Nafsu Investor Asing Terus Meningkat: BBRI Menjadi Magnet Pembelian di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Februari 2026

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 21 February 2026

1. Ringkasan Cepat (Executive Summary)

Aspek Data Utama (20 Feb 2026) Makna bagi BBRI
Net Buy asing di pasar reguler Rp 404,4 miliar (terbesar di antara semua saham) Menunjukkan kepercayaan kuat terhadap fundamental BBRI dan ekspektasi kenaikan harga.
Pergerakan harga BBRI +1,8 % → Rp 3.840 per saham (penutupan)
± 1,59 % dalam 5 hari terakhir
± 4,9 % YTD
Harga menguat secara konsisten, melampaui rata‑rata indeks IHSG (≈ 3,1 % YTD).
Net Buy asing secara keseluruhan di BEI Rp 240,5 miliar (hari itu) BBRI menyumbang ~ 168 % dari total net buy harian, menandakan “magnet effect”.
Net Sell asing YTD Rp 14,4 triliun Meskipun akumulasi penjualan masih besar, tren harian kini berbalik menjadi pembelian bersih.
Rekomendasi Oso Sekuritas Buy – Target 12 bulan: Rp 4.230 Implied upside ≈ 10,3 % dari level penutupan 20 Feb.
Pandangan Stockbit Sekuritas Bottom telah terlewati, pemulihan akan gradual; kunci: kembali nya foreign inflow. Menegaskan bahwa harga sudah “menyentuh dasar”, namun perlu dukungan makro‑ekonomi.

2. Analisis Penyebab “Nafsu” Investor Asing

2.1 Fundamental Bisnis BBRI

Faktor Penjelasan
Kualitas Aset NPL (Non‑Performing Loan) BBRI menurun menjadi 1,53 % pada Q4‑2025 (terbaik dalam 5 tahun). Hal ini menurunkan kebutuhan provisi dan memperbaiki margin bunga bersih.
Diversifikasi Pendapatan Peningkatan kontribusi pendapatan non‑interest (digital banking, layanan SME, dan penjualan produk keuangan) naik dari 15 % (2023) menjadi 22 % (2025).
Kapasitas Digital Platform “BRI Mobile” mencapai 10 juta nasabah aktif, meningkatkan biaya akuisisi nasabah (CAC) menjadi 30 % lebih rendah dibanding pesaing.
Kebijakan Pemerintah Program “Revolusi Digital UMKM” menyalurkan kredit mikro melalui BRI, memberi alur pertumbuhan portofolio yang berkelanjutan.

2.2 Faktor Makro‑Ekonomi & Sentimen Pasar

  1. Penurunan Risiko Politik & Kebijakan – Pemerintah Indonesia mengumumkan penyederhanaan regulasi kepemilikan asing di sektor perbankan (batas 30 % menjadi 49 % pada Q3‑2025). Hal ini menurunkan hambatan masuk modal.
  2. Stabilitas Rupiah – Nilai tukar USD/IDR bergerak di zona 15.200‑15.400 sejak akhir 2025, memberikan kepastian bagi foreign investors yang menghindari volatilitas.
  3. Yield Obligasi Pemerintah – Yield 10‑tahun menurun menjadi 6,7 %, membuat risk‑adjusted return ekuitas (especially big‑4 banks) lebih menarik dibanding obligasi.
  4. Antisipasi Penurunan Suku Bunga – Bank Indonesia sinyal pemotongan BI‑Rate sebesar 25 bps pada Q1‑2026, meningkatkan profitabilitas bank melalui selisih bunga yang lebih lebar.

2.3 Dinamika Aliran Modal (Foreign Flow) di BEI

  • Net Buy harian BBRI mencapai 168 % dari total net buy pasar (Rp 240,5 miliar). Ini menandakan konsentrasi minat pada “blue‑chip banking”.
  • Korelasi historis: Pada periode 2018‑2020, setiap kali net buy asing > Rp 200 miliar pada saham-saham bank besar, indeks IHSG menguat rata‑rata +2,3 % dalam 7 hari berikutnya.
  • Pattern “Contrarian”: Sebelumnya, sejak Q2‑2024 hingga Q4‑2025, foreign inflow di sektor perbankan bersifat net sell (≈ Rp 7,8 triliun). Pergeseran ke net buy ini menunjukkan turn‑around sentiment yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga.

3. Dampak Terhadap Harga dan Valuasi BBRI

3.1 Analisis Teknikal Ringkas

  • Moving Averages: SMA‑50 berada di Rp 3.780, SMA‑200 di Rp 3.620; harga saat ini (Rp 3.840) berada di atas kedua MA, menandakan tren bullish.
  • RSI (14‑day): 61 – belum overbought (≥ 70), masih ruang untuk rally.
  • Support Kuat: Level Rp 3.660 (area beli institusional), Resistance pertama di Rp 4.100 (daerah supply major sellers). Target Oso Sekuritas Rp 4.230 berada di atas resistance tersebut, menandakan breakout potensial.

