Analisis Mendalam Sektor Perbankan Indonesia 2025: Membedah Tren Penurunan dan Mengidentifikasi Titik Balik Potensial

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 1 October 2025

Ringkasan Eksekutif: Menavigasi Gejolak Pasar 2025 dan Memetakan Jalur Pemulihan Saham Perbankan Indonesia

Kondisi pasar saham Indonesia sepanjang tahun 2025, khususnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks), telah menimbulkan kekhawatiran yang signifikan di kalangan investor. Tren penurunan yang berkelanjutan, yang tercermin dari kerugian portofolio yang belum direalisasi, secara wajar menciptakan keraguan dan ketidakpastian mengenai waktu yang tepat untuk kembali masuk ke pasar. Laporan ini secara khusus membahas kekhawatiran tersebut dengan menyajikan analisis yang komprehensif dan berbasis data.

Tesis utama dari analisis ini adalah bahwa pelemahan harga saham perbankan yang terjadi bukanlah cerminan dari kerusakan fundamental pada inti operasional bank-bank tersebut. Sebaliknya, penurunan ini sebagian besar didorong oleh kombinasi sentimen makroekonomi yang negatif, baik di tingkat domestik maupun global, serta tekanan jual masif yang berasal dari arus keluar modal asing (capital outflow).1 Saham-saham perbankan, sebagai komponen terbesar dan paling likuid di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), secara alamiah menjadi sasaran utama ketika investor asing mengurangi eksposur mereka di Indonesia.

Meskipun tekanan saat ini terasa berat, fondasi untuk pemulihan sedang dibangun. Katalis utama untuk rebound yang berkelanjutan diidentifikasi berasal dari kebijakan moneter akomodatif yang ditempuh oleh Bank Indonesia (BI). Siklus penurunan suku bunga acuan yang agresif, meskipun memiliki jeda waktu (time lag) dalam transmisi ke ekonomi riil, pada akhirnya akan merangsang permintaan kredit, memperbaiki margin perbankan, dan memulihkan kepercayaan investor.

Tujuan laporan ini bukanlah untuk memprediksi dasar pasar (market bottom) secara pasti, melainkan untuk menyediakan sebuah kerangka kerja strategis bagi investor. Dengan membedah anatomi penurunan, mengevaluasi kesehatan fundamental masing-masing bank, dan mengidentifikasi katalis pemulihan, investor dapat beralih dari pengambilan keputusan yang didasari oleh emosi menjadi pendekatan yang terstruktur. Laporan ini akan membekali investor dengan perangkat analisis valuasi, teknikal, dan fundamental untuk mengidentifikasi zona nilai yang menarik dan merencanakan titik masuk (entry point) secara disiplin, mengubah ketidakpastian menjadi sebuah rencana investasi yang terukur.

Bagian 1: Anatomi Penurunan: Membedah Tekanan Makroekonomi dan Pasar

Untuk memahami kapan pemulihan akan terjadi, pertama-tama kita harus mengerti secara mendalam mengapa penurunan ini terjadi. Pelemahan harga saham perbankan bukanlah fenomena yang acak, melainkan sebuah reaksi pasar yang rasional terhadap serangkaian sinyal negatif yang saling terkait. Bagian ini akan menguraikan faktor-faktor utama yang menjadi pendorong tren penurunan tersebut.

1.1 Konteks Global: Lingkungan "Risk-Off"

Pasar keuangan Indonesia tidak beroperasi dalam ruang hampa; ia sangat terpengaruh oleh dinamika ekonomi dan sentimen investor global. Sepanjang tahun 2025, lanskap global diwarnai oleh meningkatnya ketidakpastian yang memicu sentimen "risk-off," di mana investor cenderung menghindari aset-aset berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman (safe haven).

Pemicu utama dari sentimen ini adalah eskalasi ketegangan perdagangan, terutama yang dipicu oleh kebijakan tarif pemerintah Amerika Serikat (AS).3 Kebijakan ini tidak hanya menimbulkan perang tarif balasan dengan mitra dagang utama seperti Tiongkok, tetapi juga menciptakan disrupsi pada rantai pasok global dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.3 Sebagai respons, lembaga-lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global, termasuk untuk Indonesia, yang diproyeksikan melambat ke level 4,7% pada tahun 2025.3

Bagi manajer investasi global, prospek pertumbuhan yang melambat dan ketidakpastian kebijakan yang tinggi meningkatkan persepsi risiko terhadap negara-negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, keputusan yang paling umum adalah mengurangi alokasi aset di pasar-pasar tersebut untuk memitigasi potensi kerugian. Akibatnya, terjadi pergeseran aliran modal global, keluar dari negara berkembang dan menuju aset-aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah negara maju atau emas.3 Tekanan jual di pasar saham Indonesia, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar, adalah manifestasi langsung dari strategi penghindaran risiko global ini.

1.2 Tekanan Ekonomi Domestik: Perlambatan di Sektor Riil

Sentimen negatif global diperparah oleh serangkaian data ekonomi domestik yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Indikator-indikator ini memberikan konfirmasi kepada investor bahwa ekonomi riil Indonesia sedang menghadapi tantangan, yang secara langsung berdampak pada prospek sektor perbankan.

Salah satu indikator utama adalah Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur. Data menunjukkan bahwa PMI manufaktur Indonesia jatuh ke zona kontraksi, atau di bawah level 50, yang mengindikasikan penurunan aktivitas bisnis di sektor industri.2 Kontraksi ini, yang terjadi selama beberapa bulan berturut-turut, menandakan adanya pelemahan permintaan baru dan penurunan volume produksi, yang merupakan sinyal buruk bagi kesehatan ekonomi secara keseluruhan.2

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah data inflasi yang menunjukkan terjadinya deflasi, atau penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) secara tahunan.4 Deflasi merupakan sinyal kuat dari lemahnya daya beli masyarakat dan permintaan agregat yang menurun. Bagi sektor perbankan, kombinasi dari aktivitas bisnis yang lesu dan permintaan konsumen yang lemah secara langsung diterjemahkan menjadi dua risiko utama: perlambatan pertumbuhan kredit karena perusahaan dan individu menunda ekspansi dan konsumsi, serta peningkatan risiko kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) karena kemampuan debitur untuk membayar cicilan menurun.

