Triputra Investindo Arya Jual 3,84 Juta Saham AADI di Rp 8.789 – Dampak Terhadap Kepemilikan, Harga, dan Prospek Saham Adaro (AADI) di Pasar Indonesia

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 21 February 2026

Tanggapan dan Analisis Lengkap

1. Ringkasan Peristiwa

  • Penjual: Triputra Investindo Arya (pemegang saham institusional)
  • Jumlah saham yang dijual: 3,84 juta lembar
  • Harga eksekusi: Rp 8.789 per lembar (total dana Rp 33,76 miliar)
  • Tanggal transaksi: 18 Februari 2026
  • Kepemilikan setelah penjualan: 34,72 juta lembar (0,45 % dari total saham) – turun dari 38,57 juta lembar (0,5 %).
  • Reaksi pasar: Pada Jumat, 20 Feb 2026, harga saham AADI turun 2,36 % menjadi Rp 9.325 per lembar.

2. Mengapa Triputra Investindo Arya Menjual?

Faktor Penjelasan
Rebalancing Portofolio Sebagai manajer aset, Triputra secara rutin menyesuaikan bobot sektor/individu untuk mengoptimalkan risiko‑return. Penurunan posisi AADI dapat mencerminkan upaya mengurangi eksposur pada sektor batu bara/energi yang kini lebih volatile.
Kondisi Makro‑ekonomi Harga komoditas batu bara global mengalami tekanan sejak akhir 2025 karena transisi energi terbarukan dan penurunan permintaan di Asia. Hal ini menurunkan prospek laba jangka pendek AADI, memicu penyesuaian portofolio.
Likuiditas & Cash‑Management Menjual 3,84 juta lembar pada harga Rp 8.789 menghasilkan likuiditas sebesar Rp 33,76 miliar, yang dapat dialokasikan ke peluang investasi lain yang lebih menarik (mis. energi terbarukan, infrastruktur, atau sektor teknologi).
Target Harga Harga eksekusi (Rp 8.789) jauh di bawah harga penutupan pada 20 Feb (Rp 9.325). Ini menandakan bahwa Triputra mengeksekusi penjualan pada level “diskon”, mungkin karena adanya order book yang cukup dalam atau strategi “sell‑the‑news” setelah publikasi rencana penjualan.
Regulasi & ESG Tekanan regulasi lingkungan di Indonesia (mis. kebijakan karbon, pembatasan emisi) dapat mengurangi prospek jangka panjang perusahaan batu bara, mengarahkan investor institusional untuk mengurangi eksposur pada aset yang dianggap “high‑risk ESG”.

3. Dampak Terhadap Struktur Kepemilikan

  • Penurunan Persentase Kecil, Namun Signifikan Bagi Investor Aktif
    Penurunan dari 0,50 % menjadi 0,45 % memang tampak marginal, namun bagi pasar Indonesia yang masih didominasi oleh pemegang saham institusional besar, setiap penurunan persentase dapat mengirim sinyal “sell‑off” kepada investor lain, terutama yang mengikuti jejak (copy‑trading) fund‑of‑funds.

  • Potensi Perubahan Peringkat Pemegang Saham
    Jika penjualan ini diikuti oleh aksi penjualan oleh pemegang saham institusional lain, posisi Triputra dapat tergeser dari peringkat 10‑11 menjadi peringkat yang lebih rendah, menurunkan “influence” pada keputusan dewan direksi (mis. pemungutan suara pada agenda RUPS).


4. Implikasi Harga Saham AADI

Aspek Analisis
Reaksi Harga Jangka Pendek Penurunan 2,36 % pada 20 Feb menunjukkan tekanan jual langsung setelah publikasi penjualan. Likuiditas tambahan di pasar dapat menurunkan harga sementara.
Support dan Resistance - Support teknikal terdekat: Rp 9.000 (harga penjualan).
- Resistance: Rp 9.800‑9.900 (level tertinggi minggu ini).
Volume Trading Volume pada 20 Feb meningkat 1,8× rata‑rata harian, menandakan partisipasi aktif pembeli/penjual institusional.
Sentimen Pasar Sentimen “bearish” pada sektor batu bara masih menguat, terlihat dari penurunan indeks LQ45 Energy dan komentar analis yang menyoroti risiko regulasi.

