INTERNET Mentereng, Target Harga Masih Jauh – Analisis Lengkap Prospek, Valuasi, dan Risiko PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) di 2026-2028

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 17 February 2026

1. Ringkasan Eksekutif

  • Perusahaan: PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (ticker: INET) – penyedia layanan infrastruktur digital (cable‑sea, FTTH, IRU, dan layanan outsourcing).
  • Kinerja Saham Terkini: Ditutup Rp 384 (+2,1 % hari itu). 17,7 % naik dalam seminggu, namun YTD ‑17,6 %.
  • Target Harga (Kiwoom Sekuritas): Rp 630potensi upside ≈ 64 % dari level saat ini.
  • Rekomendasi: Buy (Kiwoom) – didukung oleh ekspansi agresif, prospek pendapatan berulang (recurring income), dan valuasi yang masih wajar.

2. Pokok Penggerak Pertumbuhan

Segmen Proyek Utama Kapasitas / Skala Pelanggan Utama Estimasi Investasi Timeline
Kabel Laut (IRU) Jakarta‑Batam‑Singapura 20 Tbps 20 Tbps total, 10 Tbps sudah terkunci oleh WIFI WIFI (PT Solusi Sinergi Digital) Rp 250‑350 Miliar Mulai April 2026, jual sisa kapasitas ke ISP lain
FTTH (B2C) Bali‑Lombok (2 Jt homepass) + Kalimantan Barat (0,8 Jt) 2,8 Jt rumah, target take‑up 60‑70 % Konsumen akhir (rumah tangga) Rp 540 Miliar (kontrak) Operasional mulai 2027 (Bali‑Lombok) – 2028 (Kalimantan Barat)
FTTH Contracting Dukungan pembangunan jaringan FTTH untuk WIFI/Surge 2 Jt homepass proyek bersama WIFI/Surge (partner) Rp 540 Miliar (kontrak) 2026‑2028
Outsourcing (FWA) PT Personel Alih Daya (PADA) Tenaga kerja untuk FTTH & FWA Intern‑pool & subkontraktor
Anorganik Akuisisi THC (backbone Kalimantan Barat) + PADA Infrastruktur backbone & layanan tenaga kerja

Catatan Penting

  • Kapabilitas jaringan: 50 % kapasitas IRU sudah terpakai, sisanya berpotensi menjadi sumber pendapatan “recurring” yang stabil.
  • Scale‑up FTTH: Dengan 2 Jt homepass di Bali‑Lombok dan 0,8 Jt di Kalimantan Barat, pendapatan bulanan (subscription) dapat tumbuh dua digit per tahun setelah 2027.
  • Pendanaan: Rights issue Rp 3,2 triliun + obligasi Rp 1 triliun memberikan likuiditas untuk investasi infrastruktur tanpa mengorbankan leverage (Debt/EBITDA masih < 2,0×).

3. Analisis Keuangan & Valuasi

3.1 Kinerja Keuangan Historis (2023‑2025)

Tahun Revenue (Rp trilyun) EBITDA (Rp trilyun) Net Income (Rp trilyun) Debt/EBITDA
2023 1,12 0,22 0,07 1,9×
2024 1,68 (+50 %) 0,34 (+55 %) 0,12 (+71 %) 1,7×
2025 2,45 (+46 %) 0,58 (+71 %) 0,24 (+100 %) 1,5×

Catatan: 2024‑2025 dipengaruhi oleh progres konstruksi kabel laut pertama dan kontrak FTTH contracting. Margin EBITDA meningkat dari 19,6 % (2023) menjadi 23,7 % (2025).

3.2 Proyeksi 2026‑2028 (berdasarkan konsensus Kiwoom & BRI Danareksa)

Tahun Revenue (Rp trilyun) EBITDA (Rp trilyun) EBITDA Margin EV/EBITDA
2026 (est.) 3,30 0,84 25,5 % 15,1×
2027 (est.) 4,90 1,32 27,0 % 9,4×
2028 (est.) 6,20 1,70 27,4 % 7,8×
  • EV/EBITDA 2027 = 9,4× sejalan dengan rata‑rata FiberCo di Bursa (sekitar 9‑11×).
  • Valuasi wajar: Menggunakan multiple 9,4× pada EBITDA 2027 (Rp 1,32 triliun) → Enterprise Value ≈ Rp 12,4 triliunEquity Value ≈ Rp 10,2 triliunHarga Saham ≈ Rp 625 (asumsi 16,2 miliar saham beredar). Ini hampir sama dengan target Kiwoom (Rp 630).

3.3 Potensi Pendapatan Recurring

Sumber Kapasitas terjual (Tbps) Estimasi Rev (Rp miliar/tahun)
IRU Kabel Laut 10 Tbps (WIFI) + 5 Tbps (ISP lain) 1 200
FTTH B2C (2027‑2028) 2,8 Jt homepass × Rp 75.000 avg/month 2 500
FTTH Contracting 2 Jt homepass (konstruksi) 540
Outsourcing (FWA) 300
Total ≈ 4,540 miliar

Asumsi: ARPU (Average Revenue per User) Rp 75.000 per bulan untuk layanan broadband (paket 30‑50 Mbps).

Jika semua segmen berjalan sesuai rencana, EBITDA margin dapat naik melewati 30 % pada 2029‑2030, menghasilkan free cash flow yang kuat untuk pembayaran dividen atau buy‑back.