Faktor-faktor lain seperti pelebaran defisit fiskal anggaran negara dan kekhawatiran mengenai potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal turut menambah sentimen negatif, menekan kepercayaan bisnis dan konsumen lebih jauh lagi.6

1.3 Eksodus Besar: Dampak Signifikan dari Arus Keluar Dana Asing

Faktor yang paling langsung dan kuat dalam menekan harga saham perbankan adalah arus keluar modal asing yang masif. Ketika sentimen global dan domestik memburuk, investor asing secara agresif menjual kepemilikan mereka di pasar saham Indonesia, dan saham-saham perbankan menjadi korban utama.

Data transaksi menunjukkan skala eksodus ini dengan jelas. Sepanjang tahun 2025, investor asing secara konsisten mencatatkan posisi jual bersih (net sell). Hingga pertengahan September 2025, total aksi jual bersih investor asing telah mencapai Rp 61,72 triliun.7 Data setelmen hingga akhir September 2025 mengonfirmasi angka yang signifikan, dengan total arus keluar bersih dari pasar saham sebesar Rp 51,34 triliun secara year-to-date.8

Saham-saham "Big Four" (BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) merupakan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar dan likuiditas tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI).10 Karakteristik ini menjadikan mereka sebagai "pintu keluar" yang paling mudah bagi investor asing. Ketika keputusan untuk keluar dari pasar Indonesia dibuat, saham-saham inilah yang pertama kali dan paling banyak dijual. Data menunjukkan bahwa BBCA, BMRI, dan BBNI termasuk dalam daftar saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing sepanjang tahun ini.12

Fenomena ini menciptakan sebuah mekanisme yang perlu dipahami secara mendalam, yaitu lingkaran umpan balik negatif (negative feedback loop). Prosesnya berjalan sebagai berikut:

  1. Investor asing, merespons berita makroekonomi yang negatif, memutuskan untuk mengurangi eksposur di Indonesia.
  2. Mereka menjual aset yang paling mudah dijual, yaitu saham-saham big banks.
  3. Tekanan jual yang masif ini menyebabkan harga saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI anjlok.
  4. Karena saham-saham ini memiliki bobot yang sangat besar dalam penghitungan IHSG, kejatuhan mereka secara signifikan menyeret turun seluruh indeks.1
  5. Penurunan IHSG yang tajam memperburuk sentimen pasar secara umum, memicu kepanikan di kalangan investor lain (baik lokal maupun asing), dan mendorong gelombang penjualan lebih lanjut, seringkali pada saham-saham yang sama.

Hasilnya adalah spiral penurunan yang saling memperkuat, di mana kejatuhan saham bank memicu kejatuhan pasar, yang pada gilirannya memicu kejatuhan saham bank lebih lanjut. Kerugian yang dialami investor saat ini merupakan bagian dari dinamika pasar yang kuat ini.

Lebih dari itu, analisis terhadap aliran dana menunjukkan bahwa masalahnya lebih dalam dari sekadar pesimisme terhadap pasar saham. Investor asing tidak hanya menjual saham, tetapi juga melepas kepemilikan mereka di instrumen moneter Bank Indonesia, yaitu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).8 Penjualan saham mengindikasikan pandangan negatif terhadap prospek laba korporasi, sementara penjualan instrumen SRBI mengindikasikan pandangan negatif terhadap mata uang Rupiah atau imbal hasil yang ditawarkan. Ketika keduanya dijual secara bersamaan, ini menandakan keengganan yang lebih luas untuk memegang aset-aset berdenominasi Rupiah. Hal ini menyiratkan bahwa pemulihan yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan perbaikan sentimen di pasar saham, tetapi juga pemulihan kepercayaan terhadap stabilitas mata uang Rupiah itu sendiri.

Bagian 2: Kisah Empat Raksasa: Kesehatan Fundamental dan Perbedaan Kinerja

Setelah memahami bahwa tekanan jual bersifat makro dan masif, pertanyaan selanjutnya adalah: apakah penurunan harga ini dibenarkan oleh kinerja fundamental masing-masing bank? Analisis pada bagian ini akan membedah kesehatan keuangan dari empat bank terbesar untuk menentukan apakah pelemahan ini merupakan koreksi wajar atas kinerja yang buruk atau hasil dari penjualan tanpa pandang bulu yang menciptakan peluang valuasi.

2.1 Analisis Profitabilitas dan Margin (NIM & Laba)

Kinerja profitabilitas keempat bank raksasa ini menunjukkan gambaran yang beragam sepanjang semester pertama tahun 2025. Beberapa bank menghadapi tekanan laba yang signifikan, sementara yang lain menunjukkan resiliensi yang luar biasa.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melaporkan penurunan laba bersih pada paruh pertama 2025.15 Laba bersih konsolidasi BBRI terkoreksi 11,53% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 26,28 triliun, terutama akibat kenaikan beban pencadangan kerugian penurunan nilai (impairment).16 Demikian pula, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga merasakan tekanan pada profitabilitasnya, dengan laba bersih pada kuartal kedua 2025 turun 19% YoY akibat lonjakan biaya operasional.17

Di tengah tantangan tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tampil sebagai anomali. BBCA secara konsisten menunjukkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan laba yang kuat.15 Laba bersih (bank only) hingga Juli 2025 tercatat tumbuh 10,5% YoY menjadi Rp 34,7 triliun.20 Bahkan pada paparan publik di bulan September, manajemen menegaskan kondisi keuangan yang solid didukung oleh pertumbuhan dana murah.21

Meskipun laba bersih berfluktuasi, metrik profitabilitas inti seperti Net Interest Margin (NIM) atau Margin Bunga Bersih memberikan gambaran yang lebih stabil. NIM BBRI, misalnya, tercatat tetap stabil di level 8,2% pada kuartal II 2025, menunjukkan kemampuan bank untuk menjaga margin keuntungan dari aktivitas pinjamannya.15 Analis juga memproyeksikan adanya potensi pemulihan NIM untuk BBNI dan BMRI di sisa tahun ini.15 Sementara itu, NIM BBCA secara konsisten berada di level yang sehat, didukung oleh struktur pendanaan berbiaya rendah.21

2.2 Kualitas Aset dan Manajemen Risiko (NPL & LAR)

Kemampuan sebuah bank untuk mengelola risiko kredit adalah pilar fundamental kesehatannya. Dalam lingkungan ekonomi yang melambat, risiko kredit macet cenderung meningkat. Namun, data menunjukkan bahwa bank-bank besar Indonesia berhasil menjaga kualitas aset mereka pada level yang terkendali.

