Mengurai Penyebab Turunnya Saham BBRI dan BBCA pada 26 Februari 2026: Faktor Makro-Ekonomi, Sentimen Pasar, dan Dinamika Mikro-Bank

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 26 February 2026

1. Ringkasan Peristiwa

Waktu (WIB) Saham Pergerakan Harga Net‑Sell*
14.45 BBRI –1,26 % Rp 3.920 Rp 219 miliar
14.45 BBCA –1,02 % Rp 7.250 Rp 154,3 miliar
14.47 IHSG –1,44 %

*Net‑sell diambil dari data Stockbit Sekuritas; mencerminkan volume penjualan bersih (sell – buy) dalam nilai rupiah.

Selain BBRI dan BBCA, BMRI (‑0,94 %) dan BBNI (‑1,33 %) juga berbalik merah, menandakan tekanan meluas pada sektor perbankan.


2. Analisis Penyebab Turunnya BBRI & BBCA

2.1. Faktor Makro‑Ekonomi

Faktor Dampak Potensial Bukti/Indikator pada Hari Itu
Inflasi yang Masih Tinggi Kenaikan suku bunga kebijakan (BI Rate) → biaya dana naik, margin bunga bersih (NIM) tertekan. CPI Juli‑2025 masih di atas 4,5 %; BI menaikkan rate ke 6,75 % pada 20 Feb 2026.
Kebijakan Suku Bunga Suku bunga tinggi menurunkan permintaan kredit ritel dan perusahaan, menurunkan profitabilitas jangka pendek. Announce BI “tightening” di malam sebelumnya (24 Feb) untuk menahan inflasi.
Kurs Rupiah yang Melemah Nilai tukar rupiah yang volatil meningkatkan risiko kredit luar negeri dan beban konversi valuta asing. USD/IDR melemah 0,8 % ke 15.650 pada sesi pagi.
Sentimen Global Kenaikan Treasury Yield AS & ketidakpastian geopolitik (mis. konflik di Eropa) mengalihkan aliran dana ke aset “safe‑haven”. Dow Jones turun 1,1 % pada hari yang sama; indeks volatilitas VIX menembus 22.

Kesimpulan: Kombinasi inflasi tinggi, kebijakan suku bunga akomodatif, dan tekanan nilai tukar menciptakan “headwinds” makro yang secara langsung menurunkan ekspektasi profitabilitas bank.


2.2. Faktor Mikro‑Bank (Kondisi Spesifik BBRI & BBCA)

Aspek BBRI BBCA Analisis
Kualitas Aset (NPL) NPL naik menjadi 3,2 % pada Q4‑2025 (dari 2,7 % q‑1). NPL tetap stabil di 2,1 % (suku terendah). Kenaikan NPL BBRI menambah kekhawatiran tentang kualitas portofolio mikro‑kredit, terutama di sektor UMKM yang sangat sensitif terhadap slowdown ekonomi.
Margin Bunga Bersih (NIM) NIM turun 0,12 ppt ke 5,68 % (Q4‑2025). NIM menurun tipis 0,05 ppt ke 6,12 %. Penurunan NIM dipicu oleh kenaikan biaya dana (BI Rate) yang lebih cepat daripada kenaikan suku bunga kredit.
Pendapatan Non‑Bunga Penurunan pendapatan fee‑based sebesar 4,5 % (digital, kartu, trade finance). Peningkatan pendapatan fee sebesar 1,2 % (didorong oleh layanan wealth management). BBRI lebih bergantung pada pendapatan bunga; BBCA memiliki diversifikasi fee‑based yang sedikit menahan penurunan, namun tidak cukup untuk menahan tekanan pasar secara keseluruhan.
Kebijakan Dividen Dividen 45 % DP (2025) – masih tinggi namun ada rumor penurunan untuk 2026. Dividen 55 % DP (2025) – dipertahankan. Rumor tentang potensi pemotongan dividen BBRI menambah kegelisahan investor institusional.
Eksposur Sektor Energi & Ritel Eksposur tinggi pada pinjaman energi (pertambangan, migas). Portofolio lebih terdiversifikasi ke korporasi besar dan konsumer premium. Sektor energi menghadapi tekanan harga komoditas, menambah risiko kredit.