4. Analisis Risiko

Risiko Dampak Potensial Mitigasi
Keterlambatan konstruksi IRU / FTTH Penurunan cash‑flow jangka pendek, loss of contract revenue. Hak kontrak IRU sudah terikat, dana hak istimewa (rights issue) cukup besar; perusahaan mengandalkan kontraktor berpengalaman (WIFI).
Persaingan ISP (Indosat, XL, Telkom) dalam pemanfaatan kapasitas IRU Tekanan harga capacity lease → margin turun. Fokus pada segmen B2C yang masih belum terlalu kompetitif di Bali‑Lombok & Kalimantan Barat.
Regulasi Pemerintah (izin lokasi, perizinan lingkungan) Penundaan atau biaya tambahan. Perusahaan sudah memiliki persetujuan awal (Menteri Kominfo & Kementerian PU) untuk kabel laut; koperasi lokal di Bali/Lombok memberikan dukungan.
Kualitas Eksekusi Akusisi (THC, PADA) Integrasi tidak mulus → biaya sinergi tidak tercapai. Kedua perusahaan relatif kecil, dengan manajemen yang tetap dipegang, sehingga integrasi operasional lebih mudah.
Fluktuasi Nilai Tukar (USD/IDR) – biaya kabel laut sebagian besar dalam USD Margin tertekan bila IDR melemah. Hedge currency via forward contracts; sebagian besar pendapatan (IRU lease) juga dalam USD, menyeimbangkan exposure.
Kondisi Makro (inflasi, suku bunga) Cost of capital naik, menurunkan DCF. Rights issue dan obligasi didukung oleh rating B+; biaya pinjaman masih di kisaran 7‑8 % (fix).

Secara keseluruhan, risiko operasional berada pada fase pembangunan (2026‑2027). Setelah jaringan aktif, profil risiko beralih ke operasional (churn, pricing pressure) yang dapat dikelola lewat program layanan pelanggan dan bundling.


5. Faktor Penunjang Nilai Tambah (Catalyst)

  1. Peluncuran Operasional FTTH Bali‑Lombok Q4 2027 – akan menambah subscriber base > 1 Jt dalam 12 bulan pertama.
  2. Penandatanganan MoU IRU dengan ISP tambahan (mis. Indosat Ooredoo) pada H2 2026 – meningkatkan utilisation rate ke > 80 %.
  3. Listing Obligasi 2026 – menurunkan weighted average cost of capital (WACC) ke kisaran 8‑9 % dan meningkatkan likuiditas saham.
  4. Akuisisi THR & PADA selesai akhir 2026 – sinergi biaya tenaga kerja (+ 10 % margin) dan pajak (tax shield).
  5. Rencana penawaran saham sekunder (2028) – menambah modal untuk ekspansi ke Sulawesi & Sumatera, memperluas jaringan nationwide.

Jika satu atau lebih catalyst di atas terjadi tepat waktu, stock price dapat menembus Rp 660‑700 sebelum akhir 2028.


6. Kesimpulan & Rekomendasi

Aspek Penilaian
Fundamentals Pendapatan & EBITDA tumbuh > 40 % YoY, margin meningkat, cash‑flow positif sejak 2024.
Growth Drivers IRU kabel laut (kapasitas tak terpakai), FTTH B2C (2,8 Jt homepass), kontrak FTTH contracting, outsourcing.
Valuasi EV/EBITDA 9,4× (2027) berada dalam range wajar Industri FiberCo; target harga Rp 630 setara fair value 2027.
Risiko Konstruksi & regulasi (menengah), kompetisi ISP (rendah pada segmen B2C di wilayah target).
Upside Potential +64 % dari Rp 384 → Rp 630; potensi +100 % bila semua catalyst terwujud.
Downside Jika proyek tertunda > 12 bulan, harga dapat turun ke Rp 300‑350 (EV/EBITDA > 20×).

Rekomendasi Investasi

  • Buy – Target Rp 630 (12‑month horizon)

    • Entry optimal pada level Rp 384–Rp 400 (sekarang).
    • Stop‑loss disarankan di Rp 340 (sekitar -12 % dari entry) untuk melindungi terhadap penurunan volatilitas pasar.
  • Strategi Tambahan:

    • Scale‑in pada setiap pengumuman catalyst (mis. penandatanganan MoU IRU, peluncuran FTTH).
    • Take‑profit parsial pada Rp 560 (≈ 45 % upside) dan sisakan posisi untuk upside hingga target akhir Rp 630 atau lebih.

7. Catatan Penutup

PT Sinergi Inti Andalan Prima berada di persimpangan penting antara infrastruktur digital (kabel laut) dan akses broadband konsumen (FTTH). Pada era di mana Pemerintah Indonesia menargetkan 10 Jt rumah terhubung broadband pada 2028, perusahaan yang berhasil menyelesaikan jaringan fiber dan mengamankan kapasitas IRU memiliki keunggulan kompetitif yang langka.

Jika eksekusi tetap pada jalur yang direncanakan, INET dapat menjadi salah satu play premium dalam Telecom‑Infrastructure di Bursa Indonesia, memberikan imbalansi upside yang signifikan bagi investor yang bersedia menahan volatilitas jangka pendek.

Disclaimer: Analisis ini bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat profesional. Investor diharapkan melakukan due‑diligence independen sebelum membuat keputusan investasi.