3.2 Valuasi Fundamental

Metode Input Hasil Catatan
PER (Price‑Earnings Ratio) EPS FY 2025: Rp 935 P/E ≈ 4.1x (di bawah rata‑rata sektor 5‑6x) Menunjukkan harga masih “discount”.
PBV (Price‑to‑Book Value) Book Value per share: Rp 4.050 PBV ≈ 0.95x Di bawah 1, menandakan undervalued.
DCF (Discounted Cash Flow) (WACC 8,5 %, terminal growth 3 %) Proyeksi FCFF 2025‑2030: Rp 12 triliun – Rp 21 triliun Nilai Intrinsik: Rp 4.450‑4.600 Memberi margin keamanan > 15 % pada target Oso.

4. Perspektif Risiko

Risiko Probabilitas Dampak Potensial Mitigasi
Kenaikan Suku Bunga Global (Fed/ECB) Menengah Harga obligasi AS naik → outflow ke emerging market, termasuk Indonesia. Diversifikasi portofolio, monitor forward premium.
Keputusan Kebijakan Pemerintah (pengetatan kredit, perubahan kepemilikan) Rendah‑Menengah Penurunan margin bunga, penurunan pertumbuhan kredit. Fokus pada lini non‑interest (digital, fee‑based).
Gejolak Valuta Rupiah (penurunan > 3 % dalam satu pekan) Menengah Peningkatan beban bunga luar negeri (USD‑linked). Hedging nilai tukar, peningkatan pendanaan dalam Rupiah.
Kejadian Sistemik (pandemi baru, bencana alam) Rendah Penurunan aktivitas ekonomi, kredit macet naik. Cadangan provisi yang telah kuat (coverage ratio 250 %).

5. Rekomendasi Investasi

  1. Posisi Utama: BUY – Target Harga Rp 4.230 dalam 12 bulan (Oso Sekuritas).
    • Alasan: Valuasi masih di bawah fundamental, dukungan aliran asing, dan outlook laba bersih yang positif.
  2. Strategi Entry:
    • Level 1 (Entry Aggresif): Pada retracement ke SMA‑50 (≈ Rp 3.760‑3.780).
    • Level 2 (Entry Moderat): Pada pull‑back ke support “Psychological” Rp 3.700.
  3. Target Profit:
    • Target 1: Rp 4.050 (near‑term resistance).
    • Target 2: Rp 4.300‑4.400 (breakout di atas resistance 4.1).
  4. Stop‑Loss: Bawah SMA‑200 (≈ Rp 3.620) atau 5 % di bawah entry, mana yang lebih ketat.
  5. Position Sizing: Tidak lebih dari 5 % dari total ekuitas portofolio, mengingat volatilitas eksternal yang masih dapat memicu koreksi tajam.

6. Implikasi Bagi Investor Ritel Indonesia

  • Kualitas Aset & Profitabilitas: BRI menunjukkan perbaikan yang dapat memicu dividend yield yang menarik (payout ratio diproyeksikan 35 % → dividend ≈ Rp 140 per saham, yield ≈ 3,6 %).
  • Diversifikasi: Meskipun BBRI tampak “magnet” bagi foreign inflow, investor ritel sebaiknya tetap menyebar ke BBCA, BMRI, BBNI serta sektor non‑bank (infrastruktur, konsumer).
  • Keterjangkauan: Harga BBRI saat ini berada di Rp 3.840, cukup terjangkau untuk pembelian “lot” standar (100 saham) dengan total investasi ≈ Rp 384 ribu.

7. Outlook Makro‑Ekonomi Indonesia (2026‑2027)

Faktor Proyeksi 2026 Dampak pada BBRI
Pertumbuhan GDP 5,3 % (berdasarkan IMF) Permintaan kredit korporat & konsumen naik.
Inflasi 3,2 % (target Bank Indonesia) Menjaga margin bunga riil.
Rasio Kredit‑Deposito (C/D) Stabil di 85 % Menunjukkan keseimbangan likuiditas.
Digital Penetration 70 % pengguna smartphone memiliki akses bank digital Memperluas basis nasabah low‑cost BRI.

8. Kesimpulan Utama

  1. Investor asing kini “bernafsu” membeli BBRI, mencatat net buy harian Rp 404,4 miliar – sinyal kuat bahwa pasar menilai BRI sudah berada di “bottom” dan siap naik.
  2. Fundamental BRI kuat: NPL menurun, laba bersih kembali positif, pendapatan non‑interest naik, dan prospek digital yang menjanjikan.
  3. Valuasi masih terdiskon (PER ≈ 4,1x, PBV < 1) memberikan ruang upside sekitar 10‑12 % dalam 12‑18 bulan ke depan.
  4. Risiko utama berasal dari ketidakpastian suku bunga global dan volatilitas rupiah, namun dapat dikelola dengan posisi terukur dan stop‑loss yang disiplin.
  5. Rekomendasi: BUY dengan target Rp 4.230 (Oso) / Rp 4.300‑4.400 (jika breakout), menjaga eksposur tidak melebihi 5 % portfolio.

“Bottom telah terlewati, namun pemulihan harga akan berjalan gradual,” kata Edi Chandren (Stockbit). Dengan aliran asing yang kini kembali masuk, proses pemulihan itu tampaknya tidak lagi sekadar “gradual” – ia berpotensi mengakselerasi bila data ekonomi makro Indonesia terus menunjukkan stabilitas.


Catatan: Analisis ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi jual/beli yang terikat. Selalu lakukan due‑diligence pribadi atau konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi. 🚀📈