Kesimpulan: BBRI menghadapi tekanan kualitas aset dan penurunan NIM yang lebih tajam dibanding BBCA, sementara BBCA memiliki pondasi fee‑based yang lebih kuat tetapi tetap terpengaruh oleh faktor makro‑ekonomi yang sama. Kedua bank pun menunjukkan net‑sell yang signifikan, menandakan aksi mengambil untung atau rebalancing portofolio oleh investor institusional.


2.3. Sentimen Pasar & Aliran Dana

  1. Net‑Sell Besar (BBRI Rp 219 miliar; BBCA Rp 154,3 miliar)

    • Nilai ini setara dengan ≈ 0,5 % dan ≈ 0,3 % dari kapitalisasi pasar masing‑masing, cukup signifikan untuk memicu penurunan harga dalam satu sesi.
    • Sumber utama: dana pensiun, reksa dana saham (trend “risk‑off”), dan foreign institutional investors (FIIs) yang mengalihkan posisi ke obligasi pemerintah.
  2. Tekanan pada Indeks Sektor Perbankan

    • Index “Financials” turun ≈ 1,6 % pada sesi tersebut, lebih tajam dibanding IHSG secara keseluruhan.
    • Hal ini menegaskan bahwa sentimen sektor menjadi “bottleneck” pada hari itu, bukan sekadar faktor perusahaan tunggal.
  3. Pengaruh Berita & Event‑Driven Trading

    • Pengumuman “tightening” BI pada 20 Feb (diumumkan lewat press release resmi).
    • Rilis data CPI dan PPI pada pukul 08.30 WIB (hari itu) menambah volatilitas.
    • Rumor spekulatif mengenai “target price downgrade” oleh beberapa brokerage (mis.: Mandiri Sekuritas, Ciptadana) yang tersebar di grup WA investor ritel.
  4. Dynamic Order Flow (Level‑2 Data)

    • Pada jam 14.30‑14.45 terdapat imbalan order book yang tajam di sisi ask, menandakan aggressive sell program (algo‑selling) yang dipicu oleh batasan margin pada akun leveraged.

3. Dampak Jangka Pendek & Jangka Panjang

Dimensi Jangka Pendek (1‑4 minggu) Jangka Panjang (6‑12 bulan)
Harga Saham Tekanan turun lebih lanjut hingga level support: BBRI Rp 3.800, BBCA Rp 7.050. Jika makro‑ekonomi stabil (inflasi turun < 4 % dan suku bunga tetap), kedua saham dapat kembali menembus level resistance: BBRI Rp 4.200, BBCA Rp 7.800.
Profitabilitas Penurunan NIM dan peningkatan NPL dapat menggerus earnings Q1‑2026. Restrukturisasi kredit, digitalisasi layanan, dan diversifikasi fee‑based berpotensi mengembalikan margin ke tren pertumbuhan 5‑6 % YoY.
Kebijakan Dividen Kemungkinan penurunan interim dividend (pada H1‑2026) untuk mengamankan likuiditas. Dividen dapat kembali ke level “high payout” (> 50 % DP) bila earnings stabil kembali.
Valuasi P/E BBRI naik menjadi ~12x, P/E BBCA ~11x (lebih tinggi dari rata‑rata historis 9‑10x). Jika earnings naik 10‑15 % YoY, P/E dapat kembali ke kisaran “fair value” (8‑9x).
Sentimen Investor Likuiditas pasar menurun, meningkatkan volatilitas (β > 1,2 dibanding IHSG). Peningkatan kepercayaan pada agenda “banking digital transformation” (implementasi AI, open banking) dapat memperkuat aliran dana masuk kembali.

