IHSG Tumbang 1,33% ke 6.589, Investor Cermati CPI AS dan Konflik AS-Iran
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan di zona merah. Pada Kamis (10/9/2026), IHSG ditutup melemah 1,33% atau 88,98 poin ke level 6.589,34. Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang juga terkoreksi.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menuturkan, tekanan IHSG berasal dari pelemahan sejumlah sektor, terutama energi dan keuangan. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks juga ikut terkoreksi cukup dalam. Hal ini membuat hampir seluruh indeks sektoral berakhir di zona merah, dengan sektor energi menjadi yang paling tertekan.
Sentimen global masih menjadi biang keladi. Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas, mendorong harga minyak mentah menembus level US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi baru sekaligus mempersempit ruang pelonggaran moneter. Tekanan terhadap aset berisiko juga datang dari kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang mencapai sekitar 4,84%, sehingga aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor.
Dari dalam negeri, data penjualan ritel Juli 2026 tumbuh 1,1% secara tahunan (YoY) setelah mengalami kontraksi selama tiga bulan sebelumnya. Ini menunjukkan adanya perbaikan konsumsi domestik, meski sentimen global dinilai masih lebih dominan terhadap pergerakan IHSG. Investor asing tercatat net sell sekitar Rp1,95 triliun pada perdagangan Kamis.
Untuk perdagangan Jumat (11/9/2026), analis memperkirakan IHSG masih bergerak volatil. Herditya dari MNC Sekuritas memproyeksikan koreksi IHSG relatif terbatas dan berpeluang menguat, dengan support di 6.576 dan resistance di 6.616. Sementara Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda melihat IHSG cenderung volatil dengan bias melemah. Secara teknikal, IHSG telah kembali berada di bawah level 6.600. Jika tidak mampu reclaim level tersebut, indeks berisiko melanjutkan koreksi menuju 6.475–6.375.
Pelaku pasar juga akan mencermati rilis data inflasi AS (US Consumer Price Index/CPI) Agustus pada 11 September waktu setempat. Konsensus memperkirakan headline CPI sebesar 3,4% YoY dan core CPI 2,4% YoY. Jika inflasi AS di atas ekspektasi, pasar berpotensi memperhitungkan kebijakan The Fed yang lebih hawkish sehingga menekan aset emerging market, termasuk Indonesia. Sebaliknya, data CPI yang lebih rendah dari ekspektasi dapat membuka peluang technical rebound.
Di tengah ketidakpastian ini, sejumlah analis merekomendasikan saham komoditas seperti UNTR, PTBA, dan JARR yang masih menarik dalam jangka pendek. Ada juga rekomendasi saham CDIA, UNTR, dan DEWA dari MNC Sekuritas. Yang jelas, investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas dan mencermati perkembangan geopolitik serta data ekonomi global.
Dengan sentimen yang masih bercampur, IHSG berpotensi bergerak dinamis. Kunci utamanya adalah apakah level 6.600 bisa kembali direbut, atau justru menjadi titik pantul untuk koreksi lebih dalam. Tetap pantau data CPI AS dan pergerakan harga minyak.