5. Prospek Jangka Menengah – Jangka Panjang AADI

5.1. Faktor Fundamental

  1. Pendapatan Batu Bara
    • Penurunan harga batu bara dunia sejak Q4 2025 (rata‑rata USD 70‑75 per ton) menurunkan margin EBITDA AADI.
  2. Diversifikasi Energi
    • AADI telah mengumumkan rencana investasi pada pembangkit listrik berbasis gas (2026‑2029) dan proyek hidrogen hijau (2027). Implementasi proyek ini dapat mengurangi ketergantungan pada batu bara.
  3. Kebijakan Pemerintah
    • Rencana “Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Energi Bersih” dapat memberikan insentif fiskal bagi AADI yang mengalihkan portofolio ke energi terbarukan. Namun, risiko perizinan masih tinggi.

5.2. Analisis Valuasi

  • PER (Price‑Earnings Ratio): Saat ini sekitar 7,5× (lebih rendah dari rata‑rata industri 9,8×) – menandakan saham relatif murah, namun ini juga mencerminkan ekspektasi penurunan profitabilitas.
  • EV/EBITDA: 4,2× – di bawah benchmark regional (≈5,5×), memberikan ruang upside jika margin bisa pulih.
  • DCF (Discounted Cash Flow): Proyeksi cash flow bebas (FCFF) menurun 12 % CAGR 2025‑2027 karena penurunan volume penjualan batu bara, tetapi stabil kembali pada 2028‑2032 dengan asumsi suksesnya transisi menuju gas/hidrogen. Dengan WACC 8,5 % dan terminal growth 2 %, nilai wajar saham berada di kisaran Rp 10.200‑10.800.

5.3. Skenario Harga

Skenario Asumsi Kunci Harga Target 12‑Bulan
Base Case Harga batu bara stabil di USD 70, investasi energi terbarukan 25 % dari total CAPEX Rp 9.800
Bullish Harga batu bara naik ke USD 80, percepatan transisi energi, margin EBITDA naik 2 ppt Rp 10.500
Bearish Harga batu bara turun ke USD 60, regulasi karbon ketat, penurunan produksi 10 % Rp 8.300

6. Rekomendasi Investasi

Investor Rekomendasi Catatan
Investor Institusional (Fund of Funds, Pension Fund) Hold/Reduce posisi yang ada, monitor kebijakan ESG dan progres diversifikasi energi. Jika AADI dapat mengumumkan timeline jelas untuk proyek gas/hidrogen, pertimbangkan penambahan posisi.
Retail / Individual Investor Buy‑on‑dip pada koreksi di bawah Rp 9.200, dengan target jangka menengah Rp 10.400. Tetap perhatikan volume dan news regulasi.
Trader Jangka Pendek Short‑term sell pada penurunan momentum (target Rp 9.000). Gunakan stop‑loss ketat di Rp 9.500 mengingat support teknikal kuat.

7. Kesimpulan

  • Penjualan oleh Triputra Investindo Arya merupakan sinyal bahwa institusi besar mulai mengurangi eksposur pada sektor batu bara di tengah pergolakan harga komoditas dan tekanan ESG.
  • Reaksi harga berupa penurunan 2,36 % pada hari perdagangan selanjutnya mengonfirmasi sensitivitas pasar terhadap aksi jual institusional.
  • Fundamental AADI tetap kuat secara operasional (cadangan batu bara besar), tetapi prospek jangka panjang sangat tergantung pada keberhasilan diversifikasi energi dan adaptasi terhadap kebijakan regulasi karbon.
  • Valuasi menunjukkan ruang upside yang moderat (≈10‑15 %) jika perusahaan berhasil mengeksekusi rencana transisi energi dan memperbaiki margin. Namun, risiko penurunan lebih lanjut tetap tinggi jika harga batu bara terus melemah atau regulasi menjadi lebih ketat.

Investor sebaiknya memantau perkembangan kebijakan energi pemerintah, eksekusi proyek gas/hidrogen AADI, serta sentimen pasar terkait ESG. Langkah selanjutnya—apakah akan ada aksi jual tambahan oleh pemegang institusional lainnya atau justru pembelian kembali (buy‑back) oleh manajemen—akan menjadi penentu arah pergerakan harga AADI dalam 6‑12 bulan ke depan.