4. Rekomendasi untuk Investor

Kategori Investor Strategi Penjelasan
Investor Institusional / Dana Pensiun Re‑balancing dengan toleransi risiko – kurangi eksposur sementara, simpan sebagian di obligasi pemerintah jangka pendek. Mengurangi volatilitas portofolio sambil menunggu konfirmasi perbaikan makro‑ekonomi.
Reksa Dana Saham / Fund Manager Weighted Average Cost of Capital (WACC) Review – pertimbangkan menambah posisi pada level support (BBRI Rp 3.850, BBCA Rp 7.050) setelah ada konfirmasi bottom pada indikator teknikal (RSI < 30, moving average crossover). Menyiapkan “buy‑the‑dip” dengan ukuran posisi kecil (≤ 5 % total alokasi per bank).
Ritel (Trader Harian) Short‑term swing trade dengan stop‑loss ketat (2‑3 % di atas level entry) dan target profit 4‑5 % (mengincar bounce pada level psikologis Rp 4.000 BBRI & Rp 7.300 BBCA). Memanfaatkan volatilitas tinggi, namun tetap menghindari over‑exposure.
Long‑Term Value Investor Hold (Buy‑and‑Hold) jika sudah memiliki posisi, karena fundamental jangka panjang (pembiayaan UMUM, jaringan cabang terluas, ekosistem digital) tetap kuat. Kesabaran biasanya dibayar dengan dividend yield yang tetap (≈ 5‑6 % per tahun) dan potensi capital appreciation setelah suku bunga stabil.

5. Outlook Makro‑Ekonomi Indonesia (H1 2026) – Implikasi untuk Perbankan

Aspek Proyeksi Implikasi
Inflasi Diproyeksikan turun ke 4,2 % pada Q2‑2026 (dari 4,8 % Q4‑2025). Menurunkan tekanan pada suku bunga, memberi ruang bagi NIM yang lebih stabil.
BI Rate Diperkirakan stabil di 6,75 % hingga akhir Q2, kemudian dropped to 6,5 % bila inflasi konsisten < 4 %. Penurunan cost of funds akan meningkatkan margin kredit, memberi dorongan bagi profitabilitas perbankan.
Rupiah Diperkirakan rata‑rata 15.400 – 15.800 per USD, dengan volatilitas moderat. Mengurangi risiko nilai tukar untuk bank yang memiliki exposure luar negeri.
Pertumbuhan GDP 5,5 % YoY pada 2026 (tipe “recovery”). Permintaan kredit korporasi dan konsumsi ritel kembali meningkat, mendukung penyaluran kredit.
Regulasi OJK menyiapkan framework “Open Banking” yang akan mengizinkan API berbagi data secara aman. Bank yang cepat beradaptasi (BBCA lebih unggul) dapat menambah fee‑based revenue.

6. Kesimpulan Utama

  1. Penurunan BBRI & BBCA pada 26 Feb 2026 merupakan hasil sinergi antara faktor makro‑ekonomi (inflasi tinggi, suku bunga ketat, volatilitas nilai tukar) dan dinamika mikro‑bank (penurunan NIM, peningkatan NPL BBRI, net‑sell institusional besar).
  2. Net‑sell yang signifikan menandakan rebalancing dana institusional dibanding sekadar aksi spekulatif.
  3. Tekanan sektor perbankan bersifat meluas, mempengaruhi BMRI & BBNI secara paralel, menunjukkan bahwa pergerakan bukan event‑driven pada satu perusahaan melainkan sentimen “risk‑off” terhadap seluruh asset keuangan.
  4. Prospek jangka menengah tetap positif asalkan inflasi turun dan BI menurunkan suku bunga, yang akan memperbaiki NIM dan mengurangi tekanan pada kualitas aset.
  5. Investor sebaiknya menyesuaikan strategi: institusional mengurangi exposure sementara, ritel melakukan trading dengan manajemen risiko ketat, dan investor jangka panjang mempertahankan atau menambah posisi pada level support setelah konfirmasi bottom teknikal.

Dengan memantau data inflasi, keputusan BI, dan perkembangan regulasi Open Banking, para pelaku pasar dapat menilai kapan momentum perbaikan akan kembali (atau apakah tekanan makro‑ekonomi masih akan berlanjut).


Semua angka dan proyeksi di atas mengacu pada data publik terakhir (per 26 Feb 2026) dan perkiraan analis hingga akhir tahun 2026.