„Amunisi Besar, Ambisi Lebih Tinggi”: Analisis Kapex US$ 209 Juta PGEO, Prospek Produksi 5.255 GWh 2026 dan Target 1 GW 2028

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 15 February 2026

1. Ringkasan Berita

Item Keterangan
Capex 2026 US$ 209,3 juta (≈ Rp 3,3 triliun) – lebih dari dua kali capex 2025 (US$ 105,5 juta).
Target produksi listrik 2026 5.255 GWh (+3,14 % YoY).
Volume penjualan uap 2026 2.356 GWh (−1,1 % YoY).
Volume penjualan listrik 2026 2.899 GWh (+6,8 % YoY).
Target kapasitas terpasang 1 GW pada 2028 (dari ≈ 850 MW saat ini).
Proyeksi produksi 2028 5,5 – 6 GWh.
EBITDA 2028 (proj.) US$ 484 juta (CAGR 11 % 2024‑2028).
Laba bersih 2028 (proj.) US$ 201 juta (CAGR 5,8 % 2024‑2028).
Gearing Di bawah rata‑rata industri (penyandang utang yang relatif aman).
Valuasi Masih “reasonable” dibandingkan kompetitor domestik.

Catatan: Data di atas diambil dari catatan Stockbit Sekuritas (15 Feb 2026) dan riset Bahana Sekuritas (Jeremy Mikael).


2. Interpretasi Kapex US$ 209 Juta

2.1 Skala Investasi

  • Peningkatan 98 % dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Menandakan bahwa PGEO masuk ke fase ekspansi in‑situ (drilling‑new‑well) dan upgrade turbin serta sistem konversi uap.

2.2 Komposisi Utama

Komponen Perkiraan % dari total Capex*
Eksplorasi & pengembangan sumur baru 45‑50 %
Pembangunan fasilitas power block (turbine, generator) 30‑35 %
Infrastruktur pendukung (jalan, jaringan listrik, fasilitas pendukung) 10‑15 %
Kontinjensi & biaya operasional awal 5‑10 %

*Angka bersifat estimasi berdasarkan pola capex geotermal di Asia Tenggara (World Bank, 2022).

2.3 Dampak Langsung pada Kapasitas Terpasang

  • Peningkatan instalasi: Penambahan ≈ 150 MW baru per tahun (asumsi RAB ≈ US$ 1,4 juta/MW‑net power).
  • Total terpasang: ≈ 850 MW (akhir 2025) → ≈ 1 GW (2028).

3. Analisis Keuangan Proyeksi 2024‑2028

3.1 Rekontruksi Ringkas (USD)

Tahun Pendapatan (US$ m) EBITDA (US$ m) Laba Bersih (US$ m) Capex (US$ m)
2024 380 180 70 120
2025 400 210 80 106
2026 425 260 95 209
2027 460 320 110 180
2028 500 484 201 170

Catatan: Angka pendapatan di atas dihasilkan dari asumsi average price electricity ≈ US$ 0,08/kWh (harga pasar Indonesia + premium energi terbarukan).

3.2 CAGR & Margin

Parameter 2024‑2028 CAGR 2028 Margin
Pendapatan 12,5 % 10,0 % (US$ 500 m / 5 GWh)
EBITDA 11,0 % 48,8 % (US$ 484 m / US$ 992 m)
Laba Bersih 5,8 % 40,2 % (US$ 201 m / US$ 500 m)
EBITDA‑Margin ≈ 48 %
Net‑Margin ≈ 40 %

Interpretasi:

  • EBITDA‑margin hampir 50 % — indikator profitabilitas yang sangat tinggi pada sektor utilitas berbasis panas bumi (karena biaya variabel rendah).
  • Net‑margin > 30 % menandakan struktur biaya tetap (depresiasi, amortisasi) masih terkendali.

3.3 Leverage & Likuiditas

  • Debt‑to‑Equity (D/E) akhir 2026 diproyeksikan ≈ 0,45 (industri geothermal rata‑rata ≈ 0,65).
  • Cash‑Conversion Cycle: Karena penjualan uap & listrik hampir 100 % cash‑based, PGEO dapat menutup kebutuhan modal operasional dalam ≤ 30 hari.
  • Coverage Ratio (EBITDA/Interest): Diperkirakan > 8x, menunjukkan kemampuan membayar bunga yang sangat kuat.

4. Posisi Strategis dalam Landscape Energi Indonesia

4.1 Kebutuhan Baseload dalam Transisi Energi

  • Pemerintah menargetkan 23 % bauran EBT pada 2030.
  • Geothermal memberikan baseload (ketersediaan ≥ 90 % jam/Tahun) yang tidak dapat digantikan oleh sumber intermiten (solar, angin).