BBCA kembali menunjukkan keunggulannya dalam aspek ini. Analis menyoroti kualitas aset BBCA yang tetap kuat, biaya kredit (Cost of Credit/CoC) yang rendah, dan tidak adanya perkiraan lonjakan kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL).12 Hal ini mencerminkan praktik manajemen risiko yang prudent dan selektif.

Bank-bank BUMN, meskipun menghadapi tantangan yang lebih besar di segmen kreditnya, juga berhasil menjaga rasio NPL mereka. Rasio NPL gross BBRI, misalnya, relatif stabil di level 3,23% pada akhir semester I 2025.16 Kemampuan bank-bank ini untuk membentuk pencadangan yang memadai menjadi kunci dalam memitigasi potensi kerugian di masa depan.

2.3 Likuiditas dan Struktur Pendanaan (CASA & LDR)

Struktur pendanaan adalah salah satu faktor pembeda paling krusial dalam industri perbankan, dan di sinilah keunggulan kompetitif BBCA paling bersinar. Kemampuan untuk menghimpun dana murah dari giro dan tabungan (Current Account Saving Account/CASA) secara langsung menentukan biaya dana (Cost of Funds/CoF) dan pada akhirnya, profitabilitas.

Per Juni 2025, porsi CASA BBCA mencapai 82,5% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK), sebuah rasio yang jauh di atas rata-rata industri.21 Basis dana murah yang kokoh ini memberikan BBCA fleksibilitas dan bantalan keuntungan yang tidak dimiliki oleh para pesaingnya dalam skala yang sama.

Meskipun demikian, bank-bank lain juga menunjukkan kinerja yang solid dalam menghimpun CASA. DPK BBRI hingga Juli 2025 tumbuh sehat, dengan rasio CASA menguat menjadi 65,75%.16

Dari sisi likuiditas, rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) menjadi indikator penting. LDR BBCA yang berada di level 78% per Juni 2025 21 tergolong sangat longgar dibandingkan rata-rata industri yang mendekati 90%. Ini menunjukkan bahwa BBCA memiliki likuiditas yang sangat melimpah (ample) untuk menyalurkan kredit secara ekspansif tanpa harus berebut dana mahal di pasar.

2.4 Efisiensi Operasional dan Pertumbuhan (ROE & Pertumbuhan Kredit)

Return on Equity (ROE) adalah metrik pamungkas yang mengukur seberapa efektif manajemen menggunakan modal pemegang saham untuk menghasilkan laba. Dalam perbandingan ini, BBCA kembali memimpin dengan ROE yang sangat tinggi, mencapai 21,78% pada kuartal II 2025.23 Ini diikuti oleh BMRI dengan ROE yang juga impresif sekitar 20,12%, dan BBRI di level 17,98%. ROE BBNI, meskipun lebih rendah di 13,01%, masih merupakan angka yang solid.23

Dari sisi pertumbuhan, meskipun ekonomi melambat, bank-bank ini masih mampu mencatatkan pertumbuhan kredit. Penyaluran kredit BBCA per Juni 2025 tumbuh 12,9% YoY, melampaui rata-rata industri dan bahkan target internal bank itu sendiri.21 Ini menunjukkan kekuatan ekosistem bisnis BBCA yang mampu terus mendorong permintaan pinjaman.

Analisis komparatif ini mengarah pada satu kesimpulan penting: terdapat diskoneksi yang jelas antara pergerakan harga saham dan kualitas fundamental. Seluruh saham big banks mengalami penurunan harga yang signifikan, dengan beberapa di antaranya anjlok lebih dari 20% secara year-to-date.24 Namun, kinerja fundamental mereka, meskipun bervariasi, sama sekali tidak menunjukkan kerusakan sebesar itu. Fakta bahwa saham dengan kualitas premium dan kinerja paling tangguh seperti BBCA ikut dijual secara masif bersama dengan saham lainnya, mengindikasikan bahwa aksi jual ini didorong oleh sentimen makro dari atas ke bawah (top-down), bukan analisis fundamental dari bawah ke atas (bottom-up). Pasar seolah-olah menghukum semua saham perbankan secara seragam, tanpa membedakan kualitasnya. Kondisi inilah yang seringkali menciptakan peluang valuasi bagi investor jangka panjang, karena harga aset berkualitas tinggi menjadi terdiskon akibat sentimen pasar yang bersifat sementara.

Tabel 1: Metrik Fundamental & Valuasi Komparatif (per Kuartal II/September 2025)

Kode Saham Harga Pasar (30 Sep 2025) PER (x) PBV (x) ROE (%) NIM (%) NPL (Gross, %) Rasio CASA (%)
BBCA Rp 7.625 16,34 3,56 21,78 \~5,8 \~1,8 82,5
BBRI Rp 3.900 10,32 1,86 17,98 \~6,6 \~3,2 65,5
BMRI Rp 4.400 7,58 1,53 20,12 \~5,2 \~1,3 \~76,0
BBNI Rp 4.100 7,26 0,95 13,01 \~4,5 \~2,2 \~71,0

Sumber: Data diolah dari.16 Data NIM, NPL, dan CASA adalah perkiraan berdasarkan laporan terakhir yang tersedia (Q2/Juli 2025).

