IHSG Terbang 7,57% di Tengah Kejutan BI Rate & Sinyal Buyback

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 11 June 2026
IHSG Terbang 7,57% di Tengah Kejutan BI Rate & Sinyal Buyback

Pasar Modal Cetak Sejarah Baru

Jakarta, 9 Juni 2026 — Hari ini menjadi salah satu hari paling bersejarah bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan lonjakan dahsyat sebesar 7,57% ke level 5.746,65, menjadikannya penguatan harian tertinggi kelima sejak era reformasi dan yang terbesar sejak Maret 2020. Total nilai transaksi pun melonjak ke Rp28,01 triliun dengan 678 saham berhasil ditutup di zona hijau.

Aksi beli masif terjadi di hampir seluruh sektor, dipimpin oleh sektor barang baku (+9,97%) dan energi (+9,20%). Sektor perindustrian melonjak 8,55%, transportasi 7,38%, dan sektor keuangan menguat 7,14%. Tak ada satu pun sektor yang ditutup melemah — sebuah fenomena yang sangat jarang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Namun di balik euforia ini, terdapat dua kejutan besar yang mewarnai pergerakan pasar hari ini: sinyal buyback saham BUMN dari DPR RI dan keputusan mengejutkan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal RDG bulanan.


🔥 1. Sinyal Buyback Himbara dari DPR Picu Aksi Borong Saham Bank

Pemicu utama rally hari ini berasal dari pertemuan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dengan jajaran direksi bank Himbara (Mandiri, BRI, BNI, BTN), BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, BPI Danantara, dan Indonesia Investment Authority (INA) di kompleks parlemen. Dalam pertemuan tersebut, Dasco memberikan sinyal kuat bahwa saham-saham perbankan BUMN saat ini berada dalam posisi yang sangat tertekan dan layak untuk dibeli kembali (buyback).

Kinerja fundamental Himbara sendiri memang terbilang solid. Data menunjukkan penyaluran kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) masing-masing tumbuh 20-30%. Sentimen positif ini langsung mendorong aksi borong besar-besaran di sektor perbankan dan BUMN, yang selama sepekan terakhir menjadi sektor paling tertekan.

🏦 2. Kejutan BI Rate: Suku Bunga Acuan Naik ke 5,50%

Di tengah perdagangan, Bank Indonesia mengumumkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis points menjadi 5,50% melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan — sebuah langkah intervensi dadakan yang tidak dijadwalkan dalam kalender RDG bulanan. Ini adalah kenaikan kedua dalam dua bulan berturut-turut setelah bulan lalu BI menaikkan 50 bps dari 4,75% menjadi 5,25%.

Keputusan ini diambil setelah rupiah terus mencetak rekor terlemah sepanjang masa. Kurs rupiah sempat menyentuh Rp18.188 per dolar AS pada penutupan perdagangan sebelumnya — level terendah dalam sejarah — dan cadangan devisa terus turun selama lima bulan berturut-turut akibat intervensi yang masif. Setelah pengumuman BI Rate, rupiah berbalik menguat 0,71% ke Rp18.058, memimpin penguatan mata uang Asia hari ini.

💼 3. Investor Asing Justru Net Sell Rp2,45 Triliun

Fenomena menarik terjadi di tengah lonjakan IHSG: investor asing justru mencatatkan net sell sebesar Rp2,45 triliun di seluruh pasar. Mayoritas aksi jual asing terfokus pada saham-saham perbankan kapitalisasi besar — BBCA (Rp490,5 miliar), BBRI (Rp476,9 miliar), dan BMRI (Rp267,8 miliar) — yang justru menjadi katalis utama sinyal buyback hari ini.

Artinya, momentum rally ini sebagian besar digerakkan oleh investor domestik dan aksi spekulatif jangka pendek, bukan oleh fundamental inflow asing. Hal ini perlu dicermati karena menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap pasar Indonesia masih rapuh, terutama terkait stabilitas rupiah dan arah kebijakan fiskal.

📊 4. Top Gainers & Sektor Pendorong

Saham-saham LQ45 dengan penguatan tertinggi hari ini adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melesat 21,09%, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 19,86%, dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menguat 16,20%. Meski demikian, perlu diingat bahwa IHSG masih terkoreksi -7,24% secara mingguan, yang menunjukkan bahwa rally hari ini lebih bersifat technical rebound dari posisi yang sangat oversold.


📌 Investor Note

  1. Waspada terhadap sustainability rally. Kenaikan 7,57% dalam sehari yang didorong sentimen buyback tanpa diiringi net buy asing perlu diwaspadai. Pantau kelanjutan realisasi buyback oleh Himbara dan pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan sebelum menambah posisi secara agresif.
  2. Sektor perbankan masih menjadi kunci. Dengan BI Rate yang kini di 5,50%, margin bunga bersih (NIM) perbankan berpotensi membaik. Saham-saham bank BUMN dengan PBV yang sudah sangat murah bisa menjadi pilihan untuk jangka menengah, tetapi tunggu konfirmasi aksi korporasi buyback.
  3. Rupiah masih menjadi variabel utama. Keputusan BI menaikkan suku bunga di luar jadwal menunjukkan urgensi yang tinggi. Jika rupiah kembali melemah, tekanan jual bisa kembali terjadi. Pantau level Rp18.000 sebagai support psikologis.

🔗 Sumber:

— Redaksi anci.web.id