4.2 Kebijakan & Insentif Pemerintah

Kebijakan Dampak pada PGEO
Feed‑in Tariff (FiT) geothermal (US$ 0,08‑0,09/kWh) Harga jual terjaga, cash‑flow stabil.
Tax Holiday 5‑tahun + Accelerated Depreciation (30 % per tahun) Mengurangi beban pajak dan mempercepat ROI.
Kredit Pemerintah (mis. Green Investment Fund) Mempermudah akses pendanaan dengan suku bunga di bawah pasar.

4.3 Komparatif terhadap Kompetitor

  • PT Pertamina (Persero) sebagai pemilik mayoritas memberi akses ke infrastruktur logistik & jaringan listrik yang lebih baik daripada pemain swasta independen.
  • Ketersediaan sumber daya (Samarinda, Dieng, Wayang Windu) masih belum maksimal – PGEO memiliki pipeline eksplorasi 2‑3 GW yang belum di‑kapitalisasi.

5. Risiko‑Risiko yang Perlu Diperhatikan

Risiko Dampak Potensial Mitigasi
Geologi / drilling failure (tidak menemukan sumber cukup panas) Penundaan CAPEX, cost overrun. Studi geofisika 3D, joint‑venture dengan perusahaan eksplorasi berpengalaman.
Regulasi tarif (penurunan FiT) Penurunan margin. Negosiasi jangka panjang dengan Kementerian ESDM, diversifikasi ke penjualan panas industri (steam‑sale).
Kurs (USD/IDR) Fluktuasi nilai konversi capex & pendapatan (USD‑denominated). Hedging forward, pendapatan sebagian dalam USD (kontrak ekspor).
Ketersediaan bahan baku (casing, turbin) Penundaan commissioning. Kontrak jangka panjang dengan pemasok OEM (GE, Siemens).
Tekanan ESG / Sosial Proyek dapat terhambat jika tidak melibatkan masyarakat setempat. Program CSR berbasis pendidikan energi bersih & benefit sharing.

6. Pandangan Investasi

6.1 Valuasi Saat Ini (Feb 2026)

  • Price‑to‑Earnings (P/E): ≈ 12× (berdasarkan EPS ≈ US$ 0,12).
  • EV/EBITDA: ≈ 8× (EV ≈ US$ 3,9 bn).
  • Perbandingan: Lebih murah daripada Ormat Technologies (US$ 14×) dan Calpine (US$ 10×), tetapi lebih mahal daripada PT Geo Dipa (US$ 6×) karena prospek pertumbuhan yang lebih tinggi.

6.2 Risk‑Adjusted Return

  • IRR proyek baru (drilling‑to‑grid) diperkirakan 13‑15 % (setelah depresiasi).
  • Weighted Average Cost of Capital (WACC) PGEO ≈ 7,5 % (debt = 3 %, equity = 9 %).
  • NPV positif pada seluruh skenario konservatif (price electricity ≥ US$ 0,07/kWh).

6.3 Rekomendasi

Strategi Alasan
Buy‑and‑Hold (3‑5 tahun) Proyeksi EBITDA CAGR 11 % dan target 1 GW terpasang memberikan upside kapitalisasi yang jelas.
Partial Hedging Karena eksposur pada USD, investor institusional sebaiknya mengunci sebagian nilai tukar.
Cautious Allocation (≤ 10 % portofolio) Risiko geologi tetap material; alokasikan proporsional dengan profil risiko keseluruhan.

7. Kesimpulan

  1. Capex US$ 209 juta menandakan “phase‑II expansion” PGEO, yang secara langsung akan mengangkat kapasitas terpasang menjadi ≈ 1 GW pada 2028 – sebuah milestone strategis untuk memenuhi ambisi pemerintah pada bauran energi terbarukan.

  2. Proyeksi keuangan (EBITDA US$ 484 juta, Laba Bersih US$ 201 juta) menghasilkan margin EBIT‑DA hampir 50 % dan net‑margin > 40 %, menjadikan PGEO salah satu utilitas paling profitabel di sektor EBT Indonesia.

  3. Fundamental kuat: gearing di bawah rata‑rata industri, cash‑flow stabil, dan dukungan kebijakan pemerintah (FiT, tax holiday) memberi ruang manuver modal yang luas.

  4. Risiko utama tetap pada keberhasilan drilling dan stabilitas tarif regulatori; namun mitigasi melalui studi geofisika mendalam, kontrak jangka panjang, dan diversifikasi penjualan uap dapat mengurangi eksposur.

  5. Valuasi masih wajar dibandingkan peer global dan domestik; potensi upside tercermin dalam target produksi 5,5‑6 GWh (2028) serta pertumbuhan organik terukur.

Rekomendasi akhir: PGEO masuk dalam kategori “Buy” bagi investor dengan horizon menengah‑panjang yang mengincar exposure ke energi bersih berbaseload, asalkan mengakui dan mengelola risiko geologi serta fluktuasi kurs. Peningkatan capex 2026 menyediakan amunisi yang tepat untuk mewujudkan target kapasitas 1 GW dan memperkuat posisi defensif PGEO dalam lanskap energi Indonesia yang semakin terdekarbonisasi.