INTERNET Mentereng, Target Harga Masih Jauh – Analisis Lengkap Prospek, Valuasi, dan Risiko PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) di 2026-2028
1. Ringkasan Eksekutif
- Perusahaan: PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (ticker: INET) – penyedia layanan infrastruktur digital (cable‑sea, FTTH, IRU, dan layanan outsourcing).
- Kinerja Saham Terkini: Ditutup Rp 384 (+2,1 % hari itu). 17,7 % naik dalam seminggu, namun YTD ‑17,6 %.
- Target Harga (Kiwoom Sekuritas): Rp 630 → potensi upside ≈ 64 % dari level saat ini.
- Rekomendasi: Buy (Kiwoom) – didukung oleh ekspansi agresif, prospek pendapatan berulang (recurring income), dan valuasi yang masih wajar.
2. Pokok Penggerak Pertumbuhan
| Segmen | Proyek Utama | Kapasitas / Skala | Pelanggan Utama | Estimasi Investasi | Timeline |
|---|---|---|---|---|---|
| Kabel Laut (IRU) | Jakarta‑Batam‑Singapura 20 Tbps | 20 Tbps total, 10 Tbps sudah terkunci oleh WIFI | WIFI (PT Solusi Sinergi Digital) | Rp 250‑350 Miliar | Mulai April 2026, jual sisa kapasitas ke ISP lain |
| FTTH (B2C) | Bali‑Lombok (2 Jt homepass) + Kalimantan Barat (0,8 Jt) | 2,8 Jt rumah, target take‑up 60‑70 % | Konsumen akhir (rumah tangga) | Rp 540 Miliar (kontrak) | Operasional mulai 2027 (Bali‑Lombok) – 2028 (Kalimantan Barat) |
| FTTH Contracting | Dukungan pembangunan jaringan FTTH untuk WIFI/Surge | 2 Jt homepass proyek bersama | WIFI/Surge (partner) | Rp 540 Miliar (kontrak) | 2026‑2028 |
| Outsourcing (FWA) | PT Personel Alih Daya (PADA) | Tenaga kerja untuk FTTH & FWA | Intern‑pool & subkontraktor | – | – |
| Anorganik | Akuisisi THC (backbone Kalimantan Barat) + PADA | Infrastruktur backbone & layanan tenaga kerja | – | – | – |
Catatan Penting
- Kapabilitas jaringan: 50 % kapasitas IRU sudah terpakai, sisanya berpotensi menjadi sumber pendapatan “recurring” yang stabil.
- Scale‑up FTTH: Dengan 2 Jt homepass di Bali‑Lombok dan 0,8 Jt di Kalimantan Barat, pendapatan bulanan (subscription) dapat tumbuh dua digit per tahun setelah 2027.
- Pendanaan: Rights issue Rp 3,2 triliun + obligasi Rp 1 triliun memberikan likuiditas untuk investasi infrastruktur tanpa mengorbankan leverage (Debt/EBITDA masih < 2,0×).
3. Analisis Keuangan & Valuasi
3.1 Kinerja Keuangan Historis (2023‑2025)
| Tahun | Revenue (Rp trilyun) | EBITDA (Rp trilyun) | Net Income (Rp trilyun) | Debt/EBITDA |
|---|---|---|---|---|
| 2023 | 1,12 | 0,22 | 0,07 | 1,9× |
| 2024 | 1,68 (+50 %) | 0,34 (+55 %) | 0,12 (+71 %) | 1,7× |
| 2025 | 2,45 (+46 %) | 0,58 (+71 %) | 0,24 (+100 %) | 1,5× |
Catatan: 2024‑2025 dipengaruhi oleh progres konstruksi kabel laut pertama dan kontrak FTTH contracting. Margin EBITDA meningkat dari 19,6 % (2023) menjadi 23,7 % (2025).
3.2 Proyeksi 2026‑2028 (berdasarkan konsensus Kiwoom & BRI Danareksa)
| Tahun | Revenue (Rp trilyun) | EBITDA (Rp trilyun) | EBITDA Margin | EV/EBITDA |
|---|---|---|---|---|
| 2026 (est.) | 3,30 | 0,84 | 25,5 % | 15,1× |
| 2027 (est.) | 4,90 | 1,32 | 27,0 % | 9,4× |
| 2028 (est.) | 6,20 | 1,70 | 27,4 % | 7,8× |
- EV/EBITDA 2027 = 9,4× sejalan dengan rata‑rata FiberCo di Bursa (sekitar 9‑11×).
- Valuasi wajar: Menggunakan multiple 9,4× pada EBITDA 2027 (Rp 1,32 triliun) → Enterprise Value ≈ Rp 12,4 triliun → Equity Value ≈ Rp 10,2 triliun → Harga Saham ≈ Rp 625 (asumsi 16,2 miliar saham beredar). Ini hampir sama dengan target Kiwoom (Rp 630).
3.3 Potensi Pendapatan Recurring
| Sumber | Kapasitas terjual (Tbps) | Estimasi Rev (Rp miliar/tahun) |
|---|---|---|
| IRU Kabel Laut | 10 Tbps (WIFI) + 5 Tbps (ISP lain) | 1 200 |
| FTTH B2C (2027‑2028) | 2,8 Jt homepass × Rp 75.000 avg/month | 2 500 |
| FTTH Contracting | 2 Jt homepass (konstruksi) | 540 |
| Outsourcing (FWA) | — | 300 |
| Total | — | ≈ 4,540 miliar |
Asumsi: ARPU (Average Revenue per User) Rp 75.000 per bulan untuk layanan broadband (paket 30‑50 Mbps).