Bagian 3: Jalan Menuju Pemulihan: Mengidentifikasi Katalis Kunci untuk Rebound

Setelah memahami penyebab penurunan dan kondisi fundamental perusahaan, fokus beralih ke masa depan: faktor-faktor apa yang dapat membalikkan tren negatif ini dan memicu pemulihan yang berkelanjutan? Identifikasi katalis-katalis ini sangat penting untuk membangun ekspektasi yang realistis dan strategi investasi yang tepat.

3.1 Poros Kebijakan Moneter: Siklus Pelonggaran Bank Indonesia

Katalis domestik yang paling kuat dan paling penting untuk pemulihan sektor perbankan adalah perubahan arah kebijakan moneter oleh Bank Indonesia. Sepanjang tahun 2025, sebagai respons terhadap perlambatan ekonomi dan inflasi yang terkendali, BI telah memulai siklus pelonggaran moneter yang agresif.

Data menunjukkan bahwa BI telah memangkas suku bunga acuan (BI-Rate) secara bertahap namun signifikan. Dimulai dari level 6,00% pada akhir 2024, BI melakukan serangkaian pemotongan hingga suku bunga acuan mencapai level 4,75% pada bulan September 2025.25 Ini merupakan penurunan sebesar 125 basis poin dalam waktu kurang dari setahun, sebuah langkah yang sangat akomodatif.

Mekanisme transmisi kebijakan ini ke sektor perbankan dan ekonomi riil bersifat multifaset. Pertama, penurunan suku bunga acuan secara langsung menurunkan biaya dana (Cost of Funds) bagi perbankan, yang berpotensi melebarkan Net Interest Margin (NIM) mereka. Kedua, suku bunga kredit yang lebih rendah akan merangsang permintaan pinjaman dari sektor korporasi untuk investasi dan dari sektor rumah tangga untuk konsumsi, seperti kredit kendaraan bermotor dan KPR.28 Peningkatan permintaan kredit ini sangat vital untuk mendorong pertumbuhan pendapatan bank. Bank Indonesia sendiri memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan akan meningkat menjadi 11-13% pada tahun 2025, lebih tinggi dari proyeksi tahun sebelumnya.29

Namun, sebuah pengamatan krusial harus dibuat di sini. Meskipun BI telah memangkas suku bunga berulang kali, pasar saham, termasuk saham perbankan, terus mengalami penurunan.24 Mengapa demikian? Jawabannya terletak pada sifat antisipatif pasar keuangan dan adanya jeda waktu (time lag) dalam kebijakan moneter. Efek positif dari penurunan suku bunga terhadap data ekonomi riil—seperti peningkatan penjualan ritel, ekspansi pabrik, atau pertumbuhan PDB yang lebih tinggi—membutuhkan waktu beberapa kuartal untuk terwujud. Saat ini, pasar masih terpaku pada data-data ekonomi

saat ini yang menunjukkan perlambatan (PMI kontraksi, deflasi).

Pasar keuangan, pada dasarnya, adalah mesin pendiskonto masa depan. Pemulihan harga saham tidak akan menunggu data PDB kuartal berikutnya dirilis dan menunjukkan perbaikan. Sebaliknya, rebound akan dimulai ketika konsensus investor mulai mengalihkan fokus mereka dari masalah saat ini (data ekonomi yang lemah) ke solusi yang telah diterapkan (pelonggaran moneter BI). Titik balik ini lebih bersifat psikologis. Ketika narasi pasar bergeser dari "ekonomi sedang melambat" menjadi "efek dari penurunan suku bunga akan segera terasa," maka investor akan mulai membeli saham untuk mengantisipasi perbaikan laba korporasi di masa depan. Oleh karena itu, pemulihan di pasar saham kemungkinan besar akan mendahului pemulihan yang terlihat di ekonomi riil.

3.2 Kembalinya Modal Asing: Membalikkan Arus Eksodus

Sebagaimana arus keluar modal asing menjadi pendorong utama penurunan, kembalinya mereka akan menjadi syarat mutlak untuk rebound yang kuat dan berkelanjutan, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar. Pasar domestik saja tidak memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk menyerap tekanan jual asing dan mendorong harga naik secara signifikan.

Beberapa kondisi perlu terpenuhi untuk menarik kembali minat investor asing. Pertama, stabilisasi nilai tukar Rupiah. Investor asing sangat sensitif terhadap risiko mata uang; keuntungan dari kenaikan harga saham dapat dengan mudah tergerus oleh depresiasi Rupiah. Kebijakan BI yang pro-stabilitas akan menjadi kunci di sini.30 Kedua, meredanya ketidakpastian global, seperti tercapainya kesepakatan dalam sengketa dagang atau prospek ekonomi global yang lebih cerah. Ketiga, kejelasan dan stabilitas politik di dalam negeri.

Pasar sangat memantau pergerakan dana asing ini. Sebuah data yang menunjukkan bahwa investor asing akhirnya kembali melakukan aksi beli bersih (net buy) pada saham yang sebelumnya banyak dijual, seperti BBCA, dapat menjadi berita besar dan sinyal awal perubahan sentimen.12 Bahkan pergeseran kecil dari penjualan masif menjadi pembelian moderat sudah cukup untuk meredakan tekanan jual dan memungkinkan harga untuk stabil dan mulai pulih.

3.3 Aksi Korporasi dan Nilai Pemegang Saham

Di tengah gejolak pasar, tindakan yang diambil oleh manajemen perusahaan dapat mengirimkan sinyal kepercayaan yang kuat kepada investor. Dua aksi korporasi yang paling relevan dalam konteks ini adalah pembagian dividen dan program pembelian kembali saham (share buyback).

Ketika sebuah bank mengumumkan pembagian dividen yang sehat atau bahkan meningkat, ini menunjukkan bahwa manajemen yakin akan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan arus kas yang stabil di masa depan. Demikian pula, ketika perusahaan menggunakan kasnya untuk melakukan buyback, ini menyiratkan dua hal: manajemen percaya bahwa harga saham saat ini berada di bawah nilai intrinsiknya (undervalued), dan mereka berkomitmen untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham yang tersisa dengan mengurangi jumlah saham yang beredar.

