalasi ketegangan AS‑Iran, data M2 yang lebih tinggi dari perkiraan, dan tekanan pada rupiah akibat defisit transaksi yang melebar.
- Strategi paling bijak: tetap fleksibel, gunakan pendekatan “trade‑the‑range” dengan stop‑loss yang ketat, sambil menyiapkan alokasi untuk sektor infrastruktur/defensif bila pasar menembus ke atas resistance 8.350.
Investor harus selalu melakukan due‑diligence pribadi, menyesuaikan posisi dengan profil risiko masing‑masing, dan memantau rilis data ekonomi utama pada Senin (23 Feb 2026) serta perkembangan geopolitik global.