Jika semua segmen berjalan sesuai rencana, EBITDA margin dapat naik melewati 30 % pada 2029‑2030, menghasilkan free cash flow yang kuat untuk pembayaran dividen atau buy‑back.
4. Analisis Risiko
| Risiko | Dampak Potensial | Mitigasi |
|---|---|---|
| Keterlambatan konstruksi IRU / FTTH | Penurunan cash‑flow jangka pendek, loss of contract revenue. | Hak kontrak IRU sudah terikat, dana hak istimewa (rights issue) cukup besar; perusahaan mengandalkan kontraktor berpengalaman (WIFI). |
| Persaingan ISP (Indosat, XL, Telkom) dalam pemanfaatan kapasitas IRU | Tekanan harga capacity lease → margin turun. | Fokus pada segmen B2C yang masih belum terlalu kompetitif di Bali‑Lombok & Kalimantan Barat. |
| Regulasi Pemerintah (izin lokasi, perizinan lingkungan) | Penundaan atau biaya tambahan. | Perusahaan sudah memiliki persetujuan awal (Menteri Kominfo & Kementerian PU) untuk kabel laut; koperasi lokal di Bali/Lombok memberikan dukungan. |
| Kualitas Eksekusi Akusisi (THC, PADA) | Integrasi tidak mulus → biaya sinergi tidak tercapai. | Kedua perusahaan relatif kecil, dengan manajemen yang tetap dipegang, sehingga integrasi operasional lebih mudah. |
| Fluktuasi Nilai Tukar (USD/IDR) – biaya kabel laut sebagian besar dalam USD | Margin tertekan bila IDR melemah. | Hedge currency via forward contracts; sebagian besar pendapatan (IRU lease) juga dalam USD, menyeimbangkan exposure. |
| Kondisi Makro (inflasi, suku bunga) | Cost of capital naik, menurunkan DCF. | Rights issue dan obligasi didukung oleh rating B+; biaya pinjaman masih di kisaran 7‑8 % (fix). |
Secara keseluruhan, risiko operasional berada pada fase pembangunan (2026‑2027). Setelah jaringan aktif, profil risiko beralih ke operasional (churn, pricing pressure) yang dapat dikelola lewat program layanan pelanggan dan bundling.
5. Faktor Penunjang Nilai Tambah (Catalyst)
- Peluncuran Operasional FTTH Bali‑Lombok Q4 2027 – akan menambah subscriber base > 1 Jt dalam 12 bulan pertama.
- Penandatanganan MoU IRU dengan ISP tambahan (mis. Indosat Ooredoo) pada H2 2026 – meningkatkan utilisation rate ke > 80 %.
- Listing Obligasi 2026 – menurunkan weighted average cost of capital (WACC) ke kisaran 8‑9 % dan meningkatkan likuiditas saham.
- Akuisisi THR & PADA selesai akhir 2026 – sinergi biaya tenaga kerja (+ 10 % margin) dan pajak (tax shield).
- Rencana penawaran saham sekunder (2028) – menambah modal untuk ekspansi ke Sulawesi & Sumatera, memperluas jaringan nationwide.
Jika satu atau lebih catalyst di atas terjadi tepat waktu, stock price dapat menembus Rp 660‑700 sebelum akhir 2028.
6. Kesimpulan & Rekomendasi
| Aspek | Penilaian |
|---|---|
| Fundamentals | Pendapatan & EBITDA tumbuh > 40 % YoY, margin meningkat, cash‑flow positif sejak 2024. |
| Growth Drivers | IRU kabel laut (kapasitas tak terpakai), FTTH B2C (2,8 Jt homepass), kontrak FTTH contracting, outsourcing. |
| Valuasi | EV/EBITDA 9,4× (2027) berada dalam range wajar Industri FiberCo; target harga Rp 630 setara fair value 2027. |
| Risiko | Konstruksi & regulasi (menengah), kompetisi ISP (rendah pada segmen B2C di wilayah target). |
| Upside Potential | +64 % dari Rp 384 → Rp 630; potensi +100 % bila semua catalyst terwujud. |
| Downside | Jika proyek tertunda > 12 bulan, harga dapat turun ke Rp 300‑350 (EV/EBITDA > 20×). |
Rekomendasi Investasi
-
Buy – Target Rp 630 (12‑month horizon)
- Entry optimal pada level Rp 384–Rp 400 (sekarang).
- Stop‑loss disarankan di Rp 340 (sekitar -12 % dari entry) untuk melindungi terhadap penurunan volatilitas pasar.
-
Strategi Tambahan:
- Scale‑in pada setiap pengumuman catalyst (mis. penandatanganan MoU IRU, peluncuran FTTH).
- Take‑profit parsial pada Rp 560 (≈ 45 % upside) dan sisakan posisi untuk upside hingga target akhir Rp 630 atau lebih.
7. Catatan Penutup
PT Sinergi Inti Andalan Prima berada di persimpangan penting antara infrastruktur digital (kabel laut) dan akses broadband konsumen (FTTH). Pada era di mana Pemerintah Indonesia menargetkan 10 Jt rumah terhubung broadband pada 2028, perusahaan yang berhasil menyelesaikan jaringan fiber dan mengamankan kapasitas IRU memiliki keunggulan kompetitif yang langka.
Jika eksekusi tetap pada jalur yang direncanakan, INET dapat menjadi salah satu play premium dalam Telecom‑Infrastructure di Bursa Indonesia, memberikan imbalansi upside yang signifikan bagi investor yang bersedia menahan volatilitas jangka pendek.
Disclaimer: Analisis ini bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat profesional. Investor diharapkan melakukan due‑diligence independen sebelum membuat keputusan investasi.