IHSG Melemah 1,43 Persen Pekan Lalu Tertekan Kenaikan Minyak dan Ketidakpastian The Fed

Admin 13 September 2026
IHSG Melemah 1,43 Persen Pekan Lalu Tertekan Kenaikan Minyak dan Ketidakpastian The Fed

IHSG Melemah 1,43 Persen Pekan Lalu Tertekan Kenaikan Minyak dan Ketidakpastian The Fed

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan perdagangan 7–11 September 2026 dengan koreksi 1,43 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks acuan berakhir di level 6.541,37, turun dari 6.636,47 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar IDX juga menyusut 1,32 persen menjadi Rp11.446 triliun dari Rp11.599 triliun.

Pelemahan terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global yang kembali menambah tekanan inflasi, serta ketidakpastian kebijakan moneter Federal Reserve. Pelaku pasar masih mencermati apakah The Fed akan menahan atau kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Sentimen ini membuat investor asing cenderung berhati-hati.

Data perdagangan menunjukkan aktivitas pasar melambat. Nilai transaksi harian rata-rata turun 14,88 persen menjadi Rp16,36 triliun dari Rp19,22 triliun. Volume perdagangan harian juga menyusut 26,34 persen menjadi 36,09 miliar saham dari 48,99 miliar saham pada pekan sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, IHSG sebenarnya masih naik 2,63 persen, tetapi secara tahunan indeks masih sekitar 16,71 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik relatif terjaga. Bank Indonesia mencatat aliran asing bersih yang masih positif di awal 2026, dengan pembelian bersih sekitar Rp1,44 triliun pada pekan pertama Januari. Konsumsi rumah tangga dan belanja infrastruktur tetap menjadi penopang utama. Meski demikian, volatilitas harga komoditas dan arah suku bunga global masih menjadi faktor risiko utama.

Bagi investor, koreksi ini bisa menjadi kesempatan untuk mencermati emiten dengan fundamental kuat, terutama sektor defensif seperti konsumen non-siklikal dan kesehatan. Diversifikasi portofolio serta pemantauan data inflasi dan sinyal bank sentral tetap penting. Selama tekanan eksternal belum mereda, pendekatan selektif dan disiplin risiko menjadi strategi yang paling masuk akal untuk menghadapi pasar yang masih bergejolak.