BREN Tingkatkan Capex 2026 Menjadi US$ 250 Juta (Rp 4,17 Triliun) untuk Menyelesaikan Empat Proyek Geothermal-Wind, Memperkuat Arah Pertumbuhan ke 2,3 GW pada 2032

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 12 November 2025

Tanggapan Panjang

1. Gambaran Umum Kebijakan Capex 2026

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengumumkan alokasi belanja modal (CAPEX) sebesar US$ 250 juta (sekitar Rp 4,17 triliun) untuk tahun buku 2026, yang merupakan kenaikan 150 % dibandingkan CAPEX 2025 (US$ 100 juta). Lonjakan ini tidak bersifat spekulatif; melainkan secara langsung menanggapi pipeline proyek yang kini berada pada fase engineering, procurement, and construction (EPC) dan dijadwalkan selesai pada kuartal IV 2026.

Empat proyek yang menjadi “driver” CAPEX tersebut meliputi:

Proyek Kapasitas Tambahan Status Penyelesaian Catatan Khusus
Wayang Windu Unit 3 30 MW Q4‑2026 Unit 3 merupakan ekstensi dari blok geothermal yang sudah beroperasi (Wayang Windu II).
Salak Unit 7 40 MW Q4‑2026 Memanfaatkan reservoir yang sama dengan unit‑unit sebelumnya, menambah fleksibilitas operasional.
Darajat Unit 3 Retrofit 7 MW 2026 Retrofit meningkatkan efisiensi turbin dan mengurangi penurunan produksi.
Proyek Wind Farm (tiga PLTB) – tidak dirinci ~1 700 MW (rencana jangka panjang) Investasi wind belum masuk hitungan CAPEX 2026, namun menjadi bagian dari roadmap 2032.

Total kapasitas baru sebesar 95,4 MW menjadi tambahan signifikan bagi portofolio BREN yang kini berjumlah 988,75 MW (910 MW geothermal + 78,75 MW wind). Jika semua proyek selesai tepat waktu, BREN akan menutup ≈9,7 % dari total kapasitas terpasang hanya dalam satu tahun.

2. Kesesuaian dengan Rencana Pemerintah dan Roadmap Perusahaan

a. Target RUPTL 2026 – 1 GW Geothermal

Pemerintah Indonesia melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menargetkan penambahan kapasitas geothermal hingga 1 GW pada akhir 2026. BREN, dengan kapasitas geothermal terpasang 910 MW, memerlukan penambahan ≈90 MW untuk memenuhi target nasional. Proyek Wayang Windu U3 (30 MW), Salak U7 (40 MW) dan Darajat U3 Retrofit (7 MW) tepat melengkapi kekurangan tersebut (total 77 MW), sehingga BREN akan berada dalam jarak yang sangat dekat dengan target RUPTL.

b. Visi 2032 – 2,3 GW (Geothermal + Wind)

Manajemen BREN menegaskan strategi “fokus pada apa yang kami kuasai” – geothermal – sambil membangun fondasi wind sebagai pilar pertumbuhan jangka panjang. Roadmap 2032 mencakup:

Tahun Kapasitas Geothermal Kapasitas Wind Total Target
2026 ~1 GW (pencapaian RUPTL) < 100 MW (tambah dari PLTB Sidrap 1) ~1,1 GW
2028 1,2 GW 500 MW 1,7 GW
2030 1,5 GW 800 MW 2,3 GW
2032 1,5‑1,6 GW 700‑800 MW 2,3 GW

CAPEX 2026 menjadi landasan untuk menambah geothermal dan menyiapkan “buffer” cash‑flow bagi investasi wind yang diperkirakan memerlukan CAPEX kumulatif > US$ 1 miliar dalam 5‑7 tahun ke depan (berdasarkan rata‑rata biaya instalasi wind di Indonesia ≈ US$ 1,2 kW).

3. Implikasi Finansial

a. Rasio CAPEX terhadap Pendapatan & EBITDA

  • Pendapatan 9M25: US$ 457,39 juta
  • EBITDA (perkiraan): Mengingat laba bersih 9M25 = US$ 106,55 juta dan margin EBIT sekitar 25 % (berdasarkan histori BREN), EBITDA diperkirakan ≈ US$ 140‑150 juta.

CAPEX 2026 (US$ 250 juta) akan setara ≈ 1,7 × EBITDA tahun berjalan. Namun, sebagian besar CAPEX merupakan investasi jangka panjang yang akan mengurangi arus kas operasi (OCF) pada 2026, namun diharapkan menghasilkan penambahan pendapatan sebesar:

  • Geothermal tambahan 95,4 MW
  • Asumsi capacity factor 85 % dan tarif US$ 0,07/kWh (tarif PPA geothermal Indonesia).

Pendapatan tahunan tambahan = 95,4 MW × 8.760 h × 0,85 × US$ 0,07 ≈ US$ 39,6 juta.

Dengan margin EBITDA geothermal sekitar 30 %, EBITDA tambahan ≈ US$ 12 juta per tahun. Karena proyek selesai pada Q4 2026, dampak penuh akan terasa mulai 2027, sehingga payback period CAPEX 2026 diperkirakan ≈ 12‑13 tahun bila hanya mengandalkan geothermal tambahan.