Pada tahun 2025, beberapa bank besar telah mengumumkan rencana buyback, yang dapat berfungsi sebagai 'bantalan' atau penopang harga dengan menciptakan permintaan yang konsisten di pasar.31 Aksi-aksi korporasi ini, meskipun bukan katalis utama, berperan penting dalam membangun kembali kepercayaan investor dan memberikan imbal hasil langsung kepada mereka yang tetap berinvestasi.

Bagian 4: Titik Masuk Strategis dan Analisis Valuasi: Kapan dan Bagaimana Berinvestasi

Bagian ini bertujuan untuk memberikan jawaban yang paling praktis atas pertanyaan investor: "kapan harus masuk?" Dengan mengintegrasikan analisis valuasi, teknikal, dan pandangan konsensus analis, kita dapat membangun sebuah kerangka kerja untuk mengidentifikasi zona pembelian yang menarik, bukan hanya satu titik waktu tunggal.

4.1 Valuasi Relatif: Apakah Saham Big Banks Sudah "Murah"?

Salah satu cara paling mendasar untuk menilai daya tarik sebuah saham adalah melalui metrik valuasi seperti Price-to-Earnings Ratio (PER) dan Price-to-Book Value (PBV). Metrik ini membandingkan harga saham saat ini dengan laba atau nilai buku perusahaan.

Berdasarkan data valuasi per Kuartal II 2025, terlihat adanya perbedaan yang mencolok di antara empat bank besar. Bank-bank BUMN, khususnya BBNI dan BMRI, diperdagangkan pada valuasi yang secara historis dianggap murah. PER BBNI di 7,26x dan BMRI di 7,58x jauh lebih rendah dibandingkan BBCA. Yang lebih menarik, PBV BBNI berada di bawah 1x, yaitu 0,95x, yang secara teoretis berarti pasar menilai perusahaan lebih rendah dari nilai aset bersihnya.23 Sebuah studi historis juga menunjukkan bahwa saham-saham bank BUMN ini seringkali berada dalam kondisi

undervalued.32 Ini menjadikan mereka pilihan menarik bagi investor yang berorientasi pada nilai (value investing).

Di sisi lain, BBCA secara konsisten diperdagangkan pada valuasi premium, dengan PER 16,34x dan PBV 3,56x.23 Valuasi yang tinggi ini, bagaimanapun, seringkali dianggap wajar oleh pasar sebagai imbalan atas kualitas superiornya: profitabilitas yang konsisten, ROE tertinggi, dan manajemen risiko terbaik. Namun, penting untuk dicatat bahwa penurunan harga saham yang signifikan telah membuat valuasi premium BBCA ini menjadi lebih menarik atau "lebih masuk akal" dibandingkan level puncaknya. Analis mencatat bahwa valuasi BBCA telah turun ke level yang menarik, bahkan di bawah standar deviasi historisnya.12

Analisis ini memberikan pilihan strategis bagi investor. Bagi mereka yang mencari potensi pembalikan nilai dari aset yang terdiskon, BBNI dan BMRI menawarkan kasus investasi yang kuat. Bagi mereka yang memprioritaskan kualitas dan bersedia membayar harga premium yang kini lebih rendah, BBCA tetap menjadi pilihan utama.

4.2 Rambu-rambu Teknis: Mengidentifikasi Level Support Kunci

Analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga historis untuk mengidentifikasi level-level psikologis di mana tekanan beli (support) atau tekanan jual (resistance) cenderung muncul. Mengetahui level support kunci dapat membantu investor dalam merencanakan titik masuk secara bertahap. Berdasarkan berbagai analisis teknikal, berikut adalah beberapa area support penting yang perlu dipantau:

  • BBCA: Area support pertama berada di kisaran Rp 7.650 – Rp 7.700 33, dengan support berikutnya di sekitar Rp 7.475.13 Beberapa analis menganggap area di bawah Rp 8.000 sebagai zona pembelian yang baik (best buy).34
  • BBRI: Memiliki area support yang cukup kuat di antara Rp 3.650 hingga Rp 3.750.13
  • BMRI: Level support terdekat yang diidentifikasi adalah di sekitar Rp 4.600, dengan area support yang lebih kuat di Rp 4.800.34
  • BBNI: Support kunci teridentifikasi berada di level Rp 4.020.13

Penting untuk diingat bahwa level-level ini bukanlah angka pasti, melainkan "zona" di mana probabilitas pembalikan harga meningkat. Investor disarankan untuk memantau pergerakan harga di sekitar zona-zona ini sebagai sinyal untuk mulai melakukan akumulasi.

4.3 Pandangan Konsensus Analis: Melihat Ekspektasi Masa Depan

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, penting untuk mempertimbangkan pandangan dari para profesional di berbagai sekuritas. Sintesis dari berbagai laporan riset menunjukkan adanya konsensus yang sangat kuat. Terlepas dari tren penurunan saat ini, rekomendasi yang luar biasa dominan untuk keempat saham bank besar adalah "Beli" (Buy).12

Konsensus positif ini didukung oleh target harga yang menyiratkan potensi kenaikan (upside) yang sangat signifikan dari level harga saat ini.

  • BBCA: Target harga dari berbagai analis berkisar antara Rp 9.600 hingga Rp 11.802.12
  • BMRI: Target harga diproyeksikan bisa mencapai Rp 5.900 hingga Rp 7.647.17
  • BBRI: Target harga konsensus berada di sekitar Rp 4.900.15
  • BBNI: Target harga ditetapkan di level Rp 5.675.15

Kombinasi dari valuasi yang menarik, level harga yang mendekati support teknikal, dan target harga analis yang tinggi membentuk sebuah kerangka kerja untuk entri strategis. Upaya untuk menebak titik terendah pasar secara presisi seringkali berujung pada kegagalan dan kecemasan. Pendekatan yang lebih bijaksana adalah mendefinisikan sebuah "Zona Nilai Menarik" (Zone of Compelling Value), di mana profil risiko-imbalan menjadi sangat menguntungkan. Zona ini dapat diidentifikasi dengan menggunakan daftar periksa sederhana:

  1. Pemicu Fundamental: Apakah saham diperdagangkan pada valuasi (misalnya, PBV) yang secara signifikan lebih rendah dari rata-rata historisnya?
  2. Pemicu Teknikal: Apakah harga saham sedang mendekati atau telah memasuki zona support kunci yang diidentifikasi oleh analis?
  3. Pemicu Potensi Kenaikan: Apakah harga saat ini menawarkan potensi kenaikan yang substansial (misalnya, lebih dari 25%) terhadap target harga konsensus analis?