Namun, jika wind farm yang sedang direncanakan (≈ 1,7 GW) mulai dibangun pada 2027‑2028, arus kas tambahan akan memperpendek horizon tersebut secara signifikan.

b. Leverage & Likuiditas

  • Total aset 9M25: US$ 3,83 miliar
  • Total ekuitas (berdasarkan laporan 2025) ≈ US$ 2,8 miliar (asumsi DER ≈ 0,3).

Jika BREN menambah hutang sebesar US$ 150 juta untuk menutup sebagian CAPEX, DER akan naik menjadi ≈ 0,45 – masih dalam batas wajar untuk perusahaan utilitas yang memiliki aset tetap berproduksi dan arus kas stabil.

Cash‑flow operasional (OCF) 9M25 diperkirakan ≈ US$ 180‑200 juta (EBITDA + perubahan modal kerja). Ini berarti BREN dapat menutupi ≈ 80 % dari CAPEX 2026 dengan cash‑flow internal, sisanya dibiayai melalui senior loan atau green bond, yang sejalan dengan tren pembiayaan infrastruktur energi terbarukan.

c. Dampak pada Valuasi

Model DCF sederhana (WACC ≈ 7 % untuk perusahaan energi Indonesia) menunjukkan bahwa nilai sekarang dari cash‑flow tambahan geothermal (US$ 12 juta per tahun mulai 2027) selama 10 tahun = US$ 84 juta. Penambahan wind (asumsi 1,7 GW dengan CAPEX kumulatif US$ 1,5 miliar, capacity factor 40 %, tarif US$ 0,06/kWh) menghasilkan cash‑flow tambahan ≈ US$ 115 juta per tahun (mulai 2030). Nilai sekarangnya ≈ US$ 600 miliar.

Secara relative, CAPEX 2026 merupakan investasi yang wajar dan strategis untuk mengakselerasi ke arah target 2,3 GW, yang pada akhirnya dapat meningkatkan Enterprise Value BREN sekitar 10‑15 % dalam jangka menengah (2027‑2032).

4. Risiko‑Risiko yang Perlu Dipantau

Risiko Penjelasan Mitigasi
Konstruksi & Penyelesaian Keterlambatan EPC dapat menunda arus kas tambahan. Pilih EPC contractor berpengalaman, sertakan penalty dalam kontrak.
Regulasi Tarif Perubahan kebijakan tarif PPA (mis. penurunan harga energi terbarukan) dapat menekan margin. Negosiasi kontrak jangka panjang dengan provisi indexation, diversifikasi ke pasar spot.
Finansial Penambahan leverage dapat meningkatkan beban bunga dan DER. Gunakan instrumen pembiayaan hijau (green bond) dengan biaya lebih rendah, mempertahankan covenant DER ≤ 0,5.
Teknologi Wind Risiko teknologi (e.g., turbine supply chain) dan kondisi geografis (angin tidak konsisten). Lakukan studi kelayakan yang robust, gunakan teknologi turbine yang terbukti di wilayah serupa.
Lingkungan & Sosial Proyek geothermal dan wind dapat memicu konflik lahan atau tuntutan masyarakat. Terapkan ESG framework, libatkan stakeholder sejak fase perencanaan.

5. Kesimpulan & Rekomendasi

  1. CAPEX 2026 sebesar US$ 250 juta merupakan langkah yang strategis dan terukur untuk menutup selisih kapasitas geothermal dengan target RUPTL 2026 serta menyiapkan pondasi bagi ekspansi wind yang lebih besar.

  2. Kinerja keuangan BREN selama 9M25 (pendapatan naik 3,7 %, laba bersih naik 24 %) menunjukkan profitabilitas yang kuat dan cash‑flow operasional yang cukup untuk menanggung sebagian besar beban investasi ini.

  3. Implikasi nilai perusahaan: Jika BREN mengelola risiko konstruksi, regulasi tarif, dan pendanaan secara efektif, kapabilitas menambah ≈ 95 MW di 2026 dapat menjadi katalisator untuk mempercepat pencapaian target 2,3 GW pada 2032 dan meningkatkan valuasi saham secara material.

  4. Rekomendasi bagi investor:

    • Long‑term buy: BREN berada pada fase pertumbuhan yang terencana, dengan dukungan kebijakan pemerintah pada energi terbarukan.
    • Pantau: Penyelesaian tepat waktu ketiga proyek geothermal, struktur pembiayaan (terutama proporsi hutang vs ekuitas), serta perkembangan proyek wind (pipeline 1,7 GW).
    • Diversifikasi risiko ESG: Pastikan perusahaan terus mengimplementasikan standar ESG yang memadai, karena penilaian investor institusional kini semakin terpengaruh oleh faktor lingkungan dan sosial.

Secara keseluruhan, alokasi CAPEX 2026 BREN memperkuat fundamental perusahaan, mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama di sektor geothermal Indonesia, sekaligus membuka pintu bagi transformasi energi terbarukan melalui pengembangan wind farm berskala besar. Jika eksekusi berjalan sesuai jadwal, BREN berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target ambisius 2,3 GW pada 2032 dan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pemegang saham.