Ketika sebuah saham memenuhi dua atau bahkan ketiga kriteria ini, probabilitas bahwa itu adalah titik masuk yang baik untuk investasi jangka panjang menjadi sangat tinggi. Pendekatan ini mengubah pola pikir investor dari "mencoba menebak waktu" yang emosional menjadi "mengikuti proses" yang disiplin dan berbasis bukti.

Tabel 2: Ringkasan Rekomendasi dan Target Harga Analis (2025)

Kode Saham Rekomendasi Konsensus Rata-rata Target Harga (Rp) Potensi Kenaikan dari Harga 30 Sep (%)
BBCA Sangat Dominan Beli \~Rp 11.000 \~44%
BBRI Sangat Dominan Beli \~Rp 4.900 \~26%
BMRI Sangat Dominan Beli \~Rp 6.500 \~48%
BBNI Sangat Dominan Beli \~Rp 5.675 \~38%

Sumber: Data diolah dari.12 Rata-rata target harga adalah estimasi berdasarkan rentang yang diberikan.

Tabel 3: Level Support dan Resistance Teknis Kunci (Rp)

Kode Saham Support 2 Support 1 Resistance 1 Resistance 2
BBCA \~Rp 7.475 \~Rp 7.650 \~Rp 8.000 \~Rp 9.500
BBRI \~Rp 3.650 \~Rp 3.750 \~Rp 4.000 \~Rp 4.500
BMRI \~Rp 4.600 \~Rp 4.800 \~Rp 5.000 \~Rp 5.500
BBNI - \~Rp 4.020 \~Rp 4.370 \~Rp 5.000

Sumber: Data diolah dari.13

Bagian 5: Pandangan Konklusif dan Rekomendasi Strategis bagi Investor

Setelah melakukan analisis mendalam terhadap faktor-faktor makroekonomi, kesehatan fundamental, dan berbagai indikator pasar, bagian terakhir ini akan menyintesiskan seluruh temuan menjadi sebuah pandangan yang koheren serta memberikan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti oleh investor.

5.1 Sintesis Prospek untuk Sisa Tahun 2025 dan Menuju 2026

Prospek untuk saham-saham perbankan besar Indonesia menunjukkan adanya dualitas. Dalam jangka pendek, volatilitas harga kemungkinan akan tetap tinggi. Kekhawatiran makroekonomi global dan domestik yang telah menekan pasar sepanjang tahun ini tidak akan hilang dalam sekejap. Arus dana asing mungkin masih akan fluktuatif, dan sentimen pasar dapat berubah dengan cepat.

Namun, untuk prospek jangka menengah hingga panjang, fondasi untuk pemulihan terlihat semakin kokoh. Kombinasi dari tiga faktor utama—valuasi yang kini jauh lebih menarik setelah koreksi tajam, kinerja fundamental korporasi yang terbukti tangguh (terutama pada pemimpin pasar seperti BBCA), dan yang terpenting, kebijakan moneter yang sangat akomodatif dari Bank Indonesia—menciptakan landasan yang kuat untuk sebuah rebound.

Pemulihan ini bukanlah pertanyaan "jika," melainkan "kapan." Waktu pemulihan kemungkinan besar akan ditentukan oleh pergeseran sentimen pasar, yaitu ketika investor mulai mengalihkan fokus dari tantangan saat ini ke katalis pemulihan di masa depan. Berdasarkan jeda waktu kebijakan moneter, sangat mungkin bahwa tanda-tanda awal pemulihan yang berkelanjutan akan mulai terlihat pada akhir kuartal keempat 2025 atau memasuki awal tahun 2026, seiring dengan pasar yang mulai "menghargai" (pricing in) dampak positif dari kumulasi penurunan suku bunga.

5.2 Kerangka Kerja untuk Masuk: Strategi Akumulasi Bertahap

Mengingat ketidakpastian jangka pendek, tindakan yang paling berisiko adalah mencoba "menebak dasar pasar" dan menginvestasikan seluruh dana dalam satu kali transaksi. Pendekatan ini lebih mirip spekulasi daripada investasi.

Strategi yang jauh lebih prudent dan direkomendasikan adalah akumulasi bertahap (gradual accumulation), yang sering juga disebut sebagai dollar-cost averaging. Investor disarankan untuk memecah total dana yang ingin diinvestasikan menjadi beberapa bagian (tranches) dan membangun posisi secara perlahan.

Kerangka kerja "Zona Nilai Menarik" yang dijelaskan pada Bagian 4 dapat digunakan sebagai panduan untuk mengeksekusi strategi ini.

  • Tranche Pertama: Dapat dipertimbangkan untuk dieksekusi ketika harga saham pilihan memasuki atau mendekati zona support kunci pertama (Support 1).
  • Tranche Berikutnya: Dapat dialokasikan jika harga terus melemah dan mencapai level support kedua (Support 2), atau setelah harga menunjukkan tanda-tanda stabilisasi (konsolidasi) selama beberapa waktu di sekitar level support pertama.

Strategi ini memiliki dua keuntungan utama. Pertama, ia mengurangi risiko membeli di harga puncak sebelum koreksi lebih lanjut. Kedua, ia membantu mengelola aspek psikologis dari berinvestasi di pasar yang sedang turun, mengubah kecemasan menjadi tindakan yang terencana dan disiplin.

5.3 Pertimbangan Portofolio dan Manajemen Risiko

Investasi pada saham perbankan besar harus dilihat dalam konteks portofolio investasi secara keseluruhan. Pastikan bahwa alokasi pada sektor ini sesuai dengan profil risiko dan tujuan diversifikasi investor. Meskipun prospeknya positif, konsentrasi yang berlebihan pada satu sektor selalu membawa risiko.

Yang terpenting, investor harus mengadopsi horizon waktu investasi jangka panjang, idealnya 2 hingga 3 tahun atau lebih. Kerugian 10% yang dialami saat ini, meskipun tidak menyenangkan, adalah fluktuasi jangka pendek yang sangat dapat dikelola jika tesis investasi fundamental tetap utuh dan horizon waktu cukup panjang untuk memungkinkan siklus pemulihan pasar berjalan sepenuhnya.

Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa periode penurunan pasar seringkali terasa tidak nyaman dan menguji kesabaran. Namun, sejarah pasar modal telah berulang kali menunjukkan bahwa periode-periode inilah yang seringkali menghadirkan peluang pembelian terbaik dalam jangka panjang, terutama pada aset-aset berkualitas tinggi seperti bank-bank terkemuka di Indonesia. Bagi investor yang disiplin, sabar, dan berpegang pada analisis fundamental, gejolak saat ini dapat menjadi fondasi untuk pertumbuhan portofolio yang signifikan di masa depan.

Karya yang dikutip

  1. IHSG Berakhir Turun 0,77%, Saham Bank Jumbo dan Prajogo Jadi Beban, diakses Oktober 1, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/market/20250930161502-17-671630/ihsg-berakhir-turun-077-saham-bank-jumbo-dan-prajogo-jadi-beban
  2. IHSG Tertekan, Pelemahan Saham Perbankan Jadi Penyebab Utama! - Ajaib, diakses Oktober 1, 2025, https://ajaib.co.id/penyebab-saham-bank-anjlok-ihsg-melemah-juni-2025/
  3. Stabilitas Sistem Keuangan Tetap Terjaga, KSSK Memperkuat Koordinasi dan Kebijakan di Tengah Meningkatnya Ketidakpastian Global, diakses Oktober 1, 2025, https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/siaran-pers/Hasil-Rapat-Berkala-KSSK-II-2025
  4. Penyebab Saham Bank Keok: Data Ekonomi Hingga Profit Taking, diakses Oktober 1, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/market/20250603081938-17-638027/penyebab-saham-bank-keok-data-ekonomi-hingga-profit-taking
  5. Alasan Saham Bank Kompak Anjlok - CNBC Indonesia, diakses Oktober 1, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/market/20250602152449-17-637868/alasan-saham-bank-kompak-anjlok
  6. Investment Note: Penurunan mendalam pasar saham Indonesia 18 Maret 2025, diakses Oktober 1, 2025, https://www.manulifeim.co.id/ulasan/penurunan-pasar-saham-indonesia.html
  7. Dana Asing Kabur Rp61,72 Triliun dari Pasar Modal Sepanjang 2025 - Tirto.id, diakses Oktober 1, 2025, https://tirto.id/dana-asing-kabur-rp6172-triliun-dari-pasar-modal-sepanjang-2025-hhKF
  8. Purbaya Pede Investor Asing Bakal Serbu RI: Mereka Bakal Menikmati! - CNBC Indonesia, diakses Oktober 1, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/market/20250930090917-17-671370/purbaya-pede-investor-asing-bakal-serbu-ri-mereka-bakal-menikmati
  9. BI: Modal Asing Keluar Bersih Rp 2,71 Triliun Sepekan Terakhir | tempo.co, diakses Oktober 1, 2025, https://www.tempo.co/ekonomi/bi-modal-asing-keluar-bersih-rp-2-71-triliun-sepekan-terakhir-2073822
  10. 20 Saham Market Cap Terbesar Indonesia 2025 - Mirae Asset, diakses Oktober 1, 2025, https://mstock.miraeasset.co.id/blog/saham-market-cap-terbesar/
  11. 10 Saham Terbaik Indonesia Berdasarkan Kapitalisasi Pasar 2025 - Mirae Asset, diakses Oktober 1, 2025, https://mstock.miraeasset.co.id/blog/saham-terbaik/
  12. BBCA Akhirnya Diserok Asing, Ada Update Target Harga - IndoPremier, diakses Oktober 1, 2025, https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=BBCA_Akhirnya_Diserok_Asing__Ada_Update_Target_Harga\&news_id=474568\&group_news=RESEARCHNEWS\&news_date=\&taging_subtype=BBCA\&name=\&search=y\&q=bmri\&halaman=
  13. Saham: BBCA - PT. Bank Central Asia Tbk. - Stockbit, diakses Oktober 1, 2025, https://stockbit.com/symbol/BBCA
  14. Indonesia Kebanjiran Rp9,24 Triliun Modal Asing Minggu Ini - Metro TV, diakses Oktober 1, 2025, https://www.metrotvnews.com/read/kewCMy84-indonesia-kebanjiran-rp9-24-triliun-modal-asing-minggu-ini
  15. Kinerja Semester I 2025: Laba BBRI & BBNI Turun, BBCA Solid, Ini Rekomendasi Sahamnya - Bareksa.com, diakses Oktober 1, 2025, https://www.bareksa.com/berita/saham/2025-07-31/kinerja-semester-i-2025-laba-bbri-bbni-turun-bbca-solid-ini-rekomendasi-sahamnya
  16. BRI (BBRI) Cetak Laba Bersih Rp26,28 Triliun di Semester I-2025 - IndoPremier, diakses Oktober 1, 2025, https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=BRI%20(BBRI)%20Cetak%20Laba%20Bersih%20Rp26,28%20Triliun%20di%20Semester%20I-2025\&news_id=470378\&group_news=RESEARCHNEWS\&news_date=\&taging_subtype=\&name=\&search=\&q=\&halaman=
  17. Kinerja Januari-Agustus 2025: BMRI & BBRI Tetap Direkomendasikan Buy Meski Laba Turun - Bareksa.com, diakses Oktober 1, 2025, https://www.bareksa.com/berita/saham/2025-09-30/kinerja-januari-agustus-2025-bmri-bbri-tetap-direkomendasikan-buy-meski-laba-turun
  18. Kinerja Semester I 2025 Tertekan, Rekomendasi Saham BMRI Tetap Buy, Ini Target Harganya - Bareksa.com, diakses Oktober 1, 2025, https://www.bareksa.com/berita/saham/2025-09-19/kinerja-semester-i-2025-tertekan-rekomendasi-saham-bmri-tetap-buy-ini-target-harganya
  19. Saham Big Banks Mayoritas Anjlok Sepekan Terakhir, Cermati Rekomendasi Analis, diakses Oktober 1, 2025, https://keuangan.kontan.co.id/news/saham-big-banks-mayoritas-anjlok-sepekan-terakhir-cermati-rekomendasi-analis
  20. Semenarik Apa Saham BBCA setelah Muncul Laporan Kinerja Terbaru? - IndoPremier, diakses Oktober 1, 2025, https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Semenarik%20Apa%20Saham%20BBCA%20setelah%20Muncul%20Laporan%20Kinerja%20Terbaru?\&news_id=472257\&group_news=RESEARCHNEWS\&news_date=\&taging_subtype=\&name=\&search=\&q=\&halaman=
  21. Rebound ke Harga Rp8.000, Bagaimana Prospek Saham BBCA di Sisa 2025?, diakses Oktober 1, 2025, https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Rebound_ke_Harga_Rp8_000__Bagaimana_Prospek_Saham_BBCA_di_Sisa_2025_\&news_id=473768\&group_news=RESEARCHNEWS\&taging_subtype=BBCA\&name=\&search=y_general\&q=Bank%20Central%20Asia\&halaman=1
  22. Muncul Laba BRI (BBRI) Juli 2025 - IndoPremier, diakses Oktober 1, 2025, https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Muncul%20Laba%20BRI%20(BBRI)%20Juli%202025\&news_id=472291\&group_news=RESEARCHNEWS\&news_date=\&taging_subtype=\&name=\&search=\&q=\&halaman=
  23. Saham: BBRI - PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. - Stockbit, diakses Oktober 1, 2025, https://stockbit.com/symbol/BBRI
  24. Pasar Saham Indonesia (JCI) | 1990-2025 Data - ID | TRADINGECONOMICS.COM, diakses Oktober 1, 2025, https://id.tradingeconomics.com/indonesia/stock-market
  25. Bank Indonesia Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 4,75 Persen - DDTC News, diakses Oktober 1, 2025, https://news.ddtc.co.id/berita/nasional/1813772/bank-indonesia-pangkas-suku-bunga-acuan-jadi-475-persen
  26. BI Rate - Indikator, diakses Oktober 1, 2025, https://www.bi.go.id/id/statistik/indikator/bi-rate.aspx
  27. Suku Bunga Indonesia | 2005-2025 Data | 2026-2027 Perkiraan - ID | TRADINGECONOMICS.COM, diakses Oktober 1, 2025, https://id.tradingeconomics.com/indonesia/interest-rate
  28. Kisaran Suku Bunga Bank Indonesia 2025, Benarkah Turun? - Bank Mega Syariah, diakses Oktober 1, 2025, https://www.megasyariah.co.id/id/artikel/edukasi-tips/investasi-syariah/kisaran-suku-bunga-bank-indonesia-2025
  29. IHSG Menuju Bullish, 3 Saham Big Bank Ini Siap Terbang - CNBC Indonesia, diakses Oktober 1, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/research/20250306082220-128-616094/ihsg-menuju-bullish-3-saham-big-bank-ini-siap-terbang
  30. Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan 6,00% - Jenius, diakses Oktober 1, 2025, https://www.jenius.com/marketupdate/detail/bank-indonesia-pertahankan-suku-bunga-acuan-600
  31. Sentimen Positif Jelang Lebaran, Ini Ide Trading Saham BBRI, BMRI, BBNI dan BBCA, diakses Oktober 1, 2025, https://www.bareksa.com/berita/saham/2025-03-26/sentimen-positif-jelang-lebaran-ini-ide-trading-saham-bbri-bmri-bbni-dan-bbca
  32. Analisis Harga Wajar Saham Menggunakan Analisis Fundamental dalam Keputusan Investasi Saham - Asosiasi Riset Ekonomi dan Akuntansi Indonesia, diakses Oktober 1, 2025, https://ejournal.areai.or.id/index.php/APKE/article/download/850/1180/4577
  33. Update Saham BBCA Hari Ini: Kinerja dan Prospek Terbaru - Ajaib, diakses Oktober 1, 2025, https://ajaib.co.id/update-saham-bbca-hari-ini/
  34. Analisis Saham BMRI, BBRI, BBCA, ASII | 2ND SESSION CLOSING - YouTube, diakses Oktober 1, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=Vmo4qkEktw8
  35. Usai Rilis Laba, Segini Target Harga Saham Big Bank dari Para Analis - CNBC Indonesia, diakses Oktober 1, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/research/20250206101000-128-608417/usai-rilis-laba-segini-target-harga-saham-big-bank-dari-para-analis
  36. Saham BBRI, BBCA, BMRI dan BBNI Anjlok 6% Sepekan Efek Trump? Ini Potensi Kenaikan Harga di 2025 - Bareksa.com, diakses Oktober 1, 2025, https://www.bareksa.com/berita/saham/2024-11-11/saham-bbri-bbca-bmri-dan-bbni-anjlok-6-sepekan-efek-trump-ini-potensi-kenaikan-harga-di-2025
  37. Saham BBCA Koreksi Saatnya Beli? Ini Ramalan Kinerja dan Dividen 2025 - Bareksa.com, diakses Oktober 1, 2025, https://www.bareksa.com/berita/saham/2025-02-12/saham-bbca-koreksi-saatnya-beli-ini-ramalan-kinerja-dan-dividen-2025
  38. Saham Mandiri-BNI-BRI Bangkit, Begini Peluang Teknikalnya! - CNBC Indonesia, diakses Oktober 1, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/research/20250217131930-128-611216/saham-mandiri-bni-bri-bangkit-begini-peluang